Gila Bola Gila

Pada Mulanya adalah Sebuah Permainan

Menelaah sepak bola rasanya memang seperti menelaah kehidupan. Di dalamnya ada proses, ada filosofi yang mendasari suatu perbuatan, ada tangis dan tawa, ada konsekuensi, ada kegelisahan, dan masih banyak lagi. Sepak bola seakan menjelma menjadi hidup itu sendiri, namun tentunya dengan bentuk dan cara yang sangat berbeda.” (Zen Rs dalam pengantar buku “Sepak Bola Seribu Tafsir” karya Edward S Kennedy) 

Pada mulanya, sepak bola (football) adalah sebuah permaianan. Ia merupakan cabang olahraga yang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas pemain inti dan beberapa cadangan. Wasit sebagai pengadil lapangan dan dua hakim garis yang bertujuan membantu wasit dalam jalannya pertandingan tersebut. Sepak bola bertujuan untuk untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya dengan memasukkan bola ke gawang lawan dan dimainkan dalam lapangan terbuka yang berbentuk persegi panjang dalam durasi 90 menit.

“Ada begitu banyak tafsir dalam 90 menit sebuah laga di atas lapangan berlapis rumput hijau, dengan dua gawang berseberangan, satu bola, seorang pengadil, dan 22 pemain. Dari sana, semua alegori kehidupan tercipta. Dua tim saling beradu kecerdikan, kekuatan, dan ketahanan mental untuk meraih kemenangan atau justru untuk memahami kekalahan.” Tulis Zen RS dalam pengantar buku “Sepak Bola Seribu Tafsir” itu.

Namun, apakah sepak bola hanya soal kalah dan menang? Memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang dan menjadi bagian dari olahraga paling populer di dunia. Lebih dari itu, sepak bola bukan hanya soal sebuah permainan ia juga bisa membuka peluang hadirnya simbol kuasa, resistensi, identitas dan politik representasi.

Pernah dalam sejarahnya, sepak bola menjelma alat perdamaian yang menghentikan pertempuran besar sekelas Perang Dunia I pada 1914 silam. Inggris dan Jerman kala itu adalah dua negeara yang saling bersitegang di atas tanah sengketa tanpa tuan atau dikenal No Man Land, namun pada saat Natal, para prajurit kedua negara itu memilih bermain sepak bola dan menghentikan perang sesaat. Seperti kata Chris Barker, pelaku sejarah: “Itu mungkin satu-satunya waktu dalam sejarah bahwa ada dua tentara yang saling berlawanan melettakkan senjata kemudiann mereka berteman”.

Di Argentina, bahgkan para suporter bola yang mencintai sang legenda Diego Armando Maradona membuat agama yang bernama Iglesia Maradoniana atau gereja Maradona. Agama itu didirikan pada 30 oktober 1998, bertepatan dengan ulang tahun Maradona ke-38 di Roasrio Argentina. Hingga kini agama pemuja Maradona itu memiliki pengikuit sekitar 120.000 hingga 200.000 orang dan sebagaimana agama pada umumnya, para jemaat Gereja Maradona juga punya ritual dan aturan-aturan yang harus dfiikuti.

Selain itu, masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lainnya dalam sepak bola. Maka, berangkat dari itu kami pikir, sepak bola kemudian menjadi menarik diperbincangkan. (Maniro AF)

Buku Cak Nun