Nyuwun Ijazah, Mbah

Dini hari tadi Mas Alay, Saya, dan Mas Agus menemani Mbah Nun perjalanan pulang dari acara Sinau Bareng di SMAN 2 Kudus. Berangkat dari sana sekitar pukul 01.00 WIB.

Seperti yang hampir selalu terjadi, usai deretan panjang salaman itu, masih saja ada mereka-mereka yang setia menunggu Mbah Nun. Mungkin mereka ingin nambah salaman, atau minta foto, atau mau minta tanda tangan, atau mungkin sekadar untuk bisa memandang dari jarak lebih dekat. Ketika Mbah Nun berjalan ke ruang kepala sekolah, mereka ikut mengejar dan mencoba menembus lingkaran Banser dan Kokam yang mengawal Mbah Nun dan para tuan rumah.

Selama Mbah Nun beramah tamah dengan kepala sekolah dan jajarannya, mereka pun dengan penuh kesabaran menunggu di luar. Kemudian saatnya Mbah Nun meninggalkan lokasi, mereka coba manfaatkan kesempatan “terakhir” ini untuk mendapatkan keberuntungannya. Mereka mengulurkan tangan kepada Mbah Nun, bahkan sampai pun saat Mbah Nun sudah di samping pintu mobil dan tinggal masuk. Tetap saja tak bisa segera naik. Satu per satu dengan penuh kasih sayang, Mbah Nun layani mereka yang berjajar dan mengerubungi Beliau.

Tiba di dalam mobil, mobil pun segera bergerak pelan. Pintu jendela masih Mbah Nun buka, untuk melambaikan tangan dan ucap salam tanda pamit kepada mereka. Mereka-mereka juga ada yang memang sengaja berdiri buat menyaksikan Mbah Nun yang berada di dalam mobil. Sesekali terdengar panggilan mereka kepada Mbah Nun.

Jendela ditutup ketika benar-benar sudah tidak ada lagi orang seiring laju mobil perlahan meninggalkan SMAN 2. Satu mobil teman-teman SEMAK mengawal kami sampai di pinggir kota dan selanjutnya kami meneruskan perjalanan sendiri. Jalanan lengang, dan mobil kami segera meningkat lagi kecepatannya, meninggalkan kota Kudus, menyisir tengah malam yang sepi, dan hawa di luar sangat dingin. Perjalanan malam seperti ini sudah tak terhitung jumlahnya bagi Mbah Nun, sementara yang lain barangkali sedang terlelap dalam tidur di rumah masing-masing.

Di dalam mobil kami berbincang-bincang, dan sebenarnya saja Mbah Nun tidak terlalu banyak tidur di sepanjang perjalanan ini. Di antara yang Mbah Nun obrolkan itu ada dua term yang bolehlah saya sebut di sini yang semoga dapat menambah perspektif kita: tarekat silo (silo = bersila) dan tarekat tandang. Iya, hampir semua yang Mbah Nun bicarakan di mobil tadi malam adalah tentang thariqat. Dengan view yang baru.

Sampai kemudian, selepas tol Bawen-Semarang, Mbah Nun tertidur tapi beberapa kali terbangun. Ketika kami hampir masuk Sleman tepatnya di sebuah perempatan Tempel, mobil kami berhenti karena lampu merah. Di sebelah kiri kami berhenti juga sebuah truk ukuran besar. Dari truk itu ternyata turun seseorang, masih muda, dan langsung menuju mobil kami, mendekati kaca, dan mencoba bicara kepada mas Agus driver, “Mbah Nun sare?” “Iya, sare Mas.” Lalu dia bilang kalau dia dari Kudus.

Temannya yang ada di kursi sopir truk itu juga bilang mereka dari Kudus. Kesimpulan kami seketika, mereka habis ngikuti Sinau Bareng juga. Pemuda tadi masih berusaha untuk bisa menyapa Mbah Nun dan kali ini dia menyampaikan, “Nyuwun ijazah Mbah Nun.” Tapi situasi tidak memungkinkan, lampu juga segera hijau dan memang Mbah Nun masih tertidur.

Walaupun, beberapa saat kemudian Mbah Nun terbangun, mungkin karena mendengar percakapan kami. Kami semua bertanya-tanya, kok tahu kalau ini mobil yang membawa Mbah Nun. Berarti sejak awal dia ikut acara dan ngematke atau nengeri mobil ini. Kalau dia memang ikut, truk besarnya tadi berarti diparkir jauh. Tidak begitu jelas dari mana asalnya. Kudus yang disebut mungkin juga adalah asal dia. Atau dia sepasang sopir dan kenek yang kebetulan melintasi Kudus dan sengaja meluangkan waktu dulu untuk menikmati Sinau Bareng dan lanjut jalan lagi begitu selesai.

Kami sampaikan ke Mbah Nun kalau pemuda tadi mau minta ijazah. Saya sendiri kaget juga, permintaannya kok ijazah. Di jalan, yang masih sepi, dan dingin. Kurang cocok suasana, waktu, dan tempatnya untuk melakukan hal yang lazimnya dilakukan di rumah atau di pesantren, saat mengaji misalnya atau dalam pertemuan khusus. Lagi pula, kebanyakan yang ketemu Mbah Nun di banyak tempat biasanya mintanya hanya berfoto bersama atau minta didoakan, atau minta waktu sejenak buat konsultasi atau bisa kita sebut on the spot counselling.

Tetapi pemuda tadi permintaannya spesifik: ijazah. Biasanya ini dilakukan oleh santri kepada kyainya atau anggota tarekat kepada mursyidnya. Permintaan ijazah juga mengandung makna bahwa seseorang yang meminta ijazah menempatkan diri untuk bersanad kepada orang yang dimintainya. Demikian pula dengan pemuda tadi. Selain meminta doa, itu berarti dia mendaftarkan diri untuk bersanad kepada Mbah Nun. Berpikirlah saya dalam hati: lha ini kan namanya nyambung dan contoh tunai dari apa yang disampaikan Mbah Nun di dalam mobil. Sesuatu yang tidak saya duga sama sekali sebelumnya. Kok ada orang jam segitu di jalan yang lengang dan dingin minta ijazah.

Begitulah peristiwa yang saya saksikan menjelang subuh tadi, dan saya berharap pemuda tadi bisa membaca tulisan ini, sebab saya ingin sampaikan ke dia bahwa permintaannya sudah diterima oleh Mbah Nun. Beliau senang, bangga, dan terharu atas kesungguhan hidupmu terbukti dari bahwa kamu merasa membutuhkan bekal ijazah untuk diamalkan dalam kamu menempuh kehidupan. Mbah Nun mengatakan kepada kami, “Iya, dia sudah dapat ijazah yang dia minta.”

Demikian, sepotong kisah dalam perjalanan pulang dari Sinau Bareng tadi malam saya coba catat. Maturnuwun.

Yogyakarta, 5 September 2019

Buku Cak Nun