Maddu-na Darra Madura

Talango, Sumenep, Madura, 26 Agustus 2019. Foto: Adin (Dok. Progress)

Atas lahir dan berseminya bayi Maiyah Padhdhang Ate, Damar Ate, dan Jhembhar Ate di pulau Madura tercinta, saya wajib menyongsongnya dengan maksimalnya rasa syukur, indahnya kegembiraan, serta optimisme atas semburatnya harapan di ufuk timur kehidupan dan sejarah kita.

Salah satu wacana tentang asal-usul kata Madura antara lain adalah kisah perawan-perawan Pulau itu yang dipersunting oleh Dampo Abang (Joko Thole) dari Negeri belahan bumi Utara namun tidak berhasil disentuh olehnya. Sehingga madu perawan-perawan Madura itu masih murni, asli dan sejati. Maddu-na Darra.

Selama puluhan tahun mengalami Madura dalam sejarah hidup saya, masyarakat pelarian Melayu di Pulau Kawah Candradimuka ini, saya menemukan bahwa masyarakat Madura memiliki DNA (“hamdhun”, bukan “hamdun”) yang melahirkan karakter yang sangat kuat pertahanan-keperawanannya. Bangsa Madura sangat kuat secara bahasa, budaya, aqidah dan pilihan-pilihan peradaban hidup lainnya.

Interaksi yang saya alami bertahun-tahun dengan Jam’iyatul Ulama Madura “BASHRAH” sangat mencerminkan hipotesis dan keyakinan antrolopogis saya itu. Maka pertanyaan paling utama yang harus dijawab oleh Syubbanul Ummah Madura di era milenial sekarang ini adalah seberapa masih murni madu perawan Madura di era pasca-Bashrah. Yakni tatkala Dampo-dampo Abang Global dan Nasional merekrut perawan-perawan Madura dan memperkosa mereka. Dampo Abang era modern punya tangan panjang dan cakar yang bernama, misalnya, kapitalisme liberal, Pancasila Sekuler, Parpol dan Ormas, Khilafiyah dan Ikhtilafiyah dalam tubuh Kaum Muslimin.

Dalam beberapa kasus sejarah politik 20-30 tahun terakhir, ketika hampir di seluruh Nusantara Kaum Muslim “yufarriqu wa yatafarraqu ba’dluhum ba’dla (memecah belah dan dipecah belah satu sama lain), sampai kadar tertentu di Madura masih berlaku sifat idaman Rasulullah Saw atas Kaum Muslimin: “yasyuddu ba’dluhum ba’dla”. Saling menguatkan satu sama lain. Dengan lahirnya lingkaran-lingkaran Maiyah di pulau itu, Padhdhang Ate di Bangkalan, Damar Ate di Sumenep, dan Jhembhar Ate di Sampang, salah satu energji jihadnya adalah mengembalikan sampai seutuh mungkin genetika peradaban Madura yang “yasyuddu ba’dluhum ba’dla” karena sangat tidak mudah diperawani oleh modernisme yang penuh tipudaya dan pengkhianatan atas hakikat kemanusiaan.

Harus diupayakan semaksimal mungkin oleh Syubbanul Maiyah di Madura bahwa masyarakat Madura bukan “maf’ulun bih” oleh deraan tipudaya Indonesia modern. Di hari-hari ke depan sejarah bangsa ini, Madura harus menjadi “fa’il”, subjek pembangun masa depan, yang percaya kepada janji Allah dan terus membuktikan bahwa kaum Shalihin akan dianugerahi kemenangan oleh-Nya.

Sebagaimana desa kelahiran saya sendiri di Jombang yang bunyi katanya mirip dan saling indikatif dengan Madura, yakni Menturo: kaum muda di kedua wilayah itu harus lebih tegas memilih antara “Mantsura” ataukah “Manshura”. Akan kabur kanginan lenyap dihembus angin, ataukah berperilaku sedemikian rupa sehingga dilimpahi pertolongan oleh Allah Swt.

Apalagi kalau memasuki konteks almarhum walmaghfurllah Syaikhona Kholil, yang saya melihatnya sebagai “Tjokroaminoto” yang lebih utuh dan sejati sebagai mataair dan sumur kelahiran sejarah bangsa Indonesia.

Saya yakin anak-anak cucu-cucu saya melalui Padhdhang Ate, Jhembhar Ate, Damar Ate dan lingkaran-lingkaran berikutnya atau penyatuannya yang lebih besar, memanggul kewajiban untuk mempelajari, meneliti, mengidentifikasi, mempetakan, dan meneguhkan kembali DNA sejarah Madura. Tidak terutama karena Madura butuh kebesaran nama, melainkan karena bangsa Indonesia membutuhkan pertolongan masa depan dari dan oleh Madura.

Bangsa Indonesia memulai era penjajahan atas dirinya sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejak itu bangsa Indonesia tidak sanggup memahami dan mengatasi keterpecah-belahannya. Mereka saling injak, saling tindih, saling jambret, saling menindas satu sama lain hingga hari ini.

Termasuk bercermin pada keteguhan Arya Wiraraja Sumenep yang mentulangpunggungi dinamika nasib Raden Wijaya dan Kerajaan Majapahit, episode sejarah itu mestinya bisa menginspirasi lingkaran-lingkaran Maiyah di Madura untuk berangkat riyadlah sejarah panjang untuk menolong Indonesia.

Ahlan wa sahlan bihudlurikum ayyuhas-syubban Padhdhang Ate, Jhembhar Ate dan Damar Ate. Peradaban baru sudah mengalir air kawahnya selama Pandemi sekarang ini, dan anak-anak cucu-cucuku di Madura tekun teguh memproses kelahiran bayi sejarah yang baru yang dikawal oleh limpahan Allah Swt bernama Maiyah.

Lainnya

Buku dan Merchandise