Gonjang-Ganjil

Setelah beberapa kali berputar-putar serta diiringi gerimis kecil sejak sore, Poniman terhenti di pertigaan pinggiran kota. Akhir-akhir ini ia sering merenung karena dirinya dianggap ganjil oleh sebagian temannya, bahkan oleh keluarganya sendiri. Dia sendiri masih bimbang tentang anggapan orang-orang sekitar yang menganggap dirinya berperilaku ganjil, apalagi setelah dirinya sering mengalami rangkaian peristiwa-peristiwa yang dianggapnya ganjil.

Maka ia pun memutuskan untuk mengambil ke arah simpang kanan menuju ke rumah mbah kiai Syamsuddin yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Din. Meskipun Mbah Din dianggap orang biasa, tapi versi Poniman beliau adalah Kiai, karena Poniman merasa pada posisi sebagai murid di hadapan beliaunya.

Setelah berbicara sebentar sebagai pengantar, Mbah Din mengeluarkan pertanyaan, “Ada satu hal yang ganjil tapi masih ada kemungkinan dianggap genap, juga ada hal yang genap namun sebagaian besar khalayak masih di anggap ganjil! Menurut nak mas yang benar itu bagaimana?” Poniman yang mengaku sebagai santri milenilal spontan kaget mendapat pertanyaan yang justru ingin ditanyakan pada Mbah Din.

“Wah…! Dasar kyai ganjil…!” gerutu Poniman.

“Satu lagi nak mas, sebenarnya Gusti Allah itu ganjil atau genap?” mendapat dua pertanyaan sekaligus, tampak Poniman berpikir keras mencari jawaban yang memungkinkan.

“Keduanya benar mbah?” jawab Poniman tegas sambil terus berpikir keras maksud dari arah dua pertanyaan Mbah Din. “Kalau cuma jawaban itu anak SD juga bias, man!”

Poniman terdiam lagi, berkeliling mencari jawaban yang sekiranya pantas.

“Genap itu dalam bilangan dipahami sebagai bilangan bulat bisa dibagi dua (terbagi dua tanpa menghasilkan sisa), sedangkan ganjil adalah bilangan yang tak dapat dibagi oleh dua,” jawab Poniman mencoba menjabarkan.

“Berarti satu itu ganjil dan dua itu genap?” Mbah Din menimpali.

“Mudahnya begitu mbah,” sahut Poniman.

“Berarti di kala kita masih hidup sendiri dan menyendiri bisa dikategorikan menjalani hidup yang ganjil, alias belum genap. Dan mungkin di saat sudah berdua belum menjadi tiga, bukankah itu hal yang genap tapi masih menjadi sesuatu yang ganjil?” tukas Mbah Din sambil menyulut rokok kretek yang baru dibukanya.

“Lha jawaban yang diharapkan Mbah Din yang seperti apa? Dari sisi bahasa atau istilah?” suara Poniman agak tinggi menunjukan kekesalan karena merasa otaknya dipermainkan serta ekspresi Mbah Din yang datar-datar saja.

“Ya terserah kamu mau menjelaskan dari sisi mana saja,” jawab Mbah Din datar tak bergeser sedikit pun posisi serta ekspresi yang membuat Poniman semakin berputar-putar.

“Gini Mbah, njenengan pahami sendiri, berapa angka (bilangan) minimal sesuatu dianggap banyak dari hasil penjumlahan? Maksudnya bilangan genap atau ganjil?” Poniman balik bertanya.

“Kedua-duanya” jawaban cepat keluar dari Mbah Din.

“Lha kalau begini, kan enak jawabannya. Untuk bilangan genap dua (2) adalah angka minimal dari penjumlahan. Dan untuk bilangan ganjil, tiga (3) adalah angka minimal dari penjumlahan, 2 adalah hasil 1+1, dan 3 adalah 2+1 semuanya pun muncul dari angka 1, maka berdasarkan pendapat ini maka keganjilan serta penggenapannya adalah hal penting yang harus diperhatikan. Bahwa Allah menciptakan sesuatu secara berpasangan merupakan sesuatu yang maklum, namun demikian kegenapan adalah keganjilan yang ganda, keduanya tak bisa dipisahkan,” jawab Poniman berapi-api.

“Keganjilan tanpa kegenapan hanya akan pincang, dan kegenapan juga tak boleh jumawa, ia ada karena yang ganjil ada. Angka satu tidak akan sempurna dan angka dua adalah angka satu yang ganda, keduanya saling melengkapi,” imbuh Poniman merasa mendapatkan tempat setelah memaparkan pandanganya hasil browsing selama ini mencari jawaban keganjilanya.

“Oooo…begitu ya!” tanggap Mbah Din sambil tersenyum, ternyata Poniman masih mempunyai konsentrasi yang bagus.

“Kok pikiran nak mas bisa berpikir seperti itu,” Mbah Din mengejar.

“Lho gimana to njenengan Mbah! Itu baru jawaban pertanyaan yang pertama!” kata poniman sedikit berbangga, “dan untuk jawaban pertanyaan yang kedua Pun sama mbah, kedua-duanya juga benar.”

“Sama-sama benar dari mana dasarnya?” buru Mbah Din.

“Loh mbah! Njenengan ini kiai masa lupa, ‘wasy-syaf’i wal-watr‘, demi yang genap, dan yang ganjil (QS. Al-Fajr: 3),” jawab Poniman sambil bersungut-sungut.

“Dan yang menarik Mbah! Allah menyukai sesuatu yang ganjil!” sambung Poniman.

”Gitu ya nak?” sahut Mbah Din. “Berarti dirimu termasuk kategori di sukai Allah, nak! sebab kamu termasuk mahluk ganjil!” lanjut Mbah Din.

“Lha kok bisa punya kesimpulan seperti itu mbah?” gtanya Poniman merasa ada sesusatu yang tak enak di kedalaman dirinya.

“Lha jomblo itu ganjil atau genap?” tegas Mbah Din.

Sedangkan Poniman cuma tersenyum kecut tak menanggapi sambil misuh-misuh dalam hati, “Kyai diancoook.”

“Gini lho nak mas,” suara Mbah Din rendah, “sesuatu yang genap berarti berpasangan, sedang sesuatu yang ganjil tidak berpasangan, angka terkecil bilangan ganjil adalah satu, sedang angka terkecil bilangan genap adalah dua, angka terkecil bilangan ganjil yang bermakna banyak adalah tiga, sedang angka terkecil bilangan genap yang bermakna adalah dua.”

“Yang ganjil adalah nilai-nilai ketuhanan, yang genap adalah nilai-nilai kemanusiaan, yang ganjil bernilai satu adalah Iman, yang genap bernilai dua adalah islam dan ihsan. Yang satu bernilai satu adalah Tuhan, dan genap bernilai dua adalah mikro kosmos (alam shoghir) alam jasmani dan yang makro kosmos (alam kabir) atau alam ruhani, seluruh bilangan yang genap dan ganjil mengelilingi yang satu dan akan akan kembali ke yang satu,” paparan Mbah Din berlanjut.

Sambil meminum kopi yang tinggal residu sambil mengecap kenikmatan, “Alhamdulillah, hadits “Allah menyukai bilangan ganjil” oleh beberapa ahli memahaminya berkaitan dengan ibadah yang telah disyariatkan dan sebagai bagian dari anjuran untuk melakukan ibadah shalat witir yang jumlah bilangan rakaatnya ganjil.” Panjang lebar Mbah Din ganti menjelaskan.

“Sehingga perlu kita sadari, tak ada isyarat bahwa nomor atau bilangan yang ganjil lebih mulia dari yang genap, di luar urusan ibadah dan anjuran oleh Nabi Muhammad dan dilakukan oleh para ulama. Jadi menyitir hadits bahwa Allah menyukai bilangan yang ganjil semata kecocokan nomor urut, atau kondisi sedang ganjil Njuk Piye?” pungkas Mbah Din sambil meninggalkan Poniman sendirian di teras depan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana