Muqtathofaat Al-Ilmiyah Syaikh Nursamad Kamba

Reboan on the Sky, Finale Session 24 Juni 2020

Seharusnya, Reboan on the Sky edisi 24 Juni 2020 adalah sesi review atas sembilan edisi sebelumnya. Penggiat Kenduri Cinta bersepakat menjadikan Reboan on the Sky minggu keempat bulan Juni ini untuk membahas apa-apa saja yang sudah didapat dalam Maiyahan online mingguan tersebut. Forum Reboan on the Sky ini sebenarnya hanya pengejawantahan salah satu pesan Mbah Nun, bahwa dalam hidup itu ada dua hal: taatatau kreatif. Dengan keterbatasan dan fasilitas yang ada, penggiat Kenduri Cinta mencoba mengkreatifi situasi yang ada agar tetap bisa Sinau Bareng.

Tepat lima hari sebelum Reboan on the Sky edisi ini diselenggarakan, Syaikh Muhammad Nursamad Kamba berpulang. Reboan on the Sky edisi Finale Session ini tentu saja berubah menjadi antiklimaks karena berada dalam suasana tidak siap menyelenggarakannya lantaran suasana duka karena kehilangan salah satu Marja’ Maiyah yang sangat kita takdzimi. Forum yang sedianya akan digunakan sebagai sesi evaluasi dan penataan kembali, harus diubah tema besarnya.

Selama tujuh edisi sebelumnya, almarhum Syaikh Nursamad Kamba turut mengikuti forum Reboan on the Sky ini. Secara khusus pada edisi ketiga, beliau menyampaikan paparan bertajuk Maiyah sebagai Jalan Katarsis di Masa Pandemi, Kajian Tasawuf Psikoterapi. Dalam kesempatan Reboan on the Sky edisi lain, Syaikh Nursamad Kamba hadir sebagai peserta seperti yang lain. Beliau sabar menyimak uraian para narasumber, kemudian menjelang puncak di sesi akhir, giliran beliau dimintai pendapat. Artinya, beliau baru mendapat kesempatan berbicara ketika waktu sudah menjelang tengah malam. Dari sinilah, kita belajar kepada Syaikh Kamba tentang sabar mendengarkan dan menyimak jalannya sebuah diskusi.

Tak jarang, beliau juga terpaksa mendengar gojekan-gojekan teman-teman penggiat Simpul Maiyah yang kadang seakan lupa bahwa dalam forum online ini ada Syaikh Nursamad Kamba.

Tema Reboan on the Sky edisi Finale Session pun diubah, bukan untuk mereview sembilan edisi Reboan sebelumnya, tetapi membahas hikmah-hikmah dan petikan-petikan ilmu dari Syaikh Nursamad Kamba. Fahmi Agustian, Rony K. Pratama, dan Mas Helmi Mustofa didapuk sebagai narasumber yang secara berurutan mengupas khasanah ilmu yang diperoleh dari Syaikh Nursamad Kamba.

Syaikh Nursamad Kamba dan Jalan Maiyah

Fahmi Agustian mempresentasikan paparannya bertajuk “Syaikh Nursamad Kamba dan Jalan Maiyah”. Fahmi mengulas bagaimana Syaikh Kamba menemukan hal-hal prinsip di dalam Maiyah yang ternyata memiliki benang merah yang cukup kuat dengan tasawuf.

Seperti kita ketahui, Syaikh Kamba adalah Marja’ tempat kita bertanya. Dalam buku Kidz Zaman Now Menemukan Kembali Islam, Syaikh Kamba bahkan mengkhususkan membahas Maiyah dalam sebuah bab. Bab itu diberi judul “Maiyah dalam Perspektif Sufisme”. Buku ini bisa dikatakan sebagai Manual Book bagi anak-anak muda yang baru mengenal Maiyah, apalagi bagi mereka yang melakukan pendekatan secara spiritual.

Dalam tulisan “Maiyah dan Jalan Sunyi”, Syaikh Kamba menemukan fakta bahwa Maiyah sarat akan poin-poin pencerahan dan mengajarkan kecintaan pada Allah dengan meneladani Kanjeng Nabi. Apa yang ditemukan oleh Syaikh Kamba ini secara sadar kita alami bersama di Maiyahan. Ibaratnya, Syaikh Kamba melegitimasi pengalaman kita semua untuk menjadi sebuah teori tekstual tentang bagaimana Maiyah dijelaskan dalam tinjauan akademis.

Pada suatu kesempatan di Maiyahan, Syaikh Kamba pernah menjelaskan sudut pandang sufisme mengenai peristiwa di Gua Tsur yang kemudian menjadi asbabun nuzul firman Allah dalam surat At-Taubah ayat ke-40; Laa takhof wa laa tahzan, innallaha ma’anaa.Saat itu, Rasulullah Saw bersama Abu Bakar dikejar-kejar kaum kafir Quraisy, yang kemudian memaksa Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur.

Yang dikhawatirkan Abu Bakar saat itu, dalam pandangan sufisme menurut Syaikh Kamba adalah jangan sampai Rasulullah Saw terluka karena diserang orang-orang kafir Quraisy. Pasalnya, yang akan menerima akibatnya adalah seluruh ummat manusia, karena yang disakiti adalah kekasih Allah. Menurut Syaikh Kamba, saat itu seakaan-akan Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Saw; “Saya bersedih jika kemudian orang-orang itu mencederaimu, wahai Rasulullah, mereka tertimpa adzab yang tak berkesudahan”. Maka kemudian Rasulullah Saw mengingatkan Abu Bakar, “Allah bersama kita”.

Hal yang sama juga dilakukan Malaikat Jibril, ketika pada masa berdakwah di Mekkah, Rasulullah Saw selalu mendapat serangan dari orang-orang kafir Quraisy. Malaikat Jibril menawarkan diri mengangkat Bukit Qubais untuk ditimpakan kepada mereka yang menyerang Rasulullah Saw itu. Tetapi, Rasulullah Saw kemudian merespons, “Oh, jangan, karena aku berharap mereka melahirkan anak-cucu keturunan yang mampu memahami misi ini dan menjadi pejuang yang melanjutkannya”.

Syaikh Kamba kemudian menemukan kembali konteks hijrah Rasulullah Saw ke Madinah dengan apa yang kita alami di Maiyah. Menurut Syaikh Kamba, hijrah di Maiyah adalah proses fundamental. Tentu bukan hijrah seperti yang kita kenal di media sosial akhir-akhir ini dengan beragam komunitasnya. Bukan, bukan itu. Bagi Syaikh Kamba, hijrah adalah peristiwa yang merupakan tonggak transisional dalam metodologi pendekatan dakwah yang digunakan Rasulullah Saw.

Dalam kurun waktu 10 tahun di Madinah, Rasulullah Saw berhasil membangun sebuah peradaban masyarakat yang mampu merangkul semua kalangan yang ada saat itu, padahal ummat Islam yang datang ke Madinah saat itu minoritas. Tetapi kemudian Rasulullah Saw dengan Piagam Madinah yang sangat revolusioner berhasil membangun Madinah sebagai kota yang terlahir kembali dengan peradaban yang baru dengan mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan mulia.

Dalam konteks Jalan Sunyi Maiyah, Syaikh Kamba pun memiliki perspektif sendiri. Menurut Syaikh Kamba memilih ber-Maiyah dalam situasi peradaban zaman seperti sekarang ini adalah sebuah peristiwa menakjubkan, sebuah pilihan yang tidak mudah. Dalam buku Kidz Zaman Now Menemukan Kembali Islam, dikutip oleh Fahmi, Syaikh Kamba mengungkapkan bahwa Jalan Sunyi adalah kebutuhan dari setiap orang yang bersentuhan dengan Maiyah. Ditekankan oleh Syaikh Kamba bahwa itu terjadi dikarenakan manusia membutuhkan suasana hening, suasana sunyi. Kita pasti akrab dengan salah satu quote inspiratif dari Mbah Nun: “Hanya sunyi yang mengajari kita untuk tak mendua”.

Dalam buku itu, Syaikh Kamba mengungkapkan bahwa bisa saja kegaduhan yang terjadi saat ini muncul karena kurangnya manusia melakukan kontemplasi atau tidak terbiasa berdialog dengan dirinya sendiri dalam keadaan sunyi. Bagi Syaikh Kamba, agama adalah hening. Dalam suasana hening, akan terjadi dialog batin, pada saat inilah manusia dapat mendengarkan firman-firman Allah. Hal ini menjadi sangat relevan ketika Mbah Nun sering mengingatkan kita untuk melatih diri kita agar mampu membaca ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan.

Maiyah menawarkan metodologi beragama?

Narasumber kedua, Rony K. Pratama, mengambil topic mengenai jejak pemikiran Syaikh Nursamad Kamba. Dalam pengamatan Rony, Syaikh Kamba memiliki pandangan bahwa praktik beragama di Indonesia terlalu formalistik. Terlalu banyak otoritas lembaga yang justru mempersulit orang untuk mengenal kesejatian Islam itu sendiri.

Kita semua sudah hapal bagaimana Syaikh Kamba menemukan lima prinsip nilai Jalan Kenabian di dalam Maiyah. Apakah itu berarti bahwa hanya Maiyah yang memiliki lima prinsip tersebut? Tentu saja tidak. Mbah Nun juga menekankan pada Tajuk “Syaikh Qaryatul ‘Ilmi” bahwa apa yang ditemukan Syaikh Kamba bukan merupakan klaim bahwa Maiyah adalah sirath an-Nubuwah sedang yang lain bukan atau tidak.

Tentu saja, penemuan Syaikh Kamba di Maiyah ini sangat serius.

Segitiga Cinta di Maiyah yang diperkenalkan Mbah Nun disimpulkan oleh Syaikh Kamba sebagai solusi atas segala pelbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Sinau Bareng di Maiyah berbasis forum yang egaliter, komunal, dan kultural.

Rony menjelaskan, hasil analisis Syaikh Kamba dalam melihat praktik beragama di Indonesia adalah adanya kecenderungan untuk tidak mampu melepaskan dualisme pemikiran: madzhab tradisional dan madzhab kontekstual. Madzhab tradisional adalah madzhab yang berdiri untuk meneguhkan keasilan pengetahuan agama yang membasiskan pada ketentuan teks, sedangkan madzhab kontekstual cenderung dinamis yang dengan penyesuaian teks terhadap kondisi relevan hari ini yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Bagi Syaikh Kamba, kondisi itu adalah kondisi pertentangan antara orisinalitas dan rasionalitas.

Rony mengutip penjelasan Syaikh Kamba pada satu kesempatan, “Pendekatan apa saja tetaplah sampai pada kesimpulan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan tiga cara; melalui panca indera, melalui akal, dan melalui intuisi hati”. Menurut Rony, Syaikh Kamba melihat teks bukan sebagai cara melainkan sumber. Itulah mengapa Syaikh Kamba lebih menitikberatkan pada penggunaan akal sebagai poros utama pengetahuan.

Rony melanjutkan, Syaikh Kamba tidak setuju dengan asumsi liberalisme dalam pemikiran agama saat ini sebagai sesuatu hal yang baru. Menurut Syaikh Kamba, paradigma pemikiran tersebut sudah lazim digunakan sejak awal abad ke-3 hijriah. Syaikh Kamba menyampaikan bahwa penjelasan mengenai kebebasan dalam pemikiran agama sudah terurai dalam kitab Al ‘aql wa Fahm Al Qur`ankarya al Hârits ibn Asad al Muhâsibî. Akibat klaim dari orang-orang yang mengaku dirinya liberal, tidak dapat dihindarkan perdebatan dan perbedaan yang kemudian dianggap sebagai dampak dari sekularisasi yang sering dipermasalahkan sebagian umat Islam sendiri, khususnya mereka yang berada dalam kelompok puritan.

Satu hal yang juga menarik yang diungkapkan oleh Rony adalah bagaimana Syaikh Kamba menemukan makna dari laa ilaaha illaLlah bukan seperti pandangan umum; Tiada Tuhan selain Allah. Bagi Syaikh Kamba, penerjemahan tersebut problematis karena secara tidak langsung melegitimasi kehadiran “Tuhan selain Allah”. Syaikh Kamba melihat bahwa makna yang sesuai adalah “Hanya Allah Tuhan satu-satunya”. Inilah yang disebut oleh Syaikh Kamba sebagai rasionalitas tauhid yang paripurna. Penerjemahan kalimat memang harus mengikuti tata bahasa secara ketat. Dengan penerjemahan menjadi “hanya Allah Tuhan satu-satunya” menandakan bahwa di luar Dia bukanlah Tuhan.

Alternatif bertarekat menurut Syaikh Nursamad Kamba

Dengan presentasi berjudul “Alterantif Bertarekat Menurut Syaikh Nursamad Kamba”, Mas Helmi Mustofa mengajak teman-teman memotret genuinisitas Syaikh Kamba dalam merekonstruksi dan membangun suatu gagasan alternatif mengenai bertarekat, yang kemudian disebut Syaikh Kamba sebagai Tarekat Virtual. Oleh Mas Helmi, gagasan Syaikh Kamba ini kemudian dikaitkan dengan konteks pengamatan para sarjana antropologi Islam atas fenomena kontemporer umat Islam baik di Indonesia maupun dunia. Salah satu pertanyaannya di situ adalah apakah gagasan dan sosok Syaikh Kamba telah terpotret dengan baik oleh para sarjana?

Dalam pandangan Mas Helmi, belum banyak—untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali—yang mencermati gagasan dan kerja Syaikh Kamba dalam konteks tasawuf di Indonesia. Kebanyakan kajian atau pengamatan terarahkan pada fenomena-fenomena yang oleh sebagian antropolog disebut sebagai repackaging Sufism, yakni mengemas kembali hal-hal dari tasawuf dengan disesuaikan dengan budaya modern, misal dengan dihadirkan dalam bentuk kelas-kelas tasawuf berbayar di hotel-hotel dengan peserta dari kelas menengah perkotaan. Satu perkembangan yang berjalan seiring dengan gejala komodifikasi agama.

Alih-alih masuk ke dalam repackaging Sufism, Syaikh Kamba justru melakukan langkah yang tidak biasa: menggali dan merekonstruksi khasanah-khasanah tasawuf untuk menjadi suatu tawaran yang memberikan kemudahan teknis bertarekat. Tawaran tasawuf/tarekat yang mendorong setiap orang bisa bertarekat tanpa harus merasa canggung karena mungkin selama ini enggan bertarekat hanya karena tidak percaya diri bergabung ke dalam komunitas tarekat yang sudah terlembaga atau mungkin tidak cukup punya waktu.

Di sinilah letak nilai penting tarekat virtual secara sosiologis dan kultural, di mana kata ‘virtual’ di situ merujuk pada pengertian berguru secara jarak jauh baik secara waktu maupun ruang. Atau keberguruan diam-diam kepada guru/mursyid yang sudah dikenalnya dan hidup di masa yang sama, sering bertemu, tetapi tak ada akad formal berguru. Yang ada adalah sifat cair, informal, dan tidak kaku. Majelis ilmu Maiyah seperti Kenduri Cinta yang berlangsung di ibukota adalah salah satu ujud tarekat virtual yang diikuti banyak orang-orang muda kota/urban tetapi dengan cara transformasi ketasawufan yang tidak seperti dalam repackaging Sufism, bahkan secara resmi pun tidak menyebut forum sufisme, tetapi jika ditilik dalam perspektif dasar tasawuf sebagaimana diformulasikan Syaikh Kamba dengan terminologi tarekat virtual, forum Maiyah seperti Kenduri Cinta memiliki unsur-unsur yang lazim ada di dalam kebertarekatan.

Lebih detail tentang bagaimana Mas Helmi mengkaji gagasan tarekat virtual ini, teman-teman bisa membaca pdf paper mas Helmi berjudul “Tarekat Virtual: Gagasan Alternatif Bertarekat Muhammad Nursamad Kamba” yang dimuat dalam Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dishare lewat tulisan di rubric Asepi berjudul “Alternatif Bertarekat Menurut Syaikh Kamba”.

Akhir 2018, Mas Helmi mempresentasikan paper tersebut dalam acara Graduate Forum yang diselenggarakan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga . Apa yang disampaikan Mas Helmi dalam Reboan on the Sky tersebut juga presentasi atas paper tersebut. Yang menarik adalah bahwa untuk ini Mas Helmi melakukan penelitian agak mendalam dengan melakukan interview kepada Syaikh Kamba dan beberapa orang terkait. Salah satu pendapat yang dibangun oleh Mas Helmi adalah di tengah-tengah berlangsung repackaging Sufism, Syaikh Kamba—yang sebenarnya memiliki kompetensi keilmuan dalam bidang tasawuf sehingga bisa saja melakukan repackaging Sufism– justru mengimplemetasikan rekonstruksi tasawufnya dengan mendirikan program studi Tasawuf Psikoterapi (dan ini merupakan yang pertama kali di Indonesia) di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 1997.

Memberikan ilustrasi tentang jalan yang ditempuh Syaikh Kamba ini, Mas Helmi menyebut mendirikan Prodi baru tersebut adalah jihad, perjuangan, dan jalan sunyi Syaikh Kamba. Beliau melakukan perjuangan intelektual akademis yang mensyaratkan banyak hal. Satu di antaranya adalah meyakinkan semua stakeholder di Departemen Agama atau Kementerian Agama bahwa memang Prodi ini layak berdiri karena memiliki basis paradigma keilmuan yang kokoh untuk bisa berdiri sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri maupun memiliki proyeksi praktis sebagai suatu kecakapan atau skill yang bisa digunakan dalam dunia profesional oleh setiap lulusannya. Ini perjuangan yang tidak mudah dan membutuhkan kegigihan. Mas Helmi mengisahkan cerita Syaikh Kamba bahwa untuk meyakinkan para stakeholder itu bisa dikatakan Syaikh harus berdebat dengan banyak ahli atau akademisi yang terkait dengan disiplin tasawuf dan psikologi di lingkungan Depag, dan Syaikh bisa melewati tahapan itu.

Apa yang dilakukan Mas Helmi dengan penelitian ini sebenarnya perlu menginspirasi kita, karena lewat penelitian sejumlah informasi baru bisa didapatkan. Tentang hal ini menarik bahwa Mas Irfan Muhammad, putra Syaikh Kamba, yang mengikuti Reboan on the Sky malam itu, mengatakan bahwa dari presentasi Mas Helmi dia sendiri baru tahu secara agak lebih dekat perjuangan Ayahandanya dalam mendirikan Prodi tersebut. Merespons Mas Helmi yang dalam prrsentasi itu memberikan contoh sejumlah nama matakuliah di Prodi Tasawuf Psikoterapi itu, Mas Irfan mengatakan, “Betul, itu Buya banget.” Mas Irfan mengatakan walaupun sering ngobrol dengan Ayahanda di dalam mobil saat bepergian bersama, tetapi Syaikh Kamba jarang menceritakan perjuangan yang dilakukannya. Menyimak presentasi para narasumber, Mas Irfan dapat mengenal lebih multisisi bagaimana Ayahandanya dikenang jasa, kontribusi, dan jihadnya dalam dunia akademis maupun dalam konteks posisi penting beliau di dalam komunitas dan pergerakan Maiyah.

Lewat presentasinya, Mas Helmi yang telah melakukan penelitian atas salah satu gugus pemikiran tasawuf Syaikh Kamba itu menyetujui apa yang dikatakan Pak Ian L. Betts dalam tulisan mengenang Syaikh Kamba berjudul “Farewell to a Great Teacher, Thinker, and Friend…” bahwa Syaikh Kamba bukan hanya great thinker, tetapi juga great refiner. Bukan hanya pemikir besar, tetapi juga pemroses/pengolah yang andal. Gagasan Tarekat Virtual, pemikiran-pemikiran lain dalam konteks tasawuf dan peradaban Islam, maupun formulasi lima Jalan Kenabian yang dikemukakan Syaikh Kamba untuk Jamaah Maiyah adalah contoh yang mengafirmasi apa yang dikatakan Pak Ian L. Betts tersebut tentang sosok Syaikh Kamba.

Kita semua kehilangan Syaikh Nursamad Kamba

Mas Sabrang juga bergabung dalam forum Reboan on the Sky kali ini. Ia mengungkapkan bahwa Syaikh Nursamad Kamba adalah tempat rujukan baginya untuk bertanya mengenai agama. Mas Sabrang mengakui banyak pertanyaan mengenai agama yang hanya berani ditanyakannya kepada Syaikh Nursamad Kamba. Persentuhannya yang cukup lama dengan Matematika membuat cara berpikir Mas Sabrang terkesan dingin, tidak ada optimisme atau pesimisme, yang kemudian melahirkan paradoks dalam memahami agama.

Suatu ketika di Padhangmbulan, Mas Sabrang pernah melontarkan suatu pertanyaan kepada Syaikh Nursamad Kamba, yang kemudian respons Syaikh Kamba adalah Mas Sabrang diajak masuk kamar di rumah Menturo, dan secara empat mata Syaikh Kamba merespons pertanyaan tersebut. Syaikh Kamba khawatir jika penjelasan tersebut didengar oleh orang yang belum siap mendengarkan.

Jurusan Tasawuf Psikoterapi di UIN Bandung diakui oleh Mas Sabrang sebagai gagasan yang jitu dari seorang Syaikh Nursamad Kamba. Karena fungsi utilitarian dari agama yang paling terlihat adalah fungsi psikologis untuk kestabilan manusianya. “Nomor satu di dalam agama adalah menata psikologis manusianya terlebih dahulu”. Bagi Mas Sabrang, wafatnya Syaikh Nursamad Kamba adalah hilangnya sosok yang dijadikan referensi untuk bertanya sebebas-bebasnya dan seliar-liarnya tentang agama.

Menurut Mas Sabrang, yang dilakukan oleh Syaikh Nursamad Kamba adalah menghilangkan dogma sama sekali ketika berdiskusi mengenai agama. Dengan cara demikian, Mas Sabrang menemukan galih yang bersih dari penjelasan Syaikh Kamba dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Sementara itu bagi dan dalam pengalaman pribadi Yai Toto Rahardjo, Syaikh Nursamad Kamba adalah orang yang melegitimasi pemahamannya mengenai Islam. Syaikh Kamba membantunya memahami Islam. Ketika berkesempatan Umroh bersama KiaiKanjeng, Mbah Nun secara khusus meminta Syaikh Nursamad Kamba mencarikan seorang guru untuk Yai Toto Raharjo. Dibesarkan dalam lingkungan abangan, Yai Tohar tidak begitu familiar dengan Islam sejak kecil. Ketika bertemu dengan seorang guru yang direkomendasikan oleh Syaikh Kamba, Yai Tohar mengungkapkan bahwa justru di situlah “Umroh” yang sesungguhnya baginya, karena pada saat itu Yai Tohar menemukan fakta informasi bagaimana Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah dengan segala dinamikanya.

Satu hal yang diingatnya dari Syaikh Kamba adalah agama seharusnya mempermudah, bukan mempersulit. Sementara dalam beberapa tahun terakhir yang kita alami di Indonesia justru agama dihadirkan dalam konsepsi yang mempersulit, akibat dogma yang dipaksakan. Belum lagi ketika agama bersentuhan dengan politik, semakin rumit saja kehidupan beragama di Indonesia ini.

Hal lain yang juga dicatat Yai Tohar tentang Syaikh Nursamad Kamba adalah bahwa beliau tidak canggung meski harus bergaul dengan anak-anak muda. Hal ini juga yang menjadikan Syaikh Nursamad Kamba bagaikan gayung bersambut di Maiyah. Yai Tohar mengungkapkan, setelah kepergian Syaikh Nursamad Kamba yang harus dilakukan bersama adalah menggali lebih dalam lagi ilmu-ilmu yang sudah disampaikan Syaikh Nursamad Kamba. Yai Tohar mengusulkan agar ketika buku “Mencintai Allah Secara Merdeka” nanti terbit dibuatkan sebuah acara bedah buku dalam format yang bagus. (Red/Kenduri Cinta).

Buku dan Merchandise