Mocopat Syafaat Daring, Alih Wahana Sementara Selama Pandemi

Wabah Covid-19 masih bergelayut, Mocopat Syafaat tak kehilangan siasat. Majelis Maiyah tiap tanggal 17 di Yogyakarta ini menyesuaikan situasi-kondisi. Selama pandemi menjaga jarak fisik menjadi aturan internasional, maka Maiyahan pun ikut serta mengalihwahanakan sementara forumnya ke ruang digital.

Studio Geese, Rumah Maiyah Kadipiro, dipilih sebagai lokasi siaran langsung. Pak Tanto Mendut mengawali acara dengan merespons keguncangan masyarakat mengahadapi Covid-19. Ia menyodorkan opini dari perspektif sosial-budaya.

Menurutnya, situasi nasional sedang mengalami “amburadul manajemen” dan keadaan itu mengemuka secara khas berdasarkan ekspresi kultural masyarakatnya. Kemunculan pandemi di satu sisi mengejutkan jamak orang, namun ekspresi kegelisahan tiap orang (bangsa) di sisi lain relatif berbeda.

Ia mencontohkan di Tokyo, Jepang. Selama Covid-19 naik status sebagai wabah internasional, kegelisahan kolektif mereka justru ketakutan akan kehabisan tisu toilet. Manakala melakukan karantina diri di rumah, sementara persediaan tisu toilet menipis, itu justru membuat masyarakat ketar-ketir. Maka tak mengherankan bila mereka cenderung berduyun-duyun memborong barang terpenting di toilet itu.

Kondisi psikis manusia atas respons pandemi, lanjut Pak Tanto, beraneka rupa dan bergantung pada pengalaman budayanya masing-masing. Ia menceritakan ketika merespons erupsi Merapi sekian tahun silam. Bersama seniman Lima Gunung, ia mengkreasikan patung berikut teks peringatan.

Karya seni dengan narasi peringatan itu dikondisikan berdasarkan pengalaman budaya masyarakat setempat. Setidaknya kekhasan tekstualnya harus segendang sepenarian dengan pemahaman masyarakat bersangkutan. Alih-alih mengadopsi jargon klise seperti Awas, Waspada, dan Siaga, Pak Tanto justru melampaui arus utama dengan mencetuskan Siaga Ndongo, Aja Dumeh, dan Mlayu.

“Saya merumuskan preventif ini supaya dipahami masyarakat Merapi. Sebelumnya rembukan terlebih dahulu dengan masyarakat kira-kira enaknya bagaimana. Akhirnya tercetus kalimat tersebut. Ini dilakukan agar menyesuaikan lokalitas budaya setempat,” papar Pak Tanto.

Perkuat Kemandirian Mikro

Mempertajam wacana pembahasan Covid-19, Mas Helmi menelepon Mas Sabrang. Merespons kepastian kapan senjakala pandemi ia menuturkan belum ada informasi mutlak. Semua versi pendapat masih relatif.

“Ilmuwan yang saya baca dari The Guardian bilang secara optimis kalau wabah akan selesai 2022. Bahkan diprediksi bisa lebih,” ujarnya. Ia menyikapi agar kita jangan seperti orang berpuasa yang menunggu berbuka. Tiap prediksi tidak mutlak. “Maka menurut saya kita harus mencari keseimbangan baru,” tambahnya.

Mas Sabrang merunut ke belakang, menyelidiki sejarah pandemi di Italia. Dahulu respons Italia utara dan selatan menyiasati wabah terbagi atas dua pola. “Italia utara dengan keseimbangan dengan masyarakat, sedangkan Italia selatan menggunakan kekuatan raja,” paparnya. Pola ini berhilir sampai kemunculan era renaisans.

Inisiatif masyarakat untuk menjaga keseimbangan dinilai krusial di tengah efek kejut Covid-19. “Apa yang harus dilakukan untuk menyambut keseimbangan baru?” tanya Mas Helmi. Bagi Mas Sabrang, hal mendesak antara lain membangun keberlanjutan ekonomi yang dimulai dari skala mikro melalui kekuatan kerja sama.

“Mulai gotong royong dengan kluster-kluster agar sustainability dan survive-nya terus terjaga. Saya sedang merancang konsepsinya kira-kira dua sampai tiga minggu ke depan,” ucapnya.

Upaya strategis ini, lanjutnya, juga melindungi ranah mikro dari permainan pasar global. Pada era neokapitalisme di mana sirkulasi pasar saling terhubung, efek tarik-menarik pengaruh menjadi keniscayaan. Sedangkan pandemi sekarang menghambat putaran modal untuk sementara waktu. Agar terhindar dari distraksi maka independensi ekonomi mikro harus diwujudkan.

Mas Sabrang kemudian menyebut skala prioritas komoditas barang dan jasa selama wabah ini sedang mengalami reorientasi. Antara barang penting dan tak penting mengalami redefinisi peran dan fungsi. “Industri barang ‘tidak penting’ tersebut akan banyak yang mati. Efeknya maka para pekerjanya terkena PHK. Solusinya adalah mekanisme shifting pekerjaan,” ucapnya.

Sekarang hal primer yang menurutnya urgen adalah kebutuhan pokok. Itu kenapa Mas Sabrang belakangan sedang memfokuskan kajian pengembangan konsep “kebun rumah” untuk mempertahankan ketahanan pangan. Proses pembagian kluster hingga distribusi yang efektif merupakan wujud keseimbangan dalam merespons wabah.

“Yang terjadi sekarang pula,” tambahnya, “reorientasi kita dalam memandang sesuatu. Semisalnya anggapan mengenai kemewahan. Sebelum pandemi menyerang orang berkumpul gampang dilakukan. Sedangkan kini sukar dipraksiskan. “Adanya Covid-19 mengubah cara pandang kita dalam memberi makna kemewahan itu sendiri.”

Usai Pandemi

Setelah menelepon Mas Sabrang, Mas Helmi menelepon Cak Nun. Tentu ini momen yang ditunggu-tunggu jamaah yang menyimak siaran daring ini dari rumah masing-masing. Terdengarlah kemudian suara Cak Nun, mengobati kangen anak-cucunya.

Cak Nun mengajak berefleksi untuk mengukur tingkat kehancuran Corona. “Apakah ia sedemikian menghancurkan seperti di zaman Nabi Hud, sehingga tersisa segelintir orang. Lalu sisa orang tersebut bangkit dan belajar lagi. Atau seperti di era Nabi Nuh yang selamat dari banjir bandang kemudian menyebar ke belahan wilayah untuk membangun kehidupan. Kendatipun mulai dari taraf masyarakat yang paling tradisional,” tanyanya melalui sambungan telepon.

Kehancuran akibat pandemi sekarang ia prediksi tak akan menyerupai zaman era nabi. Menurutnya, kalau melihat kemajuan teknologi, seberapa strategis ilmuwan memproyeksikan masa inkubasi virus, kebijakan pemerintah terhadap penjarakan fisik, dan lain sebagainya, seharusnya tak terlalu sukar menangani Covid-19.

“Kita sudah tahu bagaimana ciri dan mekanisme penyebaran Corona. Tapi kan kita tidak mempunyai organisasi atau kepemimpinan untuk menerapkan keseimbangan. Sekarang ini pula yang dianggap pemimpin itu kan hanya pada skala formalitas negara. Namun, tak ada uswatun khasanah, negarawan, pawang, atau pemimpin yang mengorganisasi situasi pandemi secara komprehensif untuk mewujudkan keseimbangan sebagaimana disinggung Sabrang sebelumnya. Kalau pun akan dilakukan keseimbangan, maka itu hanya bisa kita lakukan di kalangan Maiyah saja,” tandas Cak Nun.

Cak Nun menambahkan sesungguhnya pandemi ini bisa selesai diatasi selama dua bulan dengan pertimbangan penyebaran dan masa inkubasi. Meskipun begitu terdapat faktor eksternal yang terpenting, namun hal ini justru paling lemah, yakni strategi, aturan, dan kepemimpinan. Kebutuhan mengatasi pandemi dapat terbengkalai dan berujung pada ketakutan massal tanpa ujung karena tiadanya pemimpin yang mengorganisasi secara progresif dan komprehensif.

Cak Nun mengajak anak-cucunya untuk melihat kemungkinan bahwa bisa saja usai Covid-19 yang berlangsung hanyalah perubahan atau perputaran ekonomi makro, tapi tak menyasar ke perubahan sikap mendasar manusia atas kehidupannya, terutama menemukan kembali sangkan dan paran posisi transendensinya. Karenanya, Cak Nun mengajak mereka untuk berada di posisi mendasar dan hakiki itu.

Buku dan Merchandise