Panggilan Pulang KemBali

Mukadimah MasuISaNi Maret 2019

Serupa debu terbawa angin, entah dari mana, menuju entah ke mana. Terlalu ringan untuk menghempas, terlalu berat untuk melayang. Lugu, gamang dan absurd.

Hingga suatu pagi, hawa dingin merangkul dan menyeret ke bawah. Jatuh, lama dan curam. Terhempas menghujam tanah, tak dalam tetapi cukup untuk menguburnya sedikit. Lembab dan hangat.

Muasal debu adalah debu. Kendati tak mudah untuk mengatakan: perjalanan dari debu menjadi debu itu ibarat pergi-pulang. Menuju-kembali. Akan halnya ritus hidup. Dari mana kita berasal. Sampai di mana kita kini, dan akan ke mana nanti. Datang-pergi-pulang.

Konon, ada yang berkata bahwa hidup adalah perjalanan yang tidak menawarkan pilihan lain kecuali dijalani. Hidup adalah perkara kesanggupan menerima dan menjalaninya. Nerimo ing pandum.

Perjalanan pulang bisa saja ketemu jalan berliku, berkelok, bergerunjal, bercabang. Tetapi tempat menuju, hanya Ia sebaik-baik tempat kembali. Ia yang tidak ke mana – mana, membersamai, bermukim di diri.

Lalu, bagaimana kita memaknai panggilan pulang kemBali? Ke muasal: Bali marang sangkan paraning dumadi? Mari kita mengupas lapis demi lapis sembari ngopi tipis-tipis…

Buku Cak Nun