Mereka yang Patah Hati Kepada Cak Nun

Dan bukankah patah hati hanya terjadi manakala anda punya rasa sayang dan harapan? Pada kalimat agak alay untuk zaman ini, beberapa pemuda belia akan berkata “salah loe ngarep!”. Paragraf pertama kita bercanda saja dan tidak ada kepastian selanjutnya akan lebih serius. Belakangan saya membaca beberapa postingan di media sosial yang tampaknya malu-malu terbuka menyindir Mbah Nun.

Saya menganggap Mbah Nun guru. Istri saya yang tidak besar dari lingkungan Kiai minded juga dengan tegas menyatakan demikian. Tapi apakah konsep guru-murid yang kami dan kita pegang selalu sama? Rupanya saya dan istri saya tidak sama sejalan soal konsep guru-murid ini. Saya banyak mengambil dasar kuda-kuda logic dari Mbah Nun, sementara istri saya merasa Mbah Nun banyak memberi metode konseling psikologi. Beda, walau ada samanya.

Itu baru dua orang. Bagaimana dengan Jamaah Maiyah yang jumlahnya entah berapa? Dan perlu ditekankan, besar jumlah sama sekali bukan kebanggaan bagi Maiyah, karena berapa banyak kita lihat yang besar jumlahnya tapi kecil dalam kedaulatan berpikir? Mudah diseragamkan oleh komando agamawan dan ideolog berbungkus narasi narsis-mistis-religi. Saya tidak merasa harus berbaiat di Maiyah dan itu yang membuat saya nyaman dalam atmosfer ini.

Apakah tiap person di dalam organisme Maiyah seragam? Saya akan bilang tidak, dan itu sejauh yang bisa saya amati. Juga sejauh orang-orang Maiyah yang saya temui. Dan untuk ini, referensi saya bertemu dengan orang Maiyah bisa saya katakan cukup boleh diadu secara jumlah dan wilayah dimensi kehidupannya. Orang Maiyah tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Kehadiran mereka pada berbagai lapis dan sudut pandang yang mereka ambil dari Maiyah selalu ada yang beda.

Kalau kita kembali pada postingan-postingan yang menyindir Mbah Nun di media sosial, kita bisa pertanyakan pada dua hal. First of all, Mbah Nun tidak punya media sosial, maka pertanyaan awalnya adalah kepada siapakah postingan tersebut ditujukan? Dan ini akan mengarah pada pertanyaan kedua yakni, tujuannya apa? Membenahi? Mencari pembenaran dari yang sama cara pikir? Atau sekadar ekspresi alay saja?

Itu juga kita tambah dengan satu variabel, yakni bahwa majelis Maiyah selalu terbuka. Jadi, Anda bicara tentang sosok yang tidak ada di media sosial, dan Anda tidak muncul untuk mengutarakan langsung pada majelis yang bisa Anda datangi. Bisa tolong beri saya satu alasan logis untuk tidak bilang ini adalah bentuk kepengecutan? Atau kemungkinan paling sopan yang bisa saya pikirkan adalah, ini hanya produk dari orang yang kepengen punya massa tapi tidak bisa laris dalam menjual wacananya. Mungkin wacana Anda ketinggalan zaman, mungkin Anda bicara sejarah dengan data dari abad-abad yang sudah lewat sementara akademisi dan ilmuwan sejarah sudah move on peradaban dari berdekade lalu.

Baiknya kita memisahkan variabel sebab dan akibat dan tidak serta merta menyimpulkan dua variabel yang berdekatan pasti berhubungam sebab-akibat. Tapi pola yang muncul, maraknya postingan pengecut semacam ini memang ramai manakala pilihan politik sedang dipertaruhkan. Pilpres 2019 baru saja usai dan kita tahu, pilu dari pemilu itu belum sembuh. Beberapa orang ingin diakui bahwa pilihannya adalah yang terbaik atau setidaknya paling rasional dalam lesser of two evil. Apalagi pilihan yang telah direstui para sumber wacana mereka yang sakral-sakral itu.

Beberapa orang mungkin, karena terbiasa dalam atmosfer lingkaran di mana ada satu pusat wacana dan sang “ummat” hanya jadi followers tanpa kemandirian pikir, mereka pikir Maiyah juga adalah lingkaran semacam itu. Dude, please remember the world doesn’t only revolve around you. Tidak semua hal seperti standarmu. Tidak semua lingkaran, seperti lingkaranmu. Terutama sekarang, banyak hal sedang berubah. Standar-standar baru sedang tumbuh dan zaman sedang menyaring hal-hal yang tidak relevan lagi. Banyak orang yang mencintai dan tersentuh oleh Mbah Nun–saya tidak pernah membuat hitungannya tapi banyak, kalau Anda mau hitung silahkan. Mereka akan sangat tersinggung apabila orang yang mereka cintai direndahkan dan begitulah mekanisme cinta.

Tapi kadang beberapa cinta jatuh salah arah, ekspresinya kadang justru berkebalikan. Di sini mungkin kita bisa mencoba menggali ekspresi para penyindir malu-malu kurang tahu malu di media sosial. Mereka justru sangat mencintai Mbah Nun dan jatuh pada control freak, ingin agar yang dicintainya selalu menjadi seperti apa yang diinginkannya bahkan mengatakan segala yang disepakatinya. Jauh dalam hati mereka, Mbah Nun selalu hadir terucap atau tidak. Mereka sangat teliti mengamati, walau tidak jangkep dari apa-apa yang Mbah Nun sampaikan. Cinta yang benar-benar dalam sehingga ketika dia bercampur dengan harapan, kekecewaan mereka juga sangat besar. Bahwa Mbah Nun tidak ikut terseret dalam alur pikiran mereka.

Dalam atmosfer semesta Maiyah, kami para JM berusaha selalu menajamkan cinta kami. Kami melatih cinta menjadi ruang. Ruang penerimaan satu sama lain. Bahwa setiap orang berhak memulakan pencariannya, berhak menetapkan jalur mlaku-mlaku lelakunya, dan berhak menetapkan standar pada dirinya sendiri. Beberapa JM sangat tradisionalis, saya kenduren aja males. Beberapa JM adalah suporter sepakbola and if you ask me, duh how i hate olahraga bernama sepakbola ini. Beberapa JM yang saya temui sangat nasionalis, sementara saya sangat tidak bisa menganggap imajinasi negara sebagai sesuatun yang real apalagi harga mati.

Tapi semua oke saja, kami punya rasa cinta yang lebih besar daripada harapan. Kami mendidik diri kami untuk menampung, menerima karena di atas dunia ini, saat ini apalagi, terlalu banyak penolakan. Maka kepada mereka yang mengira dirinya membenci Mbah Nun padahal jauh di dalam hatinya ada cinta yang tidak mereka sadari, mungkin saranku hanyalah sederhana. Anda perlu menakar, ukuran cinta dan harapan yang Anda miliki. Bahwa beberapa JM juga sangat galak pada Anda, ya sudah saya sebutkan, JM itu berbagai macam orangnya dan tidak berstandar sikap tingkah lakunya.

Atau daripada akal Anda yang tidak terlatih itu mumet membaca kalimat berbelit-belit dalam tulisan ini, bagaimana kalau saya singkat saja dengan hal paling sederhana bahwa, aslinya maumu Mbah Nun ikut dukung pilihan presidenmu yah? Betapa ibanya aku pada harapan dangkalmu itu saudaraku.

Buku Cak Nun