Sengkuni2019 Kontinuasi Carangan Pewaris Sah Kebudayaan Dunia

“Kalau ada yang tidak terima, saya usir gedung ini dari diri saya sendiri!” Dialog Narator yang juga adalah Sengkuni ini belum begitu bisa saya maknai apa-apa sampai ketika Sengkuni2019 dipentaskan di gedung Balai Pemuda, Surabaya. Gedung ini sangat megah dan indah, sebagai gedung saja. Tapi sebagai gedung kesenian, Balai Pemuda tidak punya sisi keliaran carangan, imajinasi pendobrak. Saya menamakan gedung ini sebagai Gedung Fiqh, mengingat betapa banyak aturan, larangan bahkan terdengar di telinga seperti ancaman. CCTV mengintai di sana-sini, sedangkan para petugas terancam penghidupannya manakala mata-mata pengintai digital itu mendeteksi adanya pelanggaran. Dilarang merokok bolehlah dimaklumi, namun juga tidak boleh membawa makanan, minuman, dan berbagai aturan lain yang benar-benar di luar nalar seniman manapun.

Tapi gedung kita ini hanya salah satu dari sekian banyak pucuk gedung lainnya yang bermunculan. Tepat ketika saya ingin sekali percaya bahwa modernitas masih bisa diberikan harapan, ternyata saya mesti merasa salah. Modernitas, anak kandung renaissance dibangun di atas rasio. Rasio perlu tolok ukur. Tolok ukur diaplikasikan dalam standarisasi. Maka manusia penghuni gedung modernitas selalu terpaku pada formalitas, pembakuan, pelembagaan, pemadatan yang memuncak pada pembekuan. Beku, tidak punya pilihan lain selain mencair atau retak, hancur luluh lantak.

Tentu saja beberapa hal memerlukan penataan, pagar, dan pakem. Tapi juga keliaran carangan, jangan sampai lenyap ditimbun pengabdian pada kekuasaan yang toh juga mengabdi pada kekuasaan di atasnya. Pada masa di mana segalanya belum benar-benar dibaku-bekukan, budaya adalah milik bersama segala manusia. Baru ketika ada batas administrasi bernama negara, orang mulai berpikir ini budayaku dan yang sana bukan budayaku. Kita mengalami pembakuan kebudayaan cukup lama, bertahap dan akhirnya agak kejeron.

Budaya paling murni, kalau memang ada istilah budaya murni, adalah yang lahir ketika manusia pada satu wilayah lingkup kecil merespons situasi alam di sekitarnya. Respons ini urusannya pada awalnya masih untuk survive, lama-lama dia berkembang pada tataran keindahan. Pada tahap selanjutnya, ketika manusia mulai lita’arofu, kebiasaan survival di satu wilayah bisa diserap ke wilayah lain tanpa perlu disadari karena memang waktu itu tidak ada konsep budaya milik siapa. Tidak ada hak paten, tidak ada konsep siapa menciptakan atau mengarang apa. Itulah kenapa, justru dahulu ketika manusia belum mengenal teknlogi informasi secanggih sekarang, manusia masih bekerja sama sebagai satu ras tanpa perlu paham juga bahwa dia bekerja sama dengan budaya lain. Ludruk adalah pertemuan Prancis, Turki dan keliaran Jawa Timur. Ronggowarsito dan Karel F Winter, bekerja sama saling tukar pandang, cerita dan folklore. Lokal-global dan global-lokal adalah dialektis. Tebu Jombang ke harga saham gula, tetap bersinambungan pada Great Depression di Amerika. Kita manusia terjalin dengan benang-benang tipis silaturrohim. Dan makin memadat belakangan, sehingga benang itu makin tipis dan banyak yang sudah kusut bahkan putus.

“Versi Sengkuni yang begini ini jangan anda kira ini bikinan saya, itu ada di dalam naskah bernama Jagi Basudewo Sodhoguru. Orangnya masih ada,” itu diucapkan oleh Mbah Nun pada sesi public review di hari pertama. Sambil Mbah Nun juga menyampaikan keluhan para pemain dan kru mengenai regulasi gedung yang jauh dari manusiawi kepada pejabat dinas periwisata.

Rasanya saya pernah menuliskan bahwa seorang kawan saya sangat yakin yang dimaksud Jagi Basudewo itu adalah Sadhaguru yang selalu trending topic di YouTube karena membawa narasi pembongkaran spiritualitas pada kaum muda India. Jangan-jangan kawan saya ini benar juga. Tapi apapun itu, yang paling berharga dalam pentas Sengkuni2019 ini adalah bagaimana ternyata di tengah kebudayaan yang kepala batu membeku, masih ada cara-cara sendiri mengakali kebuntuan itu. Kalau memang ide Sengkuni2019 berasal dari tenggara Afganishtan, namun disana dia hanya menjadi pembahasan dan pengkisahan, saya pernah menonton ketika Sadaghuru menjelaskan kisah Sengkuni (Shakuni) memakan 100 saudaranya sendiri. Pemaknaannya sangat baik, tapi bagaimanapun dia sekadar menjadi bahasan forum. Ketika frekuensi diperlebar, ketika Sengkuni sampai hinggap ke kejeniusan Jawa, ternyata dia bisa diolah menjadi racikan naskah yang ciamik. Pada bahasan tentang Shakuni di sana, dia hanya cerita dengan pemaknaan dan dekonstruksi, tapi pada naskah Sengkuni2019 dia masuk pada emosi. Begitulah semestinya manusia bekerja sama bukan?

Mungkin sejak dulu sering terjadi pertukaran, transaksi nilai yang non-materiil seperti ini. Bagaimana satu ide kisah mengalir dari satu budaya, ke budaya lain, diolah oleh budaya sebelah sana menjadi folklore di sebelah situ, jadi resep makanan oleh ibu tetanga dan menjadi untaian rangkaian peradaban demi peradaban. Apakah dinasti Kuru, juga ada kaitannya dengan Khuros di Persia? Atau Quraish di Arab? Entahlah, tapi kan bisa saja. Apakah Easter dan Ostara? Apakah Alexandria dengan tritunggal Ra, Isis dan Osiris? Apakah Johanes yang membaptis di Sungai Jordan kemudian mengalir satu milenium, lantas 6 abad lalu kemudian menjadi Sunan Kalijorndania? Mungkin bisa, mungkin otak-atik gatuk? Tapi peradaban macam apa yang sudah pernah menemukan istilah “otak-atik gatuk?” pastilah peradaban yang pernah punya pengalaman bahwa segalanya bisa dihubung-hubungkan, bisa memang berhubungan bisa juga tidak terlalu berhubungan.

Yang berharga pada Sengkuni2019 bagi saya pribadi bukan sekadar isi nilai yang dikandung dalam kata-kata naskah dan dialog. Tapi Sengkuni2019 sebagai sebuah peristiwa, di mana dia menunjukkan pada kita bahwa biarlah negara dan bangsa membeku. Biarlah gedung baik gedung seni, gedung agama, gedung para sufi, gedung pemerintah, gedung pendidikan dan lain sebagainya itu. Biarlah mereka semua beku, tapi kita memilih tidak. Kita memilih jadi manusia yang diciptakan bersuku, berbangsa (kemudian iseng bin konyol bikin negara) untuk saling mengenal. Saling bekerja sama sebagai satu komunitas bernama warga dunia. Bukankah sejak dulu, kita pernah mendengar bahwa “Kamilah pewaris sah atas peradaban dunia”? Sengkuni2019 adalah bukti dari kalimat yang membahana tersebut.

Buku Cak Nun