Jibril Mahasiswa Sudan Mencari Ustadz Cak Nun

Liputan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Yogyakarta, 17 September 2019

Kegembiraan Mocopat Syafaat 17 September 2019 lalu dipimpin oleh Letto yang kali ini hadir mengajak serta komunitas Gamelan Gayam 16 dalam suatu featuring. Ini boleh dikata meneruskan kebersamaan mereka saat tampil bersama di salah satu panggung FKY 2019 beberapa waktu lalu. Maka, terlihat ada gamelan di panggung Mocopat Syafaat, namun bukan gamelan KiaiKanjeng tetapi milik teman-teman Gamelan Gayam 16.

KiaiKanjeng sendiri alat-alatnya sedang berhijrah dari satu kota ke kota, dan malam itu telah berpindah dari Ngawi ke Sidoarjo untuk Sinau bareng esok harinya. Para personel Pakde-Pakde dan Om-Om KiaiKanjeng sebagian besar juga beristirahat, memanfaatkan jeda sehari untuk kumpul keluarga.

Mocopat Syafaat dipercayakan sepenuhnya kepada Mas Sabrang dan Letto untuk mandegani, tentu juga ada narasumber lain seperti Penyair rusak-rusakan Mustofa W Hasyim. Alhamdulillah hadir pula Pak Titut seniman tradisi nan otentik dari Purwokerto dikawal rekan-rekan Juguran Syafaat. Pak Muzammil ternyata tak bisa hadir karena sedang kurang enak badan. Teman-teman NM dan RMS sudah lebih awal berkolaborasi dalam memandu workshop lanjutan bulan lalu yang kali ini spesifik ke topik Belajar Bernilai.

Dalam pada itu semua, teman-teman jamaah Mocopat Syafaat diberi kesempatan untuk ambil jarak sejenak dari KiaiKanjeng, toh mereka juga bisa mengikuti tur KiaiKanjeng yang tanpa henti ini. Jika mereka ingin berjumpa di Jogja, hari ini jadwalnya Sinau Bareng di SMA 4 Yogyakarta.

Di tengah kebersamaan bersama Letto dan Gamelan Gayam 16, hadirlah seorang tamu. Namanya Husein Jibril. Di panggung Ia mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan bercerita. Dia remaja Sudan yang sedang mendapatkan beasiswa kuliah di UMY. Sudah setahun tinggal di Bandung, dan baru satu minggu berada di Jogja. Dia berbicara dalam bahasa Inggris, meskipun sudah mahir berbahasa Indonesia. Di raut wajahnya selalu terekspresikan senyum, dan pribadi yang supel. Demikian pula sepanjang obrolan yang dipandu Mas Sabrang.

Ia bercerita tentang mengapa dan bagaimana bisa datang ke Mocopat Syafaat. Mulanya, Jibril ingin mencari ustadz yang terkenal di Jawa. Ia googling, dan dia bertemu dengan nama Cak Nun. Dia kemudian menghimpun informasi dan berupaya mengenal lebih jauh melalui youtube dll tentang nama yang telah diperolehnya itu, sampai akhirnya mengetahui ada forum Mocopat Syafaat.

Setiap kali menyebut nama Ustadz Cak Nun, derai tawa jamaah menyambut. Jibril bingung, sampai Dia meminta maaf barangkali ada yang salah dalam dia mengucap nama Cak Nun. Mas Sabrang lantas mengasihtahu Dia bahwa mereka tertawa bukan karena ada yang salah, tetapi di sini Cak Nun sendiri tidak pernah menyebut diri sebagai ustadz. Di sini prinsipnya adalah Sinau Bareng, yang berarti tak ada ustadz yang boleh merasa lebih tinggi ilmunya sehingga punya ototritas kepada orang lain. Setiap orang belajar satu sama lain. Jibril pun mantuk-mantuk tanda mengerti.

Obrolan dengan Jibril yang dipandu Mas Sabrang selama sekitar 16-an menit ini berlangsung penuh tawa. Mas Jibril juga beberapa kali bikin ketawa dalam apa-apa yang dia ceritakan. Saat itu, Mas Sabrang bertanya apa pandangannya tentang orang Indonesia. Dia bilang, “Senyum.” Orang Indonesia selalu tersenyum. Sampai kemudian dia bercerita perbedaan senyum antara Sudan dan Indonesia.

Di Sudan tidak ada perempuan yang tersenyum kepada orang lain terutama pria. Kalau dia tersenyum, dikira akhlaknya rendah, atau dianggap menaruh perhatian kepada pria itu. Hal yang berbeda dia jumpai di Indonesia. Di mana saja Dia berjumpa orang, termasuk perempuan, semunya tersenyum. Dia berkata, “Jadi, aku kira aku ini ganteng. Di negara saya nggak ada perempuan yang tersenyum untuk saya. Hanya Ibu dan Adik.” Ini bermula dari canda Mas Sabrang ke Dia dengan menanyakan apakah dia jomblo. Mendengar pertanyaan Mas Sabrang ini, Dia langsung tertawa dan tersipu, dan tertawa lama. Rupanya remaja nun jauh dari Sudan ini sudah mengerti arti kosakata jomblo.

Mas Sabrang bertanya ke Jibril mengenai apa dan bagaimana Dia memandang Islam. Lalu dia bercermin, mungkin ke pengalaman yang dia alami di Sudan. Jawab Jibril, cara kita melihat Islam itu sebaiknya seperti ini. Komunikasi. Dalam komunikasi, seseorang harus menarik perhatian orang atau audiens yang diajak bicara. Tapi, dalam khotbah-khotbah Jum’at misalnya, kata Jibril, khatib berkhutbah, dan jamaah mengantuk. (Dia praktikkan contoh orang mengantuk pas mendengar khotbah). Sang khatib tidak punya kemampuan komunikasi untuk menarik perhatian jamaah. Demikianlah Jibril mengajak melihat Islam melalui jendela refleksi dan introspeksi dalam hal komunikasi.

Lalu Mas Sabrang menyela, “Jadi bagaimana sebaiknya komunikasi atau dakwah Islam itu?” “Ya seperti ini. Penuh kegembiraan. Semua orang boleh mengatakan sesuatu dan boleh terlibat. Saya contohnya, saya tidak dikenal, saya orang baru, tapi diizinkan naik ke sini mengemukakan sesuatu dan berbagi.” Jamaah tepuk tangan mengamini kata-kata Jibril.

***

Di Mocopat Syafaat ini, saat awal sebelum diwawancarai Mas Sabrang, melihat ke audiens, Jibril mengatakan, “Saya lihat yang datang di sini semuanya anak-anak muda, berarti Pak Ustadz Cak Nun ini orangnya luar biasa…!”. Derai tawa gembira kembali membahana mendengar Jibril membuat testimoni yang dibangun justru pada saat belum ketemu orangnya yang membuatnya tambah penasaran untuk ketemu.

Pak Ustadz Cak Nun yang dicarinya kebetulan sedang memberikan sepenuhnya kepada anak-cucunya untuk mandiri dalam membangun kegembiraan dan kebersamaan di Mocopat Sayafaat ini, dan alhamdulillah tanpa disadari Jibril datang ikut menambah kegembiraan dan silaturahmi. Dia juga terlihat menikmati kebersamaan dan perjumpaan malam itu. Mas Sabrang juga sudah info ke dia, kalau Dia ada waktu, Ustadz Cak Nun akan Sinau Bareng di SMA 4 Yogyakarta tanggal 20 September 2019, malam ini. Dia bisa datang ke acara itu.

Jibril punya cerita lucu. Perkaranya dia masih belum bisa presisi men-spelling antara mencari dan mencuri. Dua kata itu jelas beda pengucapannya buat mulut Indonesia, namun tidak demikian halnya buat nonnatif. Maka suatu ketika saat dia butuh kursi, dia bilang ke Ibu kosnya, “Bu saya mencuri kursi….” Terperanjat bukan kagetlah sang ibu kos. Masak Dia habis mencuri. Padahal dia bermaksud, “Bu saya mencari kursi.”

Tetapi untuk kali ini Dia sudah benar. Dia mencari Ustadz Cak Nun, bukan mencuri….

Buku Cak Nun