Saling Mere(Ri)butkan Klaim Covid-19

Gegar virus Corona makin meroket, korban berjatuhan tanpa kenal ampun. Saat virus yang paling banyak dijadikan buah bibir masyarakat dunia itu naik status sebagai pandemi — wabah yang berjangkit serempak di mana pun hingga menembus batas geografis — saya masih berada di Amsterdam.

Transit sekian hari di tempat Mas Ahmad Karim dan Mas Syafiih Kamil untuk berencana ke Berlin karena keperluan presentasi ilmiah. Tiga bulan sebelumnya riset saya bertajuk Cak Nun, Maiyah, and Fandom: Participatory Culture Perspective diterima dan dibiayai penuh oleh LPDP.

Lima hari pertama di negeri kincir angin saya mengamati perkembangan wabah lewat berselancar di jagat internet. Angka statistik mencitrakan korban berjatuhan yang tiap hari melonjak tanpa ampun. Rujukan saya laman worldometers.info yang rajin memampangkan data teraktual kasus virus Corona.

Model grafik deret statistik di sana memproyeksikan: jumlah keseluruhan korban tiap negara dengan pembagian berapa orang yang sembuh maupun meninggal. Impresi pertama saya waktu mendarasnya tiada lain adalah manusia kini telah direpresentasikan oleh angka dengan penjumlahan dan pengurangan tiap harinya.

Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, pada medio Maret, menuding Eropa telah menjadi pusat wabah global Corona. Hal ini dilihat berdasarkan jumlah infeksi di Eropa melampaui negara-negara di dunia, kecuali Tiongkok, khususnya Wuhan, sebagai wilayah perdana kemunculan virus Corona. Penyebarannya di Eropa dimulai dari Kota Lombardy, Italia. Jamak orang sebelumnya bervakansi ke sana karena pertimbangan cuaca yang relatif hangat ketimbang daerah Eropa lain.

Moda transportasi yang mengoneksikan Uni Eropa membuat mobilitas masyarakatnya begitu cepat dan mudah. Sebagaimana dipaparkan WHO, Covid-19 menyebar pertama kali melalui kontak fisik, baru kemudian ia akan berinkubasi selama 14 hari — beberapa sumber menyebut satu bulan. Menjaga jarak secara fisik ditengarai mampu memutus mata rantai Covid-19. Istilah karantina wilayah (lock down) kemudian viral dan beberapa negara di Eropa memberlakukannya.

Uniknya, saat Perdana Menteri Belanda memerintahkan warganya untuk berada di rumah selama pandemi, sehari menjelang kebijakan itu berlaku sebagian kecil masyarakat datang berduyun-duyun ke kafe. Bukan membeli kopi, melainkan camilan berupa ganja. Saya menyaksikan sendiri saat berada di sekitar Bussumerstraat, sekitar satu kilometer dari Stasiun Hilversum.

Melihat kerumunan itu saya mendekat dan bertanya kepada salah satu orang di antrean. “Ini antrean apa, Bung? Kok cukup panjang,” tanya saya. Dengan wajah sumringah nan penuh harap ia menjawab sedang membeli ganja, sebelum nanti akan sukar mendapatkan barang berharga itu ketika masa karantina wilayah. Tanpa bertanya lebih mendalam kenapa mengonsumsi ganja, saya melanjutkan perjalanan ke selatan kafe selama kurang-lebih lima menitan.

Saya memarkir sepeda di samping Albert Heijn, salah satu supermarket di Belanda, untuk mencari tahu apakah selain ganja, masyarakat juga berbondong-bondong berburu penyanitasi tangan, masker, atau tisu basah seperti halnya di Indonesia. Ternyata waktu itu supermarket tersebut lumayan ramai tapi kebanyakan membeli bahan pokok untuk memasak mandiri di rumah dan (tentunya) tisu toilet.

Tiap bangsa mempunyai ekspresi budayanya tersendiri. Mencuatnya Covid-19 mendorong jamak orang mengekspresikan kekhasannya. Namun, di antara perbedaan atas respons mereka itu terdapat kemiripan: pada kondisi darurat hukum alam berupa siapa cepat ia dapat maupun mengalahkan untuk menang niscaya berlaku. Saya mencatat pola ini selama pandemi menyerang dalam pelbagai ekspresi coraknya.

Selain bentuk ekspresi kekalutan banyak orang di akar rumput, satu pertanyaan menarik dari Mas Kamil — salah seorang pegiat Mafaza (Maiyah Eropa) — adalah apa yang bisa dipelajari tiap orang selama pandemi Covid-19 ini. Ia berangkat dari persoalan transendensi. “Apakah Corona ini makin mendekatkan kita kepada Tuhan atau justru kita abaikan sama sekali.” Kami berbincang cukup lama mengenai persoalan itu, seraya mendiskusikan pula serial tulisan Cak Nun mengenai Covid-19 di Rubrik Khasanah.

Sedemikian teratur negeri Belanda, dari urusan birokrasi hingga transportasi, membuat penanganan pandemi tak perlu dicemaskan. Semua itu, menurut Mas Kamil, merupakan bentuk nyata dari penanganan negara yang berbasis ilmu pengetahuan. Walaupun semaju itu, lanjutnya, tak ada definisi Tuhan di alam pikirannya. Kalaupun ada ia berupa spiritualitas yang mengajarkan lelaku hidup.

Nihilnya konsepsi transenden masyarakat Belanda, menurut Mas Kamil, akan berdampak pada definisi mereka mengenai kebahagiaan. Mereka sesungguhnya hidup secara mekanistis dengan tuntutan kerja dan anak tangga karier. Serba teratur yang disediakan negara tersebut juga setimpal dengan penarikan ongkos pajak dari masyarakat. Liburan sebagai jeda merayakan kebahagiaan versi masyarakat Belanda biasanya ditempuh pada transisi pergantian musim.

Rasionalitas dan empirisisme menjadi basis pikiran mereka, sehingga wajar bila Tuhan, apalagi agama, “disingkirkan” karena tak mampu dinalar. Saya melihat ekspresi mayoritas demikian tumbuh menyebar di masyarakat Eropa. Tak mengherankan jika manakala Covid-19 menyeruak, bukan dogma yang menjadi pijakan penjelasan, melainkan sains sebagai turunan atas sistem sekaligus konsepsi ilmu pengetahuan.

Bentuk respons atas pandemi Corona ternyata juga beragam. Saya mencatat dua hal, setidaknya, dari pihak yang mengklaim sains di satu sisi dan agama di sisi lain sebagai basis argumen. Pada tataran masyarakat umum ternyata keduanya diperdebatkan. Pertama, klaim sains yang dapat menjelaskan Covid-19 dan agama tak perlu ikut campur. Kedua, klaim sekelompok ultra-dogmatis mengajak tak perlu tunduk menghadapi wabah sebab Tuhan lebih berkuasa.

Saya mencoba menggeneralisasi agama apa yang dimaksudkan, tetapi cenderung melihat pertautan pola di antara mereka secara diskursif, khususnya ditandai oleh wacana resistensi mereka terhadap Covid-19. Bahkan Cak Nun sendiri secara implisit menguraikan dalam Khasanah berjudul Antara Tawakkal dan Takabbur segelintir orang yang mengabaikan perbedaan tipis antara tawakal dan takabur maupun antara iman dan sembrono.

Hemat saya bukan masalah sains atau agama, melainkan Covid-19 merupakan entitas yang menarik didekati secara multidimensional. Semua berhak mengulasnya dari perspektif apa pun selama tak mengklaim versinya paling benar. Saya teringat lapisan kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang acap diperbincangkan di Maiyah. Tafsir atas kajian Covid-19, baik dari sudut pandang sains maupun agama, dapat diproyeksikan melalui ketiga lapisan itu.

Bahkan wabah Corona, selama dimunculkan di ruang publik, khususnya digital, selalu diberitakan secara faktual dan natural. Ia diwartakan kalau keberadaannya datang dari lokasi khusus, disebabkan karena konsumsi partikular, ditularkan lewat aktivitas tertentu. Tiap negara pun juga beraneka rupa responsnya: cepat atau lambat tergantung keputusan nasional masing-masing pemerintahnya. Setidaknya itu upaya tiap negara menekan jumlah korban.

Selain melihat pandemi itu sebagai sesuatu yang natural, sebuah sebab-akibat dari keserampangan konsumsi seseorang hingga berdampak petaka, versi lain menyebutkan di belakang skenario internasional. Upaya transnasional dalam melakukan perang massal lewat bioteknologi. Terlepas apa dan siapa penggagasnya, bagaimana bukti tertulis atas perang itu diselidiki, wacana semacam itu menempatkan fenomena sosio-medis Covid-19 sebagai hasil dari konstruksi (rekayasa) sosial.

Di Maiyah, sejauh pengamatan saya, perbedaan versi demikian bukan lantas dipersoalkan, malah justru ditempatkan sebagai objek kajian belajar bersama. Problem Covid-19 tak selinier yang diwartakan. Terdapat jalin-kelindan yang relatif rumit bila dijelajahi secara interdisipliner. Bukan siapa yang benar, melainkan apa yang benar, dan bagaimana kebenaran itu dibentangkan. Saya segendang sepenarian dengan basis ini. Padat, tepat, dan jelas.

Buku Lockdown 309 Tahun