Mukadimah Kalijagan Februari 2020

Mbah Nun, Kami Bergembira

Pada kondisi bergembira atau berbahagialah makhluk hidup baik itu tumbuhan, hewan, manusia mampu tumbuh dan mengoptimalkan potensinya. Maka belajar seharusnya dimulai dari menumbuhkan kebahagiaan terlebih dahulu. Pada tanaman bisa kita saksikan, ia yang tumbuh pada habitat yang cocok maka ia akan tumbuh secara optimal, sementara itu jika dia tidak mendapatkan tempat yang cocok, misalnya kurang sinar matahari maka ia akan berhenti tumbuh dan bisa saja mati.

Pada diri manusia potensi itu tidak hanya tubuh, tetapi juga pikiran, dan rasa. Maka sebuah kebahagiaan itu bisa menumbuhkan potensi yang berupa fisik maupun ruhani. Masalahnya tidak semua orang mendapatkan tempat untuk bahagia itu. Sebagaimana pohon, tidak semua pohon mendapatkan tempat tumbuh optimal. Namun manusia berbeda dengan tumbuhan. Manusia bisa bergerak, atau menyorong rembulan agar memungkinkan dirinya terkena cahaya.

Dari zaman dahulu kala yang dicari manusia adalah kebahagiaan. Orang mengira kebahagiaan itu terdapat di kepemilikan dunia, orang mengira kebahagiaan tercapai setelah mengoleksi benda-benda. Bermacam cara orang-orang memenuhi kebahagiaan sesuai dengan persepsi masing-masing. Padahal, Islam sebagaimana dipelajari di Maiyah, memungkinkan kita bahagia dalam keadaan dan kondisi apapun.

Orang-orang yang duduk di hamparan Maiyah itu tidak memandang status, tidak urusan jabatannya apa, berbaur antara orang berpangkat dengan pemulung. Kemudian mereka gerr bersama, mereka tertawa dan menangis bersama.

Akan sia-sia dan menghabiskan waktu jika kita bahagia menunggu memiliki harta yang banyak. Dan akan sial jika selama hidup kita tidak pernah meraih itu sehingga kita tidak pernah bahagia sepanjang hidup. Kebahagiaan dan kegembiraan adalah penerimaan, menumbuhkan kesadaran bahwa segalanya datang dari Allah, kekasih kita maka harus kita terima semuanya dengan ikhlas. Apapun yang hinggap pada diri kita adalah cara Allah menyapa hambaNya. Jika kita ridha kepada Allah maka Allah akan ridha kepada kita, dan ridha Allah adalah sumber kebahagiaan yang tiada tara.

Dan di Maiyah, yang kami dapatkan adalah kegembiraan itu. Kami menerima keadaan sehingga mampu bergembira. Kami tidak menargetkan diri untuk menjadi ini dan itu dan kami berbahagia bersama lingkaran sedulur-sedulur. Bagi kami itu sudah cukup.

Beberapa bulan yang lalu Mbah Nun menulis esai berjudul “Menderita Karena Maiyah”, di sana Mbah Nun menghkawatirkan anak-cucunya tidak berbahagia karena bermaiyah. Mbah Nun khawatir anak cucunya tercerabut dari akar masyarakat, tidak nyambung komunikasi dengan lingkungan, terpinggirkan, dan lain sebagainya. Mbah Nun, kami, anak-cucumu bergembira!

Justru kami bersyukur karena mampu menyingkap tipu daya dunia. Melihat persoalan dengan jernih, bahwa dunia yang kami tinggali sangat terkait erat dengan akhirat. Dan kami mampu berbahagia dalam keadaan apa pun karena kami menerima. Tidak mengapa jika kami tersingkir pada lingkungan yang serakah. Maka perihal gembira ini, kami jadikan tema pada ulang tahun Kalijagan yang ketiga. Kami bersyukur karena Jamaah Maiyah Kalijagan telah terlaksana selama tiga tahun, dan selama itu kami bergembira. (Hjr/Redaksi Kalijagan.com)

Lockdown 309 Tahun