Mbah Nun Mengingatkan Apa yang Dilupakan Orang

Setelah membaca tulisan Mbah Nun “Maddu-na Darra Madura” beberapa hari yang lalu, saya diantarkan sebagaimana dalam ideologi perjalanan KiaiKanjeng yaitu: menjunjung apa yang diremehkan orang, menggali apa yang dikubur orang, mengingat apa yang dilupakan orang. Dalam tulisan tersebut, Mbah Nun mengantarkan saya pada ingatan saya pada sepenggal kisah dialog saya dengan ibu sewaktu dulu saya masih kelas dua SD. Kisah yang saya ingat bermula ketika saya pulang bermain dengan membawa sebuah kue pemberian ibu teman saya — yang seharian menjadi tempat saya bermain. Oleh sebab ibu itu merasa nyaman atas kehadiran saya maka sering saya diberi jajan untuk dimakan dan jika sisa bisa dibawa pulang.

Nah, kebetulan waktu itu saya berinisiatif membawa pulang kue pemberian itu dengan harapan supaya ibu senang. Sesampai di rumah dengan senang hati saya menyodorkan kue itu disertai keterangan bahwa kue itu dikasih ibu teman akrab saya. Tapi waktu itu ibu saya tak langsung menerimanya, melainkan melemparkan pertanyaan ke saya. Ibu menanyakan apakah benar kue itu hasil diberi atau jangan-jangan kue itu hasil saya meminta. Pertanyaan itu terus diulangi, setelah kesekian kali saya menjawab dengan polos bahwa kue itu benar-benar diberi. Bahkan ibu saya seperti mengancam bahwa awas jika ibu menyaksikan sendiri saya meminta sesuatu ke orang lain dengan dasar keinginan supaya diberi.

Waktu itu saya menilai kenapa ibu saya bisa securiga itu. Saya baru menyadari maksud mulia di balik pertanyaan itu setelah ibu menjelaskan maksud pertanyaannya. Ibu saya — yang mengalir darah gen Madura dalam dirinya, menjelaskan bahwa dalam keluarganya ibu tak ingin jika anggota keluarganya mempunyai watak pengemis. Ibu mempertegas suara dan ideologinya, meskipun kita anak orang ‘tak punya’ tapi haram hukumnya kita meminta-minta kepada siapapun kecuali kepada Allah.

Meskipun kita kepingin kayak apapun kita tak boleh meminta, bahkan tak boleh memancarkan raut wajah yang mengundang belas kasihan orang lain. Pernyataan ibu saya itu saya ingat-ingat betul sampai sekarang. Tercermin watak bangsa Madura yang dalam tulisannya, Mbah Nun menilai bahwa karakter yang sangat kuat pertahanan-keperawanannya dalam diri bangsa Madura. Dari karakter yang sama juga — menjadi cuaca yang membentuk saya tumbuh seperti ini.

Bahkan terkadang ketika kondisi dompet lagi kosong — untuk nge-bon makan di warung saja, saya merasa pakewuh mengungkapkan maksud nge-bon makanan ke pemilik warung. Tapi alhamdulillah-nya sebelum saya mengutarakan maksud, ibu pemilik warung sudah paham maksud saya dan tak lama kemudian menyodorkan makanan ke saya disertai kalimat, “sudah bayarnya sabtu saja kalau pas bayaran”. Tentu saya melanggar ideologi keluarga pada poin yang terakhir, bahwa tak boleh memancarkan wajah yang mengundang belas kasihan orang. Tapi mau gimana lagi, kata orang hidup di perantauan keras, gak wani ngadepi beboyo, yo gak mangan. Gak wani atau berani itu bisa berarti berani kerja, tapi saya terjemahkan gak berani mengungkapkan maksud, ya gak bisa nge-bon makanan di warung. Hehehehe. Maafkan anakmu ini, Bu. Madu pemberianmu sedikit tumpah oleh kekurangseimbangan saya dalam me-manage kebutuhan hidup sehari-hari.

Menariknya, dalam tulisan Mbah Nun tersebut menegaskan kembali ingatan yang mulai kita lupakan bahwa perlunya menjaga Maddu-na Darra (madunya perawan) Madura dalam arti yang substansif. Mbah Nun mendorong lahir dan tumbuh kembang embrio simpul Maiyah: Jhembar Ate, Paddhang Ate, serta Damar Ate — sebagai generasi baru bangsa Madura untuk menegakkan martabat “ètèmbëng potè mata ango`an potè tõlang (daripada hidup menanggung perasaan malu, lebih baik mati berkalang tanah)” — dari segala bentuk rayuan Dampo Abang zaman modern yang menawarkan tipu daya dan penjajahan.

Tentu memang berat menjaga martabat dari kepungan segala bentuk penjajahan. Tapi alangkah lebih berat dan menyakitkan hati, jika anak-cucu kita yang merasakan kesengsaraan hasil dari ketidakpedulian kita untuk mempertahankan martabat bangsa.

Ibu-bapak, sanak-saudara, atau tetangga kita di perantauan saja mau nguli bangunan, tukang parkir kendaraan, tukang tambal ban, jualan sate atau gorengan yang segala perlengkapannya di-sunggi untuk dijajakan mengelilingi gang-gang, jual barang rongsokan, servis segala macam barang elektronik, jual besi tua, jual sayur semalaman meskipun tak jarang di-obrak pihak keamanan. Semua pekerjaan yang halal akan kami lakukan, demi tegakknya martabat kita untuk berusaha menghidupi diri kita sendiri — untuk tidak mengemis kepada orang lain maupun pemerintah.

Sekarang kita tanyakan kepada diri kita sebagai generasi baru bangsa Madura: berbekal segala yang kita dapatkan dari Maiyah, bersiapkah kita potè tõlang (putih tulang, berjuang) untuk menjaga Maddu-na Darra Madura kita? Sebab kalau bukan kita siapa lagi yang diamanati Mbah Nun menjaga Maddu-na Darra Madura?

Berbekal usaha totalitas hidup yang meniru Rasulullah, kita tegaskan sepenuh hati kepada Allah bahwa asal Maddu-na Darra Madura tetap ada Gusti, la ubali atau gak patheken terhadap segala bentuk penderitaan dan kesengsaraan hidup yang kami tanggung sementara demi tegaknya potè tõlang (putih tulang perjuangan kita menjaga martabat).

Dari Madura, kita terus bermaiyah: bersholawat,wirid dan sinau bareng — yang menjadi Damar Ate (penerang hati) supaya Jhembar Ate (lapang hati) menghadapi segala bentuk kompleksitas zaman, sehingga lulus menjadi manusia yang Paddhang Ate (terangnya hati) — yang juga menjadi terangnya kehidupan kita di masa depan.

Sampang-Surabaya, 21 Oktober 2020

Lainnya

Kita Bersalah Hingga Allah Merajuk

Tersinggung

Orang Lain

Tak Berani Menjabat

Buku dan Merchandise