Mukadimah Paseban Majapahit Edisi Maret 2020

Mimpi(N)

Yang akan kita tadabburi kali ini, mungkin bukan hal besar dalam hidup. Hal biasa saja, yang semua orang pernah mengalaminya. Ya..! Siapa sih yang nggak pernah “mimpi” saat tidur? Banyak sumber yang mengatakan, setiap orang pasti pernah bermimpi. Bahkan bisa bermimpi beberapa kali dalam tidurnya, lalu lupa setelah bangun.

Ada yang bilang, mimpi itu hanya kembangé turu (bunga tidur) saja. Tapi banyak juga yang bilang kalau mimpi adalah sebuah fantasi; luapan kecemasan; isyarat; simbol; atau firasat yang sarat makna. Secara umum, Islam mengajarkan bahwa mimpi terbagi tiga macam: bisikan hati (mimpi biasa), gangguan setan (mimpi buruk), dan kabar gembira dari Allah Swt (mimpi baik). Mimpi perlu disikapi dengan hati-hati. Tidak boleh gegabah diceritakan atau ditakwilkan.

Tetapi, bukan tentang itu semua yang akan dielaborasi malam ini. Tema rutinan malam ini akan berpijak pada satu kenyataan, bahwa seringkali hal-hal besar yang berhasil diraih seseorang dalam hidupnya, awalnya hanyalah sebuah mimpi belaka. Mimpi kecil yang awalnya terkesan mustahil, tapi akhirnya benar-benar bisa terwujud.

Salah satu mimpi kita semua sebagai khalifah-Nya, adalah menjadi seorang yang bisa memimpin (Jawa: “mimpin”). Dari tataran paling pribadi, Islam mengajarkan untuk memimpin hawa nafsu dalam dirinya sendiri, agar bisa untuk diajak taat kepada Allah. Dalam konsep yang lebih luas, Islam juga mengajarkan kita untuk bisa memimpin keluarga, lingkungan, masyarakat, atau bangsa. Bahkan, diharapkan bisa memimpin sesama makhluk-Nya yang ada di muka bumi ini. Bukan “mimpin” hanya demi menguasai yang lain, tetapi mimpin untuk mengolah keselamatan dan rahmat yang telah dianugerahkan Allah, agar bisa menjadi kebermanfaatan dan keberkahan bagi seluruh alam.

Terkhusus bagi perjalanan Paseban Majapahit beberapa bulan ke depan, konteksnya adalah mewujudkan mimpi kecil yang sudah terbersit sejak beberapa tahun silam. Mimpi bisa mimpin dulur-dulur dan simpul Maiyah lainnya, untuk meluapkan kegembiraan dan rasa syukur bersama Mbah Nun dan Kiai Kanjeng dalam miladnya.

Rutinan edisi ke-36 di bulan Maret kali ini, menjadi sarana merajut tali silaturahmi dan membangun sinergi dengan segenap elemen masyarakat di Desa Kutorejo, yang berkenan menjadi tuan rumah digelarnya Milad ke-3 nantinya. Apa saja yang harus disiapkan, bagaimana cara menyiapkannya, dan siapa-siapa saja koordinatornya, adalah bagian penting yang mesti dibicarakan bersama sebagai sebuah keluarga. Menjadi bukti tatag-nya niat dan teteg-nya tekad, demi tutug-nya keinginan bersama. Mimpi kecil yang semoga bisa terwujud atas perkenan-Nya. Amiin.

Buku dan Merchandise