Anakku Yono, Sarang Angin Burdah

Si Preman itu selama tujuh tahun terakhir hidupnya diam-diam ‘bertapa’ di sebuah Padepokan dan atau Padepokan di sebelah timur utara Yogya. Ia dengan keluarganya tinggal di Semboro, Jember, tetapi secara rutin menyempatkan sela-sela waktunya untuk berkunjung dan menikmati husnul khatimah di Padepokan itu.

Sejak Minggu 18 Agustus 2019 anak saya alumnus Universalitas Patangpuluhan era 1980-an itu rajin tidur-tiduran dan guyon-guyon di Masjid kecil sederhana di Padepokan Sambisari Yogya utara, di sela-sela shalatnya, rutin nderes ngaji Qur`annya, jamaah shalawatnya, serta kemesraan makan bersama model santri. Di komunitas kecil penuh kemesraan dan kesederhanaan itu semua sudah lama menikmati Yono sebagai “Hafidhul Burdah”.

Yono dan Shalawat karya Imam Busyiri Iskandariyah itu seperti kipas angin yang menyejukkan ruang dan siapa saja yang ada di situ. Ia hafal, bahkan sangat hafal Burdah. Muhammad Hadiwiyono adalah Sarang Angin Burdah. Suaranya bagus mengalun. Lelaki yang gagah, gotot, tinggi besar, tapi vocalnya lembut dan volume shalawatannya lirih. Anak Jawa Timur, biarpun penggembala kambing, rata-rata fasih baca Qur`an, lelagu Arabnya naluriah, bahkan shalawatannya Yono mendayu dan mengayun.

Sesudah berjamaah Isya, makan bareng dengan semua Alihi wa Ashabihi, tak pernah reda Yono bergurau, tak pernah kehabisan bahan Yono merenyahkan suasana dengan guyonan-guyonannya. Kemudian menjelang tengah malam Yono berbaring di niratan atau beranda sebelah selatan Masjid. Kemudian tiba-tiba saja pada pukul 00.30 ia “nilap” semuanya. Tidak bilang-bilang bahwa ia sudah kencan dengan Baginda Izroil.

Sudah sejak dulu memang Yono rasan-rasan ia ingin dimakamkan di tanah kecil sebelah imaman Masjid itu. Ternyata bukan hanya keinginan, tapi suatu rancangan yang seksama. Detik nyawanya diserahkan ke genggaman Malaikat Izroil pada momentum yang sangat indah namun terlalu mengejutkan. Yono ternyata menguasai Ilmu Maqamat.

Di tengah bulatan dunia, di tengah hamparan Nusantara, ia memilih satu koordinat, di tengah lingkungan kecil yang penuh kebersahajaan, penuh pepohonan dan kembang-kembang – suatu petak tanah yang sangat teduh dan nyaman, yang seakan-akan di situlah dulu firman Allah itu ditanazzulkan: “Ya ayyatuhan-nafsul muthmainnah, irji’i ila Robbiki radliyatan mardliyah, wadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati….”

Mas Yono, berbaju putih sebelah kanan Cak Nun.

Saya termasuk yang ditilap, dan itu pertanda bahwa ilmu batin saya masih sangat awam, rendah dan sempit. Saya datang terlambat. Saya buka kain putih penutup jenazahnya di bagian kepala. Saya ciumi wajahnya. Saya panggil-panggil namanya siapa tahu ia menjawab atau bangun kembali. “Ya sudah Yon, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Tolong banyak sebut-sebut nama saya di tengah lingkaran-lingkaran para ruh dan Malaikat, tunggu saya nanti akan menyusul….”

Tiba-tiba saya tersenyum kecut sendiri. Siapa bilang saya akan berhak dan pantas untuk berada di mana Yono berada sekarang? Ia dipanggil Allah di Masjid, sesudah shalat, shalawatan, kenduri nikmat Allah – alangkah mulia anakku ini!

Saya segumpal Abu Nawas, “dzunubi mitslu a’dadir-rimal”, yang tidak bisa mengelak untuk “ilahi ‘abdukal ‘ashi ataka, muqirron bid-dzunubi waqad da’aka”. Tapi apakah kedatanganku kelak akan tiba di alam kemuliaan tinggi sebagaimana anakku diletakkan oleh Allah padanya? Anakku yang sejak menjadi penghuni Patangpuluhan rumah kumuhku selalu berbuat baik dengan sembunyi-sembunyi. Lulus 54 tahun bermesraan dengan Allah swt dan Rasulullah saw namun ia tutupi dengan perilaku yang seolah-olah jauh dariNya.

Ditabiri dengan sejumlah kenakalan, keliaran, dengan memenuhi silaturahminya dengan saya dengan canda, guyon, serta selalu menampakkan kepada saya seolah-olah ia adalah penggemar perkelahian, hobi gelut, nyaman berantem – dengan hanya satu kali saya menyaksikannya berkelahi di Bandara Juanda Surabaya – itupun saya yang memulai.

Ada sopir yang mengantarkan tuannya mau naik pesawat, berhentinya terlalu lama sebelum sampai ke tempat parkiran. Seorang petugas mendatanginya, membentaknya dan menendang kakinya. Itu membuat saya kalap, sehingga saya loncat ke badan petugas itu, saya pithing lehernya, saya jatuhkan ke aspal dan saya kunci. Dan Yono menerjang petugas yang lain….

Ah, saya baru akan mulai bercerita dan menulis tentang anak saya alumnus Patangpuluhan ini….***

Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun