Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4117

Tiga Poin Kehangatan Cinta dari Mbah Nun

Liputan Sinau Bareng Bersih Desa Sumber Brantas di Lapangan Lemah Putih Sumber Brantas Bumiaji Batu Malang, Selasa, 1 Oktober 2019, Bag. 1

Apa yang sia-sia dalam hidup ini sehingga kita pantas membuangnya? Demikian pertanyaan yang tersirat dalam Sinau Bareng Bersih Desa di Lapangan Lemah Putih Desa Sumber Brantas Kec. Bumiaji Kota Batu, pada Selasa (1/10/2019).

Kita selalu menemukan benang merah pada setiap Sinau Bareng. Sejumlah realitas, fakta, hingga kejadian yang tidak terduga, dihikmahi bersama.

Malam itu, di tengah udara dingin 12 derajat desa Sumber Brantas Batu, masyarakat dan jamaah Maiyah bertahan hingga pukul satu dini hari. Peristiwa ini tergolong langka.

Menurut kebiasaan, acara pada malam hari di tempat terbuka tidak pernah melewati pukul sepuluh malam. Udara yang kelewat dingin menjadi penyebab masyarakat enggan berlama-lama di luar rumah.

Namun, Sinau Bareng kali ini justru menyodorkan kehangatan. Adalah Mirel, seorang khuntsa yang diminta Mbah Nun naik ke panggung, menambah kehangatan jamaah.

Dandanannya yang unik menyita perhatian jamaah. Dia sama sekali tidak menampakkan ewuh pakewuh. “Interogasi” yang dilancarkan Mas Jijit dan Mas Doni dijawab dengan spontan, jujur dan cerdas. Tak ayal, makhluk “tulang lunak”, demikian Mas Jijit menyematkan julukan, justru membuat jamaah Mirel tertawa lebar.

Bukan hanya guyon belaka. Mirel membuka mata kesadaran kita semua. Dia adalah aktivis lingkungan hidup. Biota air menjadi fokus perhatiannya.

Mirel juga menyayangkan beberapa jenis anggrek kian sulit ditemui di kawasan hutan Batu. Ia mengaku cukup prihatin dengan tangan-tangan jahil yang berburu laba ekonomi sehingga tanaman langka makin sulit ditemui.

Jamaah pun terperangah. Siapa menyangka Mirel, dengan penampilannya yang unik, gaya bicaranya yang ceplas-ceplos,  menawarkan gagasan cerdas terkait upaya menyelamatkan lingkungan khususnya biota sungai.

“Dalam sebulan saya sering melepaskan udang di sungai. Hewan air ini bisa mengurai polutan yang mencemari sungai. Bahkan air yang tercemar oleh kotoran manusia bisa diatasi oleh udang kali,” tuturnya.

Menurut Mirel, menebarkan bibit udang di kali lebih efektif dibandingkan jenis ikan lainnya. Ikan-ikan yang sudah besar di sungai akan cepat habis akibat serangan “predator” tukang nyetrum.

Berapa tahun lagi sumber air di Bumiaji bisa bertahan? Mirel mengajak masyarakat agar mulai berhemat menggunakan air. Hal ini disampaikan saat memberi tanggapan atas jawaban peserta workshop yang menyikapi situasi negara saat ini.

“Daripada pusing dan marah-marah terus setiap hari karena memikirkan situasi negara, mengapa kita tidak mengerjakan aktivitas yang manfaatnya pasti dirasakan oleh lingkungan yang paling dekat dengan kita?” tanya Mirel.

Caranya? Mudah saja. Anak-anak muda yang suka muncak alias mendaki gunung, jangan lupa membawa biji juwawut. Di lahan kosong atau lereng gunung, biji juwawut bisa disebarkan. Ia akan tumbuh menjadi makanan burung.

Lantas, bagaimana Mbah Nun menyikapi Mirel dan gagasannya yang cemerlang itu? Mbah Nun memiliki mata pandang yang menembus lapisan-lapisan fakta. Beliau adalah orang tua, pengayom dan Mbah kita semua.

Saya mencatat tiga poin dari dawuh Beliau. Pertama, tidak ada pembahasan khusus tentang khuntsa (wanita-pria) dalam Al-Quran atau hadis. Yang ada adalah dzakarin (potensi kelelakian) dan untsa (potensi keperempuanan).

“Adapun yang terkait dengan khuntsa, kita menyerahkannya pada Allah. Kita berdoa semoga Allah memberi jalan yang terbaik kepada Mirel,” ajak Mbah Nun.

Pesan utamanya, kita tidak perlu ikut campur apalagi menilai urusan yang bukan wilayah kita. Yang menjadi urusan Tuhan, biarlah Tuhan yang menyelesaikannya.

Bahkan apa yang kita sangka baik untuk diri kita, jangan-jangan malah berdampak buruk. Sebaliknya, yang kita sangka buruk, jangan-jangan malah bermanfaat.

Kedua, walikulli syain mazayah. Setiap manusia pasti memiliki kelebihan, potensi atau fadlilah. Bagaimanapun penampilan Mirel malam itu, faktanya, ia memiliki fadlilah yang jarang ditemukan pada jamaah lainnya.

Pertanyaannya, daripada sibuk menilai orang lain, bahkan dengan bersikap sebelah mata, mengapa kita tidak meneliti diri sendiri untuk menemukan potensi, keutamaan atau fadlilah diri kita?

Ketiga, yang ditagih oleh Allah adalah apakah kita tega mengambil harta orang lain, menghina martabat dan harga diri orang lain, serta menghilangkan nyawa orang lain?

Selama seseorang tidak mengerjakan salah satu atau ketiga hal tersebut, siapapun dia, bagaimanapun penampilannya, apapun stereotip yang ditimpakan masyarakat kepadanya, kita senantiasa menyayanginya.

Kesanggupan kita bukanlah menuntut agar dicintai, melainkan mengayomi siapa saja dengan cinta, demikian berulang kali ditegaskan oleh Mbah Nun.

Malam telah lewat tengah malam. Udara semakin basah dan dingin. Namun, dada dan hati kita terasa hangat oleh pengayoman cinta-Nya.

Buku Cak Nun