Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4103

Identifikasi Menjadi Subjek Zaman

(Liputan Sinau Bareng Milad ke-28 SMAN 2 Kudus, 4 September 2019)

Pukul 20.00 WIB KiaiKanjeng mengisi panggung, dan malam langsung disapu oleh warna nada, aransemen yang dibuka dengan nada lagu Victory yang dipopulerkan oleh bond bernikah denting gamelan Jawa dan diisi lirik sastra shalawat Arab. Nomor berjudul Shalawat bond, yang dilantunkan seolah memberi pesan pada jamah dan hadirin Sinau Bareng di SMAN 2 Kudus malam ini, Rabu, malam Kamis 4 September 2019, bahwa batasan pengidentitasan budaya adalah sesuatu yang bisa kita khalifahi dalam keindahan.

Tuhan tidak ciptakan batas budaya sepertinya, manusia yang berbid’ah memadatkan budaya menjadi identitas. Semua manusia di budaya manapun, di belahan dunia dengan zaman dan generasinya masing-masing punya capaian, nomor-nomor KiaiKanjeng bagi telinga saya pribadi selalu bermakna sebagai apresiasi atas capaian berbagai peradaban di atas satu dunia.

Kudus di pulau Jawa ini, dalam bahasa Arab Quds, dalam bahasa Ibrani Khodes (hilangkan semua huruf vokal) bahasa Ibrani punya hukum bahasa yang cukup rumit, mungkin lebih rumit dari nahwu sharaf dalam sastra Arab. Atau entah, capaian bangsa dan peradaban mungkin bukan untuk diperbandingkan tapi untuk bahu-membahu anfa’uhum linnas.

Lita’arofu antar produk budaya satu dengan lainnya, selalu diperlukan agar kita mengerti dimana fadhilah otentisitas kita, sekaligus juga mengerti batasan kebudayaan kita. Semua produk kebudayaan punya kebaikan dan keterbatasannya masing-masing. Karena tidak mungkin ada satu budaya yang mengalami semua hal. Saya rasa, disinilah tepat sekali dalam Sinau Bareng kerap kita diajak untuk melatih ekspresi dan gerak. Pun, dalam Sinau Bareng kali ini kita bisa melihat semaraknya olah ekspresi ini. Sebagai masyarakat yang berpola komunal-agraris, dengan struktur padat kemasyarakatan ala istana kraton dan ditambah variabel pasca-kolonial, seringnya kita agak bermasalah dalam soal ekspresi dan gerak tubuh. Menyenangkan sekali, di tengah samudera Sinau Bareng hal ini dilatihkan dengan serius and so much fun.

Sejak awal, tema “Kacang Ojo Ninggal Lanjaran” sudah diolah oleh KiaiKanjeng. Setelah Shalawat bond selesai mengalun dengan meriah, Mas Doni dan Mas Jijid berinteraksi mesra dengan jamaah dan para hadirin. Dua orang jamaah yang ternyata adalah alumni SMAN 2 berbeda angkatan dipertemukan di panggung, komunikasi lintas generasi terjadi dengan mesra.

Ketika sebuah lagu karya John Denve, Leaving on a Jet Plane dilantunkan, Mbah Nun kemudian menyusul ke panggung. Tampaknya Mbah Nun mafhum bahwa selain siswa-siswi SMAN 2 Kudus, banyak juga yang hadir berasal dari luar, Mbah Nun meminta agar semua yang hadir bersifat mengabdi pada yang empunya hajat. Siswa-siswi sekolah ini sendiri hadir dengan mengenakan seragam sekolah mereka dengan tempat duduk yang dipisah antara lelaki dan perempuan. Iya betul, kita di Maiyah memang terbiasa dengan duduk yang bercampur antar lelaki dan perempuan tapi kita perlu sesekali melatih daya kita untuk berdamai dengan aturan main dunia. Dunia tidak selalu seperti yang kita angankan, bukan?

Pada para siswa-siswi SMAN 2, yang tentu saja kebanyakan masih berusia remaja. Mbah Nun menegaskan bahwa “Kalian adalah penentu masa depan”. Dan untuk peran sebagai subjek zaman itu, kemampuan yang sangat perlu dimiliki adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dengan presisi.

Malam ini, seorang anak berusia belasan bernama Khalid hadir dan aktif terlibat di panggung. Pada Sinau Bareng sebelumnya, Khalid juga hadir. Entah dengan siapa dia? Padahal esok harinya dia harus sekolah. Dan Khalid ini tampak lugu, menikmati dengan peci melayu dan baju kokonya. Apa yang kau cari Khalid?

Ini memang selalu terjadi, generasi tua akan sulit menangkap gejala dan fenomena generasi muda. Sedangkan, generasi muda punya pencarian sendiri dan kadang lebih tidak peduli. Bisa saja otoritas generasi tua tidak terlalu mereka butuhkan karena memang beda arah pencarian.

Ketidaksiapan generasi tua hampir di segala zaman adalah ketidaksiapan melihat ilusi otoritas mereka runtuh. Apalagi di zaman ini, tidak ada yang namanya lingkaran utama. Tidak ada arus utama atau mainstrean. Maka tidak ada juga namanya anti mainstream. Ini adalah generasi yang mereka berkesempatan memiliki arus mereka, dunia mereka sendiri. Kacang ojo lali lanjaran dan lanjaran juga harus siap bahwa kacang memang harus dilepas sewaktu-waktu. Menjadi tua bisa saja berarti menjadi bijak, bisa juga berarti sudah lapuk. Masa sekarang pasti tidak ideal, masa lalu juga pasti bukan surga.

Tapi yang muda kelak akan jadi tua, maka merekalah titik konsentrasi kepengasuhan agar lebih bijaksana dalam kehidupan. Sinau Bareng mempertemukan dua arus generasi ini. Dalam dolanan, sesekali pesan penuh kasih, teguran yang agak keras, dalam nyanyian, nada, canda, tawa. Hanya tuhan yang tahu, di mana Dia taruh kita punya masa lalu, dan ingatan kita akan masa lalu sangat rapuh. Sinau Bareng konsentrasi pada masa hadapan dengan rentang busur sejauh cakrawala.

Buku Cak Nun