Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4103

Jangan Hilang Kudusmu, Ya Dik

(Liputan Sinau Bareng Milad ke-28 SMAN 2 Kudus, 4 September 2019)

Sinau Bareng malam ini mempertemukan seluruh siswa-siswi SMAN 2 Kudus dengan para jamaah Maiyah atau jamaah pada umumnya dalam satu tempat, yaitu lapangan sekolah ini yang terbilang cukup luas. Namun, Mbah Nun mengingatkan semua jamaah itu untuk mengabdi kepada keperluan SMAN 2 Kudus ini. Memang demikian seharusnya, dan Mbah Nun sangat berdisiplin dalam soal ini.

Setiap topik, tema, dan hajat penyelanggara selalu dipelajari dan direspons dengan persiapan sebaik-baiknya. Satu contohnya adalah tema pertanyaan workshop selalu disusun Mbah Nun dalam kerangka mengolah topik yang diusung tuan rumah. Bahkan lagu apa saja dari KiaiKanjeng yang akan dihadirkan juga dipersiapkan menyesuaikan dengan tema, meskipun harus selalu siap dengan lagu-lagu lain. Posisi Mbah Nun dan KiaiKanjeng adalah melayani setiap pengundang dan penyelenggara Sinau Bareng dengan sebaik-baiknya.

Malam ini, keperluan Sinau Bareng ini adalah tasyakuran milad ke-28 SMAN 2 Kudus yang mengambil tema: Kacang Ojo Ninggal Lanjaran. Arahnya adalah membekali anak-anak untuk melecut diri memastikan karakter mereka. Pihak sekolah sedang gelisah akan generasi muda yang rasanya makin luntur karakter dan identitas mereka. Dalam bahasa sininya, cah Kudus ilang Kuduse, dan itu jangan sampai semakin terjadi.

Sejak awal, Mbah Nun sudah langsung menukik ke titik itu. Paling awal dicek kepada para siswa apakah mereka mengenal istilah silsilah ke atas. Ternyata hanya tiga level saja mereka kenal, padahal ada 18 level dengan nama masing-masing. Di atas kita adalah bapak/ibu, di atasnya: kakek/nenek, buyut, dan seterusnya sampai hitungan ke-18 bernama trah tumerah. Dari sini, anak-anak diajak memahami bahwa pembentukan karakter bisa berangkat dari mengerti apa makna perlunya mengetahui 18 level itu. Kalau kita mengenal silsilah itu, itu merupakan bekal untuk mengenal siapa diri kita.

Seterusnya Mbah Nun tanyakan kepada mereka apa beda antara huruf dan aksara yang kemudian bersambung ke satu nomor ABCD KiaiKanjeng. Ini nomor ibarat satu jurus yang bisa mengena ke banyak titik. Dari soal identifikasi takdir kultural kita tetapi sekaligus pelajaran tentang bagaimana bersikap kepada keragaman budaya yang ada di dunia, juga soal akselerasi sebagai prinsip pembangunan. “Pembangunan harus ada asal-usulnya. Jangan asal ada sesuatu yang baru langsung diambil. Harus dipelajari dulu,” pesan Mbah Nun. Jelas, ini salah satu prinsip juga dalam menjaga karakter.

Beberapa treatment yang dilakukan Mbah Nun, dari meminta partisipasi para siswa yang dikategorikan akan masuk dalam tugas membaca al-Qur’an, berjoget, dan drama/teater, kelompok-kelompok yang diajak nyanyi bersama-edukatif, sampai kelompok yang bertugas menjawab pertanyaan Mbah Nun. Semuanya berjalan secara smooth tapi tandas dalam mengolah dimensi-dimensi topik.

Para siswa yang maju pun langsung mendapat pengalaman berinteraksi dan diolah oleh Mbah Nun. Para guru menyimak dengan baik. Dulu sewaktu kita sekolah SMA pasti kita juga mengenal latihan kepemimpinan, dan malam ini anak-anak SMAN 2 Kudus mendapatkan hal itu secara istimewa yaitu oleh Mbah Nun. Kalau lihat seperti malam ini, Sinau Bareng memang adalah satu bentuk workshop yang serius, tetapi dengan penuh kegembiraan dan keterkaitan dengan nilai-nilai hidup lainnya. Selamat bermilad ke-28 adik-adikku siswa-siswi SMAN 2 Kudus. Ojo ilang Kudusmu yo!

Buku Cak Nun