Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4117

Mirel Si Bintang Sinau Bareng Lingkungan Hidup

Liputan Sinau Bareng Bersih Desa Sumber Brantas di Lapangan Lemah Putih Sumber Brantas Bumiaji Batu Malang, Selasa, 1 Oktober 2019, Bag. 1

Sinau Bareng sudah dimulai dan berlangsung. Mbah Nun sedang memberikan kesempatan kepada Panitia untuk menyampaikan sedikit sambutan dan pengantar. Perwakilan panitia mengemukakan secara ringkas bahwa desa Sumber Brantas ini merupakan benteng terakhir kota Batu Malang, maka kalau bisa orang Sumber Brantas tidak gampang-gampang menjual lahannya.

Selepas pengantar ini, tiba-tiba terjadi sedikit kehebohan. Ada yang merebut perhatian jamaah, dan kemudian membuat Mbah Nun beserta semua yang di panggung ikut melayangkan pandangan ke arah jamaah. Rupanya ada seorang wanita-pria (waria) berjalan menuju tengah-tengah jamaah, mencari tempat duduk dan hendak ikut Sinau Bareng. Kehebohan tentunya adalah sambutan hangat dan penerimaan kepada dia.

“Ya baik, nanti kita minta dia naik ke panggung,” respons Mbah Nun.

Sebelum kemudian giliran berbicara diberikan kepada Bu Walikota Batu Dewanti Rumpoko, Mbah Nun menyambut kedatangan wanita-pria tadi dengan bekal sikap untuk semua jamaah dengan menyitir ayat ya ayyuhan naas inna kholaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alanakum syu’uban wa qabaaila lita’arafuu, bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan potensi kelelakian dan keperempuanan.

Sesuai yang disebut dalam ayat itu adalah: dzakarin (kelelakian), bukan mudzakkarin (laki-laki). Demikian pula dengan untsa (keperempuanan), dan bukan muannatsin (perempuan). Yang terjadi pada dia boleh jadi adalah dzakarin tetapi komposisinya masih berproses. Demikian kata Mbah Nun. Karena itu, beliau mengajak semuanya untuk saling mengenal (lita’arofuu), dan mendoakan agar Allah mempertemukan dia dengan jalannya.

Dia duduk bersama jamaah lainnya.

Bu Walikota menjelaskan posisi penting desa Sumber Brantas sebagai hulu bagi sungai Brantas yang harus dijaga berikut program bagi RT RW agar benar-benar memperhitungkan tata ruang setiap membangun bangunan sehingga tidak menutup sumber-sumber air, kemudian juga pesan agar warga tidak mudah tergoda oleh naiknya harga tanah di Batu khususnya di Sumber Brantas sehingga mudah melepaskan tanah-tanah mereka. Sedangkan, Pak Heli Suyanto dari DPRD Batu menyampaikan perihal Perda yang mengatur tata ruang yang membatasi bangunan-bangunan. Sampai kemudian tiba pada kesempatan dibuka Mbah Nun kepada jamaah khususnya warga Sumber Brantas untuk mengemukakan pertanyaan.

Ada yang bertanya tentang sumber mataair di dusun Lemah Putih Sumber Brantas sendiri yang kurang air, ada pula yang menanyakan soal Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas di mana yang bersih hanya di Sumber Brantas dan di daerah bawah sudah keruh, serta pemanfaatn sumber panas bumi (biotermal) di Sumber Brantas yang mungkin akan berdampak kepada air di Sumber Brantas.

Bu Wali merespons semua pertanyaan dengan menceritakan posisi penting air, ihwal IMB yang iclude di dalamnya analisis dampak lingkungan, program Bu Wali bersama seratus orang pasukannya untuk bersih sungai setiap seminggu sekali, tetapi selalu kalah dengan orang yang membuang sampah sembarangan di sungai, sehingga sungai menjadi tercemar terus. Mbah Nun juga urun pemikiran dan saran soal sampah dan lingkungan hidup ini, dari paradigma ‘tidak ada yang disebut buang sampah’, penanganan sampah yang harus merupakan komprehensi semua pihak, hingga permintaan Mbah Nun kepada jamaah Maiyah Malang untuk juga memberikan kontribusi dan kepeloporan hidup bersih dan rapi.

Kemudian saatnya Mbah Nun meminta Mirel, nama wanita-pria yang tadi merebut perhatian jamaah, untuk maju ke panggung, berinterakasi bersama semua jamaah, dan untuk ini Mbah Nun meminta Mas Jijid dan Mas Doni untuk meng-interview-nya. Penampilan Mirel atraktif, ceria, dan pas dalam balas-membalas jokes dengan Mas Jijid sehingga tawa kegembiraan tercipta. Rambutnya cepak, tetapi bagian tengahnya dibuat tegak. Mengenakan baju terusan longgar berwarna hitam, bagian bawah adalah celana seperti legging putih bermotif, dan berkaos kaki merah. Kulitnya kuning bersih dan memperlihatkan dirinya yang selalu tampil rapi.

Habis obrol-obrol kenalan, Mas Jijid bertanya apa pandangan dia setelah mendengarkan paparan-paparan seputar lingkungan hidup di Sumber Brantas ini. Semua kemudian mulai terdiam dan terkagetkan, karena ternyata Mirel adalah seorang pecinta tanaman air. Ia sebutkan beberapa istilah Latin tanaman air termasuk yang asli ada di Sumber Brantas. Ia sebut beberapa jenis Sagitaria. Sayang, menurut Mirel, kondisinya sudah banyak yang rusak di sungai-sungai di Sumber Brantas. Ia sering melepas udang ke sungai, tetapi kalah sama tukang setrum. Sama persis seperti yang dialami Bu Walikota. Membersihkan tetapi kalah sama pembuang sampah sembarangan. Padahal udang ini, kata Mirel, jika dilepas di situ akan membantu memakan sisa-sisa limbah sehingga bisa mengurasi polusi air.

Semua yang hadir tampak baru mendengar hal barusan itu dari Mirel. Aplaus diberikan kepadanya. Beberapa kali Mbah Nun dari tempat beliau duduk mengacungkan dua jempolnya tanda memberikan apresiasi dan ungkapan siiip untuk Mirel, yang sangat tidak kita duga bahwa dia sangat menguasai apa yang kebanyakan kita tidak menguasai dan kita tak membayang orang seperti dia menguasai hal itu. Selanjutnya dia bercerita tentang anggrek-anggrek di tebing pegunungan di sini yang sudah hilang. Tak lupa ia sebut bahasa Latin istilah-istilah anggrek tersebut. Misalnya Mocodes Jewel orchid, dan lain-lain. Kata dia, kalau dia tanam anggrek lagi di situ akan diambil orang terlebih kalau orang itu tahu harga anggrek cukup mahal.

Dalam beberapa menit saja, Mirel sudah memaparkan kondisi lingkungan di Sumber Brantas, tapi juga lingkungan kita semua, berikut ketidakbajikan perilaku sebagian kita akan kondisi lingkungan hidup. Tidak ada kepedulian. Lagi-lagi dalam cara yang halus, kita mendapat tohokan dari Mirel. Tapi tohokan yang indah, karena lahir lewat gaya dia yang humoris, dan tidak bertendensi menggurui, sebab memang dibawakan dalam cara ngobrol biasa namun akrab. Mirel juga bercerita dia sering tanam anggrek di gunung Arjuna, sebab kalau ditanam di sini rawan dicuri. Seperti dia katakan tadi.

Demikianlah dia menggambarkan lingkungan hidup kita yang sebenarnya sudah kronis sementara tak banyak yang peduli, dan bahkan kata dia disambut tepuk tangan, “Arek-arek nom uripe nge-game thok ae. (Anak-anak muda hidupnya hanya dihabiskan buat main game saja).” Mirel mengajak semua yang hadir untuk nandur bibit apa saja pada setiap lahan kosong yang ada. Termasuk nandur juwawut. Lalu dia terangkan bagaimana ekosistem dan manfaat yang diperoleh jika juwawut ditanam.

Ada lagi hal sederhana yang perlu dilakukan demi menjaga lingkungan hidup menurut Mirel. Umpamanya kita suka boros dalam menggunakan air. Air yang kita gunakan mandi, biasanya langsung masuk masuk ke septic tank. Padahal air masih bisa ditampung, dan dimanfaatkan untuk menyiran tanaman di sekitar rumah kita. Dan ini kalimat makjleb aktual kontekstual Mirel, “Selain kritis secara politik, negara kita juga kritis secara lingkungan.” Mirel semestinya membuat kita malu dan mengintrospeksi diri.

Atas semua yang telah disampaikan Mirel yang memang klop dengan tema Sinau Bareng tadi malam, yaitu “Uri-Uri Lemah Banyu Kangge Anak Putu,” Mbah Nun meminta Mirel untuk ikut memberikan pembanding atas presentasi tiga kelompok yang sudah diberi tugas menjawab dua pertanyaan Mbah Nun. Mbah Nun juga menyarankan kepada Bu Walikota agar Mirel diajak terlibat dalam memikirkan program, pengelolaan, dan penanganan lingkungan hidup di Batu ini. Sekurang-kurangnya bisa dimintai masukan sebagai konsultan. Mbah Nun sendiri menghikmahi kehadiran Mirel lewat tiga pendekatan, salah satunya adalah pepatah dalam bahasa Arab yang berbunyi la tahtaqir man duunaka falikulli syai-in maziyyah. Jangan meremehkan seseorang yang (tampaknya) ada di bawahmu, sebab pada setiap sesuatu ada kelebihannya.

Kehadiran Mirel mengkonfirmasi kebenaran pepatah itu. Kita sering punya kecenderungan untuk meremehkan orang lain apalagi orang lain itu kita anggap “beda” dari dari diri kita, dan Mbah Nun mengatakan, “Saya tidak membela Mirel, tapi saya membela semuanya supaya kita selamat di hadapan Allah.” Mirel diminta Mbah Nun duduk di dekat Bu Walikota dan berarti berada di samping Mbah Nun juga. Tepat pada saat itu, kita sadar Allah telah mengirimkan Mirel sebagai narasumber yang wawasannya penting dan terbukti sangat terkait tepat pada inti tema Sinau Bareng tadi malam.

Mirel menjadi jalan yang tak terduga dalam Allah mengirimkan ilmu kepada semua jamaah, hadirin, dan juga Bu Walikota beserta jajarannya. Juga keindahan, keakraban, kegembiraan. Barangkali Mirel adalah wanita-pria yang kali pertama hadir di panggung Sinau Bareng. Lewat Mirel Allah menyentuh dan mengingatkan satu titik kosong dalam pikiran kita tetapi juga sekaligus lewat Mirel pula Allah menghadirkan kemesraan yang unik. Satu fenomena yang memperluas cakupan cinta kasih sesama manusia apapun latar belakang dan profil kediriannya. Cakupan cinta dalam Sinau Bareng yang terus akan berkembang.

Buku Cak Nun