Neteg Nutug

Sejatinya hidup ini adalah pilihan. Memilih hidup sesuka hati, atau hidup sesuai kehendak yang memberi hidup itu sendiri, terserah kita. Setiap pilihan ada resikonya. Ibarat perjalanan, hidup juga tidak selalu mulus. Pasti banyak kerikil tajam dan batu sandungan yang menghadang jalan. Masalah, adalah penghias di sepanjang perjalanan. Makin tinggi pilihan dan cita-cita hidupnya, tentu makin berat juga masalah dan tantangan yang dihadapinya.

Diakui atau tidak, Maiyah — yang terus berusaha kita khidmati selama ini — telah banyak membantu mengurai benang kusut permasalahan di kehidupan yang kita jalani. Maiyah mengantarkan kita kepada dentingan-dentingan nada, kepada hentakan-hentakan ritmis, alunan-alunan melodi, dan penggalan-penggalan bait lagu kehidupan. Maiyah membuat kita menjadi “tatag” untuk menjadi bagian dari sebuah orkestrasi kehidupan yang kompleks dan dinamis.

Hari ini, bisa kita lihat dan rasakan sendiri, betapa Orang Maiyah adalah orang-orang yang berani, percaya diri, kukuh kemauan, dan tidak mengenal ragu-ragu terhadap resiko yang dihadapi. Asalkan tidak membuat Allah marah, apapun akan dihadapi dan dijawab dengan dasar semangat tatag yang sama: Laa Ubali..!

Namun, di zaman yang gelombang godaan duniawinya begitu besar seperti sekarang, memiliki ghirah “tatag” saja tidaklah cukup. Seperti nasihat para winasis terdahulu, kita harus memasang kuda-kuda yang lebih kuat lagi untuk menghadapi segala godaan dan rintangan jalan fastabiqul khairat yang terhampar luas, dengan sikap “teteg”. Teteg bermakna kuat pendirian, tidak mudah goyah. Ibarat barang, teteg adalah barang yang kuat, tidak lapuk terkena hujan dan tidak retak karena terik matahari. Tahan uji, tahan banting. Teteg adalah perjuangan seseorang untuk terus mempertahankan ke-tatag-an yang sudah dimilikinya sejak awal.

Lagi-lagi, bisa kita lihat dan rasakan sendiri hari ini, betapa Orang Maiyah adalah orang-orang yang terus berusaha menikmati ke-teteg-an dalam hidupnya. Tidak hanya sebagai pribadi-pribadi, tapi juga secara komunal. Masyarakat Maiyah adalah entitas “orang-orang yang tumbuh kesadarannya karena kejernihan; bangkit kekuatannya karena kebersamaan; berkumpul bergandengan tangan; lahir dan bangun kembali untuk mengumpulkan kepingan-kepingan; saudara-saudaranya yang ditinggalkan oleh kemajuan.” Masyarakat Maiyah hari ini, adalah kumpulan orang-orang yang neteg atiné, neteg lakuné, neteg uripé.

Tentu semua itu dilakukan demi “tutug”-nya sebuah cita-cita mulia. Tutug berarti sampai pada tujuan; selesai dengan tuntas sesuai harapan. Kata tutug berpijak pada keberhasilan dari sebuah tindakan dan proses panjang. Bait terakhir lagu Padhang Bulan gubahan Mbah Nun menyiratkan optimisme cita-cita tutug itu. “Lihatlah-lihatlah mentari baru; yang terbit dari dalam tekadmu; sesudah senja di ujung duka; nikmatilah mengalirnya cahaya.” Wallahu a’lam.

Buku dan Merchandise