Dunia Tanpa Objek

Mukadimah Suluk Pesisiran Juni 2019

Dikisahkan dalam kitab Matsnawi karangan Jalaluddin Rumi tentang perihal orang buta dan gajah.

Di seberang Negeri Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja beserta rombongannya lewat dekat kota itu; ia membawa pasukan dan berkemah di gurun. Raja itu mempunyai seekor gajah perkasa, yang digunakannya untuk berperang dan membuat rakyat kagum.

Penduduk kota itu sangat antusias ingin melihat gajah tersebut, dan beberapa dari mereka yang buta pun berlari untuk mendekatinya.

Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.

Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka. Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, “Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani.”

Orang yang meraba belalai gajah berkata, “Aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak.”

Terakhir, orang yang memegang kaki gajah berkata, “Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang.”

Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan belum memahami keseluruhannya.

Kisah orang buta dan gajah ini merupakan cerminan manusia dulu dan sekarang. Manusia sebenarnya hanya mengetahui sedikit, tetapi kadang merasa banyak tahu tentang banyak hal. Mereka mengetahui tidak berdasarkan hakekat obyek (objektivitas), tetapi berdasarkan keterbatasan dirinya atau biasa disebut sebagai Subjektivitas. Yang disampaikan manusia sebenarnya bukan fakta, tetapi mereka menggambarkan opininya masing-masing tentang dunia ini.

Manusia hanya sebatas melafalkan prasangka-prasangka tentang sesuatu, tentang negara, dunia, agama, Tuhan, tetapi sudah merasa mentahbiskan bahwa mereka pembawa kebenaran dari Tuhan. Kalau kita menyempatkan bertanya kepada diri sendiri tentang Tuhan. Pasti jawabannya bukan Tuhan sendiri, tapi pendapat kita tentang Tuhan. Maka akhirnya manusia harus bersujud di depan kebenaran yang dari Tuhan, walau kita sendiri sampai kapanpun tak pernah jangkep mengetahuinya, apalagi memahaminya.

Wallahu ‘alamu waantum la ta’lamun.

Buku Cak Nun