Tempat Terakhirmu di Pesantren

Mengenang Muhammad Hadiwiyono

USAI beracara di beberapa tempat di Malang, Yono dan Cak Nun berjalan kaki beriringan di gang kecil untuk mencapai jalan raya. Beberapa mahasiswa yang semula mengikuti acara mendahului menggunakan sepeda motor, menguluk salam:

“Duluan, ya Cak!”
Yono mengumpat: “Diancuuuuk!”
Cak Nun hanya meringis.

Jalan raya masih jauh. Untuk saling menghibur diri, Yono berzigzag jalannya, kadang mendahului Cak Nun. Di tangan kiri menenteng bungkusan, sementara di bahu kanan ada beban tumpukan Buku Syair Lautan Jilbab. Entah berapa puluh buku sisa penjualan di tempat acara.

“Ngoso sik, Cak!”

Mereka berdua mencari tempat dudukan. Rokok dinyalakan.

“Sambil ngopi enak, Yon!”
Yono tersenyum kecut.

Namanya Muhammad Hadiwiyono, asli Jember, kawan sekampus saya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Orangnya periang, gampang akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Dibanding kawan-kawan lain yang merapat di Patangpuluhan, Yono terbilang yang paling dekat dengan Cak Nun.

Awal Agustus 2019 saya saling berkabar melalui WhatsApp, sekalian menginformasikan bahwa Cak Nun dan KiaiKanjeng akan beracara di Jember. Yono menjawab bahwa sedang dalam perjalanan dari Jawa Tengah menuju pulang ke Jember. Tampaknya perjalanan darat tidak nututi, sehingga tidak sempat bertemu dengan Cak Nun dan kawan-kawan player KiaiKanjeng. Sebagian besar anggota KiaiKanjeng sangat dikenalnya, karena Yono sendiri ikut dalam proses awal berdirinya KiaiKanjeng.

Dini hari, di tengah nyenyaknya tidur, Imam Syuhada, adik ipar Cak Nun, menelpon, mengabarkan bahwa kawan kita, Muhammad Hadiwiyono terkena serangan jantung, dan meninggal di RS Hermina Yogyakarta, pada Rabu, 21 Agustus 2019, pukul 23.30. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Berturut-turut kabar bermunculan: Cak Nang, adik Cak Nun mengirim inbox. Mantan istrinya, Nur Hilda, ibunya anak-anaknya Yono: Mehdi Ades Caesar dan Shelma Nadira, juga berkirim berita.

Selamat kembali pulang Yon, Allah memanggilmu. Allah yang sering kita obrolkan dalam diskusi-diskusi kecil di Rumah Gerjen. Ketika itu, berani-beraninya ya kita undang Cak Nun. Kau jemput di Patangpuluhan, dan malamnya kau antar pulang.

Saya bersaksi Yon, kau orang baik. Saya iri, kenapa tempat terakhirmu di Pesantren?

Buku Cak Nun Majalah Sabana