Di Huma Mocopat Syafaat

Liputan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Yogyakarta, 17 September 2019

Mungkin, ini adalah pertama kalinya kita bisa menyaksikan Pak Mustofa W Hasyim menari dan berjoged. Atau mungkin, lebih tepat disebut rangkaian gerak yang diniatkan sebagai tarian dan jogetan, walau hasilnya entahlah. Tapi kita bisa mengimani bahwa itu tarian. Percaya saja dulu. Toh semuanya bergembira. Pak Titut yang datang dari Purwokerto yang berhasil mengajak Mbah Mus menari-nari riang seperti ini pada malam yang berumah di Mocopat Syafaat 17 Spetember 2019 M ini.

Kejenakaan, keunikan dan keotentikan itu berpadu-padu dalam tawa, celotehan serta keriangan tak sudah-sudah. Namanya juga sedang di rumah, di huma sendiri maka ya hanya ada kemesraan demi kemesraan yang mengalir. Sesekali obrolan serius.

Mungkin baiknya mulakan dari memenuhi dinding rumah kita dengan lantunan ayat suci, nderes al-Qur’an kali ini dipandu oleh Mas Faisal. Kakak kita Mas Ramli sedang tidak enak badan, mari kita doakan lekas sembuh.

Kemudian, kakak-kakak lain dari NM dan RMS ada Mas Angga, Mas Fauzi, dan Mas Kojek mengajak melanjutkan bahasan yang dari bulan lalu memang butuh obrolan lanjutan. Soal bahasan manusia nilai itu. Rasanya seperti kalau kita sedang ngobrol dengan saudara yang menggali pemahaman kita dan mulai memetakan bagaimana potensi kita sebaiknya diarahkan dalam hidup. Suasananya seperti saat kita ditanyakan di sekolah belajar apa saja? Dan cita-citanya mau berbuat apa dengan cara menjadi apa? Obrolan lumrahnya sesama saudara. Sesi ini penuh dengan obrolan-obrolan yang riil, persoalan keseharian yang renyah. Masukan-masukan saling mengisi. Sambil kita selalu ingat nasihat Mbah Nun dan orang-orang tua kita, kita coba aplikasikan terus. Obrolan tetap mengalun, jadi seperti sesi curhat. Ya namanya juga di rumah, di huma kita sendiri. Segalanya bisa dibahas, sampai yang sangat personal. Beberapa dinamika dalam hidup bersosial, tantangan menegakkan nilai-nilai. Saling menyemangati.

Kakak tertua akhirnya datang juga. Nah untuk ini, bahasan harus sedikit lebih ke dalam. Masuk ke ruang tengah tempat kita biasa bercengkerama di hati, mungkin. Sebagai kakak sulung tentu Mas Sabrang lebih serius dalam penataan manajerial spiritual saudara-saudaranya. Mas Sabrang mengajak pada relung yang lebih tapa, kita diajak bertualang ke dalam melalui terminologi yang tampaknya dari Veda. Ada anamaya kosha, pranamaya kosha, manomaya kosha, vijnanmaya kosha dan anandamaya kosha.

Pemilihan term ini tentu agar memudahkan kita untuk mencari dengan lebih efektif. Mas Sabrang menjelaskan bahwa sebagaimana semua teori, ini juga adalah pilihan pisau dalam membedah fenomena. Pisau teori lain bisa sama gunanya, sama benarnya, sama tajamnya atau bisa saja lebih tumpul atau bisa lebih tajam. Mas Sabrang membebaskan, bahwa pisau ini bisa dipakai bisa juga tidak.

Di tengah obrolan-obrolan seru, sambil lagu-lagu Letto dinyanyikan setiap mengantarkan bahasan. Obrolan kita semakin larut semakin intens. Namanya juga rumah sendiri, kemesraannya kita sendiri yang bikin. Rumah sudah ada tangganya apa belum? Nanti kita bahas baik-baik dengan semesra mungkin. Siapa tau memang tipe rumah kita tidak butuh tangga, hanya butuh atap untuk neduh. Atau rumah ini tidak butuh tangga apa karena penduduk rumah sudah sangat menguasai ilmu meringankan tubuh, pikiran, dan hati? Entah juga ya.

Sedang asik ngobrol makin dalam eh ada tamu. Itu tetangga kita Mas Husein Jibril. Rumahnya dekat itu di Sudan, dekat koq tidak sampai nyeberang planet. Dan dia bersemangat memperkenalkan dirinya sambil juga semangat mencari “Ustadz Cak Nun” yang dia pernah lihat di Youtube dan membuatnya terkesan walau tidak begitu paham bahasanya. Sayang Bapak lagi tidak dirumah, tapi Mas Jibril sudah sangat gembira dengan cemilan-cemilan kegembiraan.

Kemesraan Pak Titut dan Mbah Mus yang bersilang-silang dansa keindahan dan absurditas yang saya ceritakan di awal justru letaknya paling akhir. Yah namanya juga rumah, huma kita sendiri tak perlu sungkan-sungkan wagu. Pak Titut menjadi apa adanya Pak Titut dan Mbah Mus… Memang ada yang bisa membikin Mbah Mus bukan dirinya?

Namanya juga di rumah, di huma sendiri. Saya mencatat ini juga mungkin bukan reportase niatnya. Ini saya mau cerita. Kisah tentang sebuah huma, Mocopat Syafaat namanya. Dimana masing-masing kita adalah huma tempat kita pulang satu sama lain.

Buku Cak Nun