Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke 4103

Kacang Ojo Lali Lanjaran, Tapi Tetap Move On

(Liputan Sinau Bareng Milad ke-28 SMAN 2 Kudus, 4 September 2019)

Siswa-siswi SMAN 2 Kudus memilih kalimat “Kacang Ojo Lali Lanjaran” sebagai tema utama Sinau Bareng yang diadakan untuk memperingati dan berayukur atas milad ke 28 sekolah mereka ini. Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng akan menjelang malam ini pada Rabu tanggal 4 September 2019, bertempat di lapangan sekolah yang sedang bersemangat dalam miladnya ini.

Rombongan KiaiKanjeng sudah tiba di lokasi sejak pukul 17.00 WIB dan langsung efektif menyempurnakan presisi sound, bebunyian alat musik serta segala teknis panggung yang sebelumnya telah dipersiapkan dengan teliti oleh tim crew.

“Kacang Ojo Lali Lanjaran”. Tampaknya ini term yang menarik. Dalam bahasa Melayu dia semacam peribahasa “Jangan seperti kacang lupa kulit”. Tapi sepertinya lahir dari dua kesadaran cocok tanam atau pengamatan terhadap tanaman yang berbeda. Kapan istilah ini lahir? Hampir pasti setelah masyarakat mengenal kacang-kacangan. Kapan masyarakat kita akrab dengan kacang-kacangan? Nah itu mari kita cari. Budaya saling bertukar seiring tanaman dan tumbuhan juga berperjalanan bersama manusia yang membawanya.

Dari term ini juga ada dua sudut pandang yang asik, antara kacang yang harus tahu diri mengingat jasa lanjarannya, yang berjasa bagi dirinya di masa lalu. Dan juga mungkin adalah peringatan bagi lanjaran untuk tidak terlalu jatuh pada romantisme sejarah dan melulu terjebak dalam kenangan kebesaran masa lalu tanpa bisa move on sejarah. Bagaimanapun si kacang harus pergi dan menempuh tugas sejarahnya sendiri. Sinau Bareng menemani generasi yang sedang menatap arah depannya, sambil mengingatkan sedikit tentang lanjaran-lanjaran sejarah yang membentuk diri.

Buku Cak Nun