Bunda Cammana, Cinta, dan Masyarakat Mandar

Semalam di Rumah Maiyah Kadipiro berlangsung Yasinan dan Tahlilan untuk kepergian Bunda Cammana menghadap Allah Swt. Sebelum itu, diadakan shalat jenazah ghaib yang dipimpin Kyai Muzammil. Acara disiarkan secara live streaming youtube dengan maksud agar teman-teman di Mandar, khususnya yang berada di rumah Bunda Cammana di Limboro termasuk keluarga beliau, bisa menyaksikan dan merasakan langsung suasana ungkapan hormat dan cinta dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng kepada Bunda Cammana.

Selepas Yasinan, Tahlilan, dan doa, Mbah Nun meminta teman-teman KiaiKanjeng urun menuturkan hikmah-hikmah yang diperoleh dari sosok Bunda Cammana. Masing-masing menyampaikan. Sejak dari Bunda Cammana dengan kekhasan vokalnya sebagai pelantun shalawat, Bunda Cammana sebagai seorang perempuan Ibu yang teduh mengayomi, hingga Bunda Cammana sebagai seseorang yang hidupnya diliputi oleh mencintai Allah dan Rasulullah Saw.

Mbah Nun juga meminta teman-teman mengambil perspektif Mandar sebagai suatu masyarakat dalam menuturkan hikmah tersebut.

Tulisan singkat ini ingin ikut sedikit merespons dengan berangkat dari apa yang sempat sekilas diceritakan Kyai Muzammil tadi malam bahwa melihat kabar meninggalnya Bunda Cammana, salah seorang sahabatnya, seorang intelektual muslim, yang tinggal di luar negeri bertanya kepada Kyai Muzammil ‘siapa Bunda Cammana’.

Tentu saja tidak ada keharusan seseorang harus mengenal seseorang yang lain. Namun, apa yang terjadi pada sahabat Kyai Muzammil tersebut boleh jadi mengisyaratkan satu hal yaitu dalam kurang lebih 25 tahun terakhir kajian-kajian keislaman khususnya antropologi Islam lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada fenomena keislaman kota, kelas menengah, dan modernity. Sebut salah satu misalnya: urban sufism (sufisme perkotaan). Fenomena unik seperti Bunda Cammana dan masyarakat Mandar nun jauh di Sulawesi Barat karenanya kurang mendapatkan perhatian.

Padahal, bila berbicara mengenai riset keislaman, sebagai kawasan yang menyimpan sejarah dan fenomena, Mandar menjanjikan hasil-hasil penelitian yang menarik yang dapat diletakkan dalam kerangka besar body of knowledge Islam di Nusantara. Sebagai suatu masyarakat, layaknya masyarakat-masyarakat lain, Mandar tidak hanya berisi anggota masyarakatnya yang terlahir di sana, melainkan pada diri dan relasi antar anggota masyarakat tersebut terdapat alam pikiran, sejarah, karakter, dan ragam-ragam ekspresi.

Di Mandar terdapat sejarah Kerajaan Mandar, fenomena (orang) laut Mandar, kiprah dan sejarah Imam Lapeo, dan ada orang-orang yang dilahirkan dari sana seperti almarhum Baharuddin Lopa. Ada Teater Flamboyan. Dan, tentu saja, Bunda Cammana menempati satu titik di semesta Mandar. Saya bersyukur, berkat Mbah Nun, saya beberapa kali bisa ikut mengunjungi bumi Mandar dan bersahabat dengan teman-teman di sana. Sempat berkunjung di kediaman Bunda Cammana dan menghirup atmosfer sosial spiritualnya. Ini adalah berkah di mana saya bisa ikut menyelami sebuah masyarakat secara lebih dekat dan intim.

Dari teman-teman di sana, saya mengetahui bahwa Bunda Cammana bukan hanya seorang pelantun shalawat dengan suara khasnya yang mungkin gampang membuat kita menyebutnya sangat “etnik” padahal kata “etnik” di situ tanpa disadari dapat melanggengkan dikotomi global dan etnik yang tak selalu menguntungkan. Dikotomi di mana kekuatan yang memposisikan diri pada posisi global/universal merasa lebih tinggi, dominan, mengetahui, dan boleh mengatakan tentang “yang etnik”. Pendek kata, yang global membangun kuasa pengetahuan untuk merasa punya hak untuk mengobjekkan dan mendefinisikan yang ‘etnik’.

Bunda Cammana bukan hanya pelantun shalawat, melainkan seseorang yang menghabiskan usianya untuk melayani masyarakat. Mengajar ngaji, memenuhi undangan untuk mendoakan, dan untuk bershalawat. Tak jarang beliau memenuhi permintaan masyarakat yang tempatnya cukup jauh dan harus dijangkau dengan naik perahu menyeberang sungai. Atau, lebih sering naik transportasi angkutan desa. Bunda Cammana juga diminta mendoakan agar kuda yang liar bisa jinak dan patuh sehingga bisa lebih mudah ketika digunakan untuk memenuhi bermacam kebutuhan. Bunda Cammana menjadi semacam penyambung antara masyarakat sekitar dengan Allah Maha pengabul permohonan. Menjadi penghubung antara lokal/bumi di situ dengan langit di atas.

Masyarakat seperti Mandar dengan demikian bukan hanya sebuah formasi profan dan sekuler, melainkan di dalamnya ada nilai-nilai keagamaan yang bergerak dan bergetar di dalamnya. Ini barangkali penting disadari agar pembicaraan tentang relasi antara agama dan masyarakat/politik tidak melulu terfokus pada upaya penerapan “Islam” secara formal politik. Nilai-nilai rohani dan spiritualitas justru berlangsung lebih awet di dalam masyarakat, dan itu tercipta melalui otentisitas sekaligus integritas sosok-sosok seperti Bunda Cammana.

Kiranya tarik-menarik antara yang profan dengan yang spiritual bisa terjadi di dalam masyarakat misalnya diwakili oleh bagaimana respons masyarakat menerima hal-hal baru dari kemodernan baik produk material, cara hidup, dan konsep penataan masyarakat, tetapi kita bisa merasakan bahwa di Mandar yang spiritual masih kuat berakar dan menyangga interaksi-interaksi di sana. Bunda Cammana dengan khidmatnya pada Agama memberikan sumbangan besar untuk hal ini.

Hal lain yang saya rasakan dari Mandar adalah fenomena tentang bagaimana cinta dan ketawadhukan dapat diwariskan antar generasi dengan sangat baik. Mbah Nun sudah sejak tahun 80-an berinteraksi dengan sahabat-sahabat di Mandar. Tentu saja hingga saat ini. Dan itu berarti sudah ada sekian generasi di bawahnya. Anak-anak dari sahabat-sahabat seangkatan beliau sudah banyak, mungkin juga tidak sedikit yang sudah bercucu. Regenerasi di Teater Flamboyan juga telah berlangsung, dan saya menyaksikan bagaimana teman-teman muda dan remaja sangat hormat, ta’dhim, dan mencintai Mbah Nun. Buat saya itu sangat mengesankan. Sebuah komunitas dibangun dengan salah satu lapisan berupa cinta kepada seseorang yang dicintai para sesepuh, senior, atau orangtua mereka dengan kadar yang tidak berkurang sedikit pun.

Kecintaan Bunda Cammana kepada Mbah Nun, KiaiKanjeng, dan jamaah Maiyah turut mengisi lapisan-lapisan cinta di dalam masyarakat Mandar, sekurang-kurangnya terjadi di dalam relasi antara Bunda Cammana dengan teman-teman Teater Flamboyan atau jamaah Maiyah di sana. Sementara itu, tentang kiprah, peran, dan apa-apa yang pernah dilakukan Mbah Nun di sana akan merupakan topik tersendiri yang membutuhkan ruang tulisan yang tersendiri pula, termasuk apa makna interaksi Mbah Nun dengan tokoh masyarakat di sana dan sedikit tentang hal ini pernah saya tulis di rubrik ini dengan judul “Contoh Hubungan Erat Antar Dua Etnis”.

Pada sosok Bunda Cammana, kita belajar bagaimana sebaiknya kita mengisi masyarakat dengan cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada sesama manusia dengan segenap pelayanan dan kebajikan. Terkhusus mengenai cinta kepada Rasulullah, kita semua merasakan betapa dalam cinta Bunda kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dengan semua itu, Bunda Cammana mengajarkan secara tidak langsung bahwa jika masyarakat hendak lestari, isilah dengan cinta. Isilah dengan hal-hal yang awet. Isilah dengan hal-hal yang permanen mengisi hati dan jiwa. Bunda Cammana memberi contoh bahwa di tengah praktik kemodernan yang sebagian berisi hal-hal atau konsep yang temporer, mestilah ada yang sunyi merawat yang hakiki agar sebuah masyarakat tak gampang punah.

Siang hari ini, jenazah Bunda Cammana diantar ke pemakaman. Kita semua menundukkan badan memberikan penghormatan dan di dalam hati kita bersyukur diberi kesempatan Allah untuk pernah mengenal dan bertemu dengan Beliau. Seseorang yang hari-harinya berisi cinta dan kebajikan, dan Allah mengatakan Hal jaza’ul ihsan illal ihsan (Apakah balasan kebajikan jika bukan kebajikan?). Selamat jalan, Bunda Cammana.

Yogyakarta, 8 September 2020

Buku dan Merchandise