Lokalitas Identitas

Mukadimah SabaMaiya Juli 2019

Ada ungkapan “Kalau sudah merasa pintar, gayamu kebarat-baratan. Kalau sudah merasa alim, gayamu kearab-araban. Jawamu, sundamu, batakmu, dayakmu mana?”. Tentu miris dan njarem mendengarnya, tapi begitulah adanya. Generasi muda Bangsa Jawa yang belajar di Barat balik pulang untuk meremehkan invensi dan inovasi kakek-nenek mereka sendiri. Yang belajar di Negeri wahyu pulang dengan membawa stempel-stempel bertuliskan Musyrik, Kafir, Sesat, Bid`ah, Khurafat, Takhayul dan bermacam-macam stempel lagi. Kemudian stempel-stempel itu ditimpakan di jidat Bapak Ibunya, Kakek Neneknya, Moyang Leluhurnya, serta tetangga-tetangganya.

Kesadaran tentang sejarah, tentang lokalitas, tentang penghormatan kepada Leluhur saat ini sulit ditemukan. Yang ada saat ini adalah bangsa kita semakin jauh dengan sejarahnya, semakin kabur masa silamnya, semakin terkubur peradaban yang pernah dicapai oleh para leluhurnya. Sehingga bukan tidak mungkin bangsa kita menjadi kosong pengetahuan tentang diri mereka sendiri. Selanjutnya bangsa kita menjadi tidak percaya diri. Dengan kata lain, bangsa kita menjadi tidak percaya bahwa ada sesuatu yang bisa dibanggakan di dalam sejarah nenek-moyangnya.

Padahal realitas sejarah bangsa ini sudah melahirkan berbagai kearifan nilai. Kita tahu ada istilah tepo seliro, tenggang rasa, bebrayan, semedulur, dll. Itu semua merupakan ekspresi alamiah dari watak jiwa-jiwa yang sukses menjalin hubungan batin dengan Tuhannya, serta sukses menjalin hubungan dengan sekitarnya. Artinya, kita memiliki warisan kebudayaan yang merupakan rahim sejarah nilai-nilai tinggi semacam itu.

Agama yang benar pasti memuat nilai-nilai yang bersifat universal. Ajaran yang memang diperuntukan untuk menginspirasi semua manusia dengan wadah kebudayaannya masing-masing. Jadi agama datang bukan untuk menyamakan kebudayaan seluruh dunia, tetapi menginspirasi atau memberi “ruh” pada setiap bentuk budaya yang memiliki otentisitas watak lokalitas masing-masing. Ketika agama datang untuk menyeragamkan kebudayaan manusia, maka itu pasti hasil dari kegagalan menafsiri agama. Model tafsir agama yang cenderung ingin menyeragamkan kebudayaan manusia, pasti hanya diikuti oleh orang-orang yang naluri menjajahnya kuat, insting mendominasi dan tabiat ingin menang sendirinya menggelegak hingga ke ubun-ubun.

Dalam Islam ada ayat yang menerangkan bahwa kehidupan diciptakan dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar ada proses saling mengenal. Hakekat “saling mengenal” adalah suatu kondisi manusia yang di dalam hati dan akal pikirannya bersemayam sebuah nilai, yaitu kesadaran sebagai sesama makhluk Tuhan. Saling mengenal aksentuasi maknanya bukan pada sekedar pengenalan tentang siapa namanya, dimana alamatnya dan apa jenis pekerjaannya.

Pada Majelis SabaMaiya edisi ke 40 ini, bareng-bareng kita sinau dan nyicil mengupas itu.

Buku Cak Nun