Keseimbangan Baru di Tengah Pandemi

Kurang lebih dua jam Sinau Bareng Mocopat Syafaat Edisi April 2020  dilaksanakan intern dan dijariyahkan melalui Live Streaming untuk kita semua Jamaah Maiyah.

Jika dicermati secara saksama, meski banyak yang optimis pandemi akan cepat berlalu, namun banyak pula yang memprediksi wabah Covid-19 akan berlangsung cukup lama. Presiden menginformasikan wabah akan berakhir hingga akhir tahun.

Sumber lain ada yang memprediksi hingga 2022, bahkan menurut Mas Sabrang ada yang memperkitakan sampai 2025. Masing-masing sumber mempunyai kalkulasi dan mencermati dengan data-data yang bebas.

Namun Simbah sendiri optimis kita semua harusnya bisa melewati wabah ini tanpa kesulitan, mengingat semua ahli kesehatan, medis, farmasi beserta teknologi lainya dirasa mampu menanggulangi penyebaran virus tersebut. Bahwa semua elemen sudah paham, terkait masa inkubasi virus, cara penularan, bahkan sempat beredar kabar virus dapat bertahan berapa lama di berbagai media, baik; besi, atom, aluminum dll.

Dalam beberapa Sinau Bareng kerap disampaikan pola kepimpinan dengan tiga klasifikasi dari tadabur surat An-Nas.

Saya rasa ini saatnya rakyat menunggu pemerintah mengesahkan policy mengenai penanganan wabah ini agar segera mereda: dua bulan lockdown total mulai ibukota hingga pelosok desa, jalan tol, angkutan umum dalam dan luar kota dinonaktifkan, akses keluar masuk kota/kabupaten ditutup, sembako didistribusikan untuk warga miskin, miliarder yang peka bisa bergandeng tangan berbagi dengan sesama.

Dengan semua situasi ini, barangkali Allah sedang menghendaki di mana manusia harus berani kembali memulai peradaban baru dalam hal kehidupan. Manusia dituntut untuk cerdas memilah dan memilih hal-hal pokok, hal-hal yang penting untuk keberlangsungan hidup, dan meninggalkan tujuan-tujuan hidup yang bersifat materialisme.

Menurut Mas Sabrang, di tengah Pandemi ini sebaiknya dengan cepat kita mencari keseimbangan baru, di antaranya dengam meninggalkan produk-produk kapitalisme yang semestinya tidak dibutuhkan.

Juga, sudah sepantasnya kita semua belajar dari wong cilik. Mereka tidak butuh waktu lama untuk menemukan keseimbangan baru tersebut, karena wong cilik sampai detik ini adalah guru terbaik soal memilah dan memilih.

Mereka mungkin bukan ahli akademik mengenai skala prioritas, namun mereka sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Ya, mungkin mencicipi sekali dua kali produk kapitalisme, misal beli jam tangan via rekber, ngutang material untuk renovasi rumah, atau kredit handphone.

Bahkan sebenarnya bisa dirasakan warga di kampung-kampung tidak mengharap banyak policy dari pemerintah seperti simulasi di atas, bahkan tidak mengharap belas kasihan kepada siapapun kecuali Nabi Muhammad Saw.

Seandainya pun tidak diberlakukan simulasi kebijakan tersebut, rakyat Indonesia sudah belajar banyak tentang kemandirian. Sawah dan ladang yang subur adalah bekal utama. Bebrayan dan sengkuyung sudah merupakan keseharian bagi mereka, seperti ulasan Pak Tanto Mendut. Barter barang pun bisa menjadi opsi transaksional yang jujur, ibarat ga ono duit ga petheken.

Di sisi lain bukan tidak mungkin bila pemerintah lamban melakukan penanganan, pengusaha buta mata, miliarder tidak segera nimbrung untuk bebarengan sadar dan tanggap menangani hal ini, merekalah yang akan kelepekan sulit bertahan hidup.

Sementara seperti digambarkan di atas, rakyat kecil sudah punya modal sosial kuat yakni hidup bebarengan dan tulung tinulung, dimana jika ada saudara kelaparan pasti dengan sigap dibantu dengan hasil ladang yang melimpah. Bukan hal yang baru, jika terpaksa ada banyak pasar yang transaksinya tidak menggunakan uang lagi, hingga dapur umum dan jelmaan sekolah rakyat akan kembali hadir di tengah pandemi yang dapat mengakibatkan paceklik yang berkepanjangan.

Meski semua elemen tetap berharap yang terbaik untuk situasi saat ini, jika mengikuti pitutur Simbah semalam, kita dianjurkan untuk sholat malam, beristighfar sebanyak-banyaknya, dan wirid ya Hadi ya Mubin agar dimunajatkan, maka seyogyanya kita semua jamaah Maiyah mengamalkannya, serta dengan tulus hati meminta kepada Allah agar segera diberi petunjuk, siapa tahu hadirnya Maiyah dan khusuknya istighfar kita kepada-Nya menjadi salah satu alasan segera turunnya hidayah dan pertolongan Allah untuk negeri ini.

Buku Lockdown 309 Tahun