Membedah Anatomi Budaya Nada

Selepas beristirahat sejenak untuk shalat dan makan malam, sarasehan musik dimulakan kembali, yang kali ini dimulakan bersama Mas Helmi dan Mas Blothong.

Setting ruang di Rumah Maiyah sedikit disesuaikan karena memang nantinya akan dilanjutkan dengan latihan KiaiKanjeng. Sementara Mbah Nun bersama rombongan mengantarkan Bu Anne ke tempat makan yang tentu lebih layak untuk menjamu tamu jauh.

Workshop dilanjutkan. Pada workshop sesi kedua, sejak awal Mas Blothong berinisiatif untuk turut melibatkan hadirin sehingga materi mengenai nada-nada lebih dialami secara mendalam. Tidak lama, Mas Islami turut hadir di panggung.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Mbah Nun dan Bu Anne bersama Mbak Nia akhirnya tiba kembali dan langsung ke panggung. Dengan singkat Mbah Nun meringkas semua materi yang berapa saat lalu dibabarkan Mas Blothong dengan menganalogikan tangga-tangga nada dari berbagai budaya sebagai balung atau tulang. Sementara cengkok diibaratkan oleh Mbah Nun sebagai daging yang membungkus. “Anda jangan tertipu daging. Salah satu ciri orang Maiyah adalah tidak gampang tertipu”, ujar Mbah Nun. Acara kemudian dilanjutkan dengan latihan bersama antara KiaiKanjeng dengan Bu Anne.

Buku Cak Nun