Antara Eling lan Waspada, Nglakoni Dzikir dan Hati yang Tenteram

Kangen dengan suasana malam hari, Ahad (12/4), jam tujuh malah, saya berangkat ke desa Mentoro. Jalan di kota Jombang tidak seramai biasanya. Namun, para pedagang di emperan toko tetap buka. Beberapa hari terakhir mobil polisi yang lampunya byar-pet, byar-pet dan bikin mata bloloken, rajin sekali berkeliling. Anak-anak yang ketahuan nongkrong di warung kopi dibubarkan.

Beberapa hari lalu warung kopi milik teman saya juga kena getahnya. Malam belum larut benar, ndilalah ada obyakan alias patroli. Polisi berhenti di depan warung. Anak-anak diminta menunjukkan KTP. Mereka diberi penyuluhan singkat tentang social distancing dan physical distancing. Tidak banyak cakap, teman-teman manggut-manggut tanda mengerti.

Padahal teman-teman tengah mendiskusikan pemberdayaan masyarakat untuk dusun yang berada di pelosok utara Jombang. Sejak Jombang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19, dusun itu kian terisolasi. Diskusi pun selesai. Tidak apa, demi ngajeni bapak-bapak Polisi, anak-anak membubarkan diri.

Bagaimana dengan pemilik warung? Dia ikut rombongan mobil byar-pet ke Polres. Bukan diamankan, melainkan menandatangani pernyataan bahwa warung kopi ditutup “sementara waktu” hingga batas yang tidak ditentukan. Mungkin yang dimaksud hingga wabah Corona hilang. Lha, kapan wabahnya hilang? Wallahua’lam.

Juga tidak banyak cakap, kawan saya menandatangani surat pernyataan itu. Baiklah, demi keamanan dan keselamatan bersama. Namun, di kepalanya pertanyaan berjubel-jubel antre. Mengapa tidak dijalin komunikasi yang bijaksana untuk ngajeni pedagang kecil?

Kalau warung kopi saya dianggap ancaman bagi keselamatan orang lain, itu pun setiap malam pengunjungnya selalu tidak lebih dari lima orang, mengapa semua warung yang buka malam hari tidak diimbau tutup total kecuali toko yang menjual kebutuhan pokok?

“Ini bukan soal saya bisa makan atau tidak. Angger obah iso mamah. Saya meyakini itu. Allah Maha Luman,” ujar kawan saya. “Bukan pula soal warung kopi saya ditutup sementara waktu dan boleh buka lagi entah kapan. Saya kok menilai alih-alih menyelenggarakan pengayoman yang menenteramkan hati rakyat kecil, para pemegang kuasa justru melakukan tindakan over action. Sudah penghasilan mampet, masih ditakut-takuti oleh conditioning yang terstruktur dan masif bahwa siapa pun yang terjangkiti Corona pasti mati.”

Saya tidak tahu akan merespons apa. Mungkin yang disampaikan kawan kita ini mewakili isi hati pedagang malam lainnya. Kawan saya melanjutkan, “Setelah dibawa ke Polres, saya merasa seperti seorang pesakitan yang melakukan dosa besar dan melukai hati jutaan orang nJombang. Padahal saya hanya berjualan kopi ala kadarnya.”

Eling lan Waspada

Hingga saya menulis ini “kabarnya” (memakai tanda petik ) di Jombang ada empat orang positif Corona. Tanda petik ini untuk mengingatkan, walaupun sekarang adalah zaman informasi digital, kadang kita terjebak dalam tembung jare, qiila wa qoola. Menurut informasi resmi, yang kita tidak mengerti benar seberapa tinggi tingkat akurasi “resminya”, satu orang positif diisolasi di RSUD Jombang. Tiga positif lainnya melakukan isolasi mandiri.

Mohon dicatat, yang saya ceritakan ini konteksnya situasi di Jombang. Di mana pun dan dalam situasi apapun kita berupaya tetap berada di syari’ dan thariq eling lan waspada. Eling sinonimnya ingat. Bahasa Al-Qur’an-nya, al-dzikr.

Surat Al-Ra’du ayat 27-29 menyodorkan pembelajaran yang menarik untuk di-Sinau Bareng-i. Orang-orang kafir berkata:Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi hidayah orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”.

Alur berpikirnya bisa disusun sebagai berikut. Pertama, orang kafir bertanya mengapa Allah tidak menurunkan mukjizat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Allah menampakkannya kepada Nabi Musa? Ini provokasi untuk menebar rasa was-was, keragu-raguan, bahkan kecemasan.

Kedua, Allah menjawab bahwa penyebab mereka tidak beriman bukan karena tidak diturunkannya mukjizat kepada Nabi Muhammad, melainkan karena kesesatan mereka sendiri. Was-was, ragu-ragu dan bahkan kecemasan itu mereka ciptakan sendiri.

Ketiga, Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang bertaubat. Siapakah mereka? Adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tenteram karena mengingat Allah. Dzikir kepada Allah menjadi formula untuk mengatasi provokasi was-was, keraguan, kecemasan serta pesimisme yang mengepung kita.

Orang yang nglakoni dzikir tidak perlu diseram-seramkan. Intinya, kita eling, ingat, dzikr kepada Allah. Eling adalah kesungguhan hati dan konsistensi nyambung atau online terus-menerus bersama Allah.

Melalui Seperdelapan-Belas Kesabaran, Mbah Nun pun memandu, “Bertanyalah kepada Allah, dengan selalu bersujud lewat tengah setiap malammu. Sebab manusia tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan “sampai kapan”mu. Astaghfirullah minimal 100X setiap bakda shalatmu, syukur engkau lipat gandakan sehabis shalat malammu. Ya Hadi Ya Mubin selalu menyertai detak jantung dan keluar masuk napasmu, syukur engkau awali dengan Ya Rahman Ya Rahim Ya Syafi ya Halim sebanyak-banyak yang energi dan keikhlasanmu kuat menyangganya”.

Mengapa Pertolongan Tidak Segera Datang?

Rasa was-was atau mungkin pesimisme menyikapi kondisi kekinian, sehingga terbersit pertanyaan: mengapa Allah tidak segera menurunkan “mukjizat” pertolongan-Nya kepada kita, sebagaimana orang kafir bertanya: Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya? — tidak dapat diatasi dengan formula kompetensi akademis apapun kecuali dengan eling kepada-Nya.

Adapun mukjizat itu didatangkan atau tidak, pertolongan diturunkan secara nyata atau tidak, antivirus berhasil ditemukan atau tidak, pandemi ini segera berlalu atau justru makin berkepanjangan — tiada guna lagi bagi hati yang fii quluubihim maradlun atau yang innallaha yudlillu man yasyaa’.

Jelas sudah. “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi hidayah orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ketika atmosfer kehidupan manusia dipenuhi kekhawatiran, kecemasan, depresi, saling curiga, orang yang berdzikir akan memetik laba, yakni tenteram hatinya.

Meski demikian, kita tetap perlu menegakkan kewaspadaan. Eling adalah laku vertikal transedental. Waspada adalah laku horizontal sosial. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. Beriman dan beramal saleh — eling lan waspada — bisa dipelajari, ditemukan, dihikmahi kaitan kontekstualnya dengan kondisi kekinian.

Tidak keluar rumah selama tidak ada urusan yang penting dan mendesak, menjaga jarak (physical distancing), rajin mencuci tangan, menjaga wudlu (dawaamul wudlu), tetap sregep bekerja adalah laku amal shalih. Mukmin dan muslim bukanlah baju atau identitas. Ia adalah proses perilaku yang menomorsatukan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain. Semoga.

Jagalan, 140420

Buku Lockdown 309 Tahun