Universitas Ibu-Bapak

Kalau saya sampai hari ini menggemari pekerjaan pengorganisasian acara alias event organizing, itu tak lepas dari pengalaman masa kecil yang saya lalui. Sedari belum lima tahun usia, saya sangat senang ketika diajak Bapak dan Ibu ikut mempersiapkan acara-acara baik di desa maupun di sekolah. 

Membuat backdrop hingga lembur sampai malam. Zaman dulu belum memakai banner MMT tentu saja, sterefoam saja saya tidak kenal, hanya kertas manila warna-warni yang dijiplak dan digunting manual, lalu dilem dan ditempel ke kain. Agar lurus menempelnya, kadang ditarik dahulu benang sebagai pemandunya. Kemudian membuat nametag. Yang Ibu saya kerjakan bukan menggunakan PVC card bertali yang dikalungkan seperti kebanyakan yang dipakai hari ini. Tetapi menggunakan daun hartek, jenis tanaman asparagus yang dipadukan dengan pita dan bagus ditempel di baju. Greeny sekali, bukan?

Apa ketika itu saya diajari tutorial step by step? Tidak. Saya hanya ikut, sedikit nimbrung dan banyak ngerusuhin. Namanya juga anak-anak, ya se-hepi-hepi-nya sendiri aja. Namun, apakah saya waktu itu belajar? Jawabannya: Iya. 

Belajar itu banyak dimensinya, bukan hanya transfer keahlian. Merasakan suasana kerja tim, itu juga belajar. Merawat tanaman hartek di samping rumah karena saya tahu itu berguna kalau ada acara-acara, itu juga saya belajar. Juga belajar ketika terlibat dalam suasana gotong-royong lembur sampai malam ditemani kopi dengan niatan yang sama-sama baik, mewujudkan jalannya acara besok hari dengan sebaik-baiknya. 

Dengan agak memaksakan, pengalaman masa kecil saya itu saya coba koherensikan dengan apa yang Mbah Nun kisahkan mengenai perjalanan Beliau mengikuti Sang Ibunda sewaktu kanak-kanak. Sudah menjadi aktivitas sehari-hari, Ibunda Mbah Nun berkeliling ke tetangga-tetangga, menanyakan kabar dan mencukupi yang kurang. Kemudian menjadi takdir bagi Mbah Nun di masa mendatangnya, hidupnya ditahbiskan untuk satu saja kegiatan: pelayanan sosial.

Apa yang diserap ketika umur kanak-kanak memang kerap menyublim menjadi karakter. Sedangkan karakter adalah hal fundamental bagi seorang manusia, melebihi kemampuan kognitif apapun. Sehingga meskipun tidak ada legitimasi ijazah atau surat tanda lulus jenis apapun, Bapak dan Ibu yang mengasuh semasa kecil sesungguhnya adalah wahana pendidikan yang lebih penting dari lembaga pendidikan sementereng apapun sesudahnya. 

Lantas kenapa sumber pendidikan Ibu dan Bapak menjadi kalah mentereng? Bagi jamaah Maiyah, mudah menjawabnya. Pertama, karena kebanyakan kita terjebak dalam ukuran-ukuran materialistik. Sekolah dan kampus yang keren itu yang gedungnya mewah. Sedangkan, Ibu dan Bapak mengajak pengalaman belajar dulu tanpa gedung. Lalu kedua, kebanyakan kita mengidap kemampuan daya ingat jangka pendek. Jangankan pada lapis-lapis pengalaman puluhan tahun yang lalu, minggu kemarin ada kabar apa saja atau menghadapi pengalaman emosi seperti apa saja, juga sudah lupa. 

Ingatan non-kognisi mungkin ingat. Akan tetapi, kita mana sempat ‘bermeditasi’ mengingat-ingat hal non-material yang tidak jelas faedahnya seperti itu. Saya bersyukur di Maiyah mendapat banyak kesempatan-kesempatan meditatif. Menginventarisasi lagi apa-apa yang sudah pernah saya lalui, mengolahnya menjadi solusi, atau sekadar menyimpannya kalau-kalau kelak pada masanya dibutuhkan. Mudah-mudahan tidak ada yang mubadzir dari setiap jengkal perjalanan hidup yang sudah kita lalui. 

Selamat Milad Padhangmbulan yang ke-26. Ibu dari Universalitas ilmu Maiyah yang hari ini mengairi irigasi-irigasi ‘iktikad baik’ di sawah-sawah generasi pembaharu Indonesia.

Buku Cak Nun