Maiyah Qurban Lintas Generasi

Kesenjangan antar generasi

Dalam berbagai kesempatan muwajjahah maupun dalam tulisan, Mbah Nun selalu mengingatkan kita mengenai pemaknaan qurban yang berasal dari kata “qoroba” dan satu akar kata dari karib atau keakraban. Demikian kita bisa mengambil pemaknaan bahwa sejatinya idul kurban adalah hari raya sosial, hari di mana kita meneguhkan kembali tekad kita untuk saling mengenal dan akrab kepada apapun dan siapapun.

Ada banyak klasifikasi dan dikotomi kalau kita coba memetakan manusia menjadi kelompok dan golongan, pengklasifikasian itu berguna dalam bahasan-bahasan keilmuan akademis. Tentu kita tidak boleh menyepelekannya, walau hidup yang real tidak selalu berjalan dengan klasifikasi baku itu. Kali ini, dalam tulisan ini, saya mencoba menggali pola lintas generasi dan demikian tentu saja perlu berdamai dulu dengan klasifikasi generasi yang sedang ada.

Sesungguhnya selalu terjadi generation gap. Gap antar generasi, jarak pemahaman dan kesadaran yang terjadi antar generasi ke generasi. Sejak kapan? Mungkin sejak sangat mula peradaban kita. Dan pola gap antar generasi itu makin bisa kita baca sekarang. Sebab memang ada pola yang terbaca seiring waktu (contoh: klasifikasi zaman, dll) dan ada pola yang bisa terbaca dengan mengambil jarak (contoh: pola konstelasi bintang). Satu hal yang perlu diingat dalam hal pembacaan pola adalah, dia sangat tergantung si interpreter pola tersebut, karena itu konstelasi bintang dibaca berbeda oleh setiap wilayah kebudayaan. Dan untuk klasifikasi zaman keemasan, bisa saja zaman keemasan pada sudut pandang tertentu justru adalah zaman kehancuran bila diinterpretasi berbeda.

Pola antar generasi, yang lumrah kita dengar adalah generasi old dan generasi anak zaman now. Yang mana yang disebut generasi old dan yang mana yang generasi zaman now? Bila kita presisi, sesungguhnya tidak ada kesepakatan mengenai hal ini. Tapi bukan berarti tidak terasa pergeseran kesadarannya. Itu terasa seperti hembusan angin, wind of change kadang sepoi kadang mengejutkan seperti badai. Tapi selalu ada.

Nanti kita akan membahas juga, pola generation gap itu dalam perjalanan sejarah kita sebagai sebuah bangsa. Tapi itu nanti. Sekarang kita coba sepakati pola ini, bahwa hampir di setiap masa golongan yang disebut generasi tua akan cenderung blaming younger generation dengan mengatakan bahwa generasi setelah mereka adalah generasi yang lemah, manja dan tidak tangguh. Sementara generasi muda, hampir di setiap zaman mengalami masa-masa merasa tidak dipahami oleh dunia sekitar dan tentu saja juga oleh orang tua, karena cita-cita dan tolok ukur baru.

Karenanya pergeseran besar-besaran antar generasi selalu terjadi manakala terjadi perubahan besar dalam komoditi dagang dunia, dari era kejayaan saham tebu (utamanya tebu hitam) dan gula di pasar saham sejak 1880-an, beralih pada era komoditi tambang (dimulakan dengan batu bara) yang bermula pada akhir 1920, dan sekarang terjadi lagi perbuahan besar pada komoditi ekonomi berbasis data digital. Struktur besar dunia, menghasilkan rentetan kasualitas pada narasi-narasi di bawahnya.

Saya cukup senang dengan gambaran komedian Adam Conover ketika membahas ini dalam sebuah presentasi dan dia membuat jokes yang cukup jitu. Adam Conover mengajak para audiensnya saat itu, untuk membayangkan pada satu masa di era zaman batu, generasi tua yang dulunya tidak mengenal api melakukan blaming younger generation dengan mengatakan betapa manja dan lemahnya generasi yang sudah mengenal api. Generasi yang belum mengenal tulisan mem-blaming generasi yang sudah mulai mengenal peradaban baca-tulis dan seterusnya. Presentasi ini masih bisa disimak di YouTube. Bisa dicari dengan keyword “Adam Conover Millenials Don’t Exist”.

Dan ada satu kutipan Douglas Adams yang juga dikutip oleh Connover, walalupun Douglas Adams dalam hal ini bicara soal teknologi saya rasa quote ini cukup memberi gambaran tentang pergeseran generasi.

“I’ve come up with a set of rules that describe our reaction to technology:

  1. Anything that is in the world when you’re born is normal and is just a natural part of the way the world works.
  2. Anything that is invented between when you’re fifteen and thirty- five is new and exciting and revolutionary and you can probably get a career in it
  3. Anything invented after you’re thirty-five is against the natural order of things”

“Saya mulai menyadari beberapa tingkatan reaksi kita terhadap perkembangan teknologi. Pertama, apapun yang ada di dunia ketika anda lahir terasa sebagai hal yang normal dan biasa. Seolah begitulah naturalnya cara kerja dunia. Kedua, apapun yang ditemukan ketika usia anda berada di antara lima belas dan tiga puluh lima tahun terasa sebagai hal baru, menakjubakan dan revolusioner dan anda ingin berkarier di dalam struktur itu. Ketiga, apapun yang muncul setelah anda berusia tiga puluh lima terasa sebagai hal yang tidak natural dan melawan kehendak alamiah”

Douglas Adams, The Salmon of Doubt (Dirk Gently #3)

Bisa dibilang inilah sumber generation gap di hampir setiap zaman. Kita mengalaminya di masa lalu. Dan pada banyak golongan. Pada kaum agamawan Islam, hal ini mencuat ketika gelombang An-Nahdlah, generasi muda sarjana dari Mesir membawa ide-ide baru (pada masanya). Sedang pada kelompok pergerakan modern, jelas terjadi pergeseran tidak halus antara generasi 1910 dengan generasi 1940. Sayangnya, hampir tidak pernah kita punya inisiatif untuk mengelaborasi persoalan gap antar generasi ini lebih lanjut. Persoalan gap antar generasi kemudian selalu berlalu dengan “kecelakaan sejarah”.

Buku Cak Nun