Caraka Sinoman

Mukadimah Maiyah Balitar Februari 2019

Adalah Caraka, ukara yang tengah dan akan diugemi sinoman, para pemuda Majelis Maiyah Balitar guna mensyukuri usianya yang menginjak di angka tiga. Caraka. Cipta, Rasa, dan Karsa. Tridaya yang sangat berperan dalam setiap tindak-tanduk manusia. Mulai membuka mata saat terbangun dari tidurnya, sampai ia kembali terlelap dalam mimpi-mimpinya, tridaya ini selalu punya andil yang sangat besar di dalamnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan cipta sebagai kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru, atau bisa juga diartikan sebagai angan-angan yang kreatif. Rasa, tanggapan hati terhadap sesuatu, pendapat mengenai baik buruk ataupun benar dan salah. Sedang karsa adalah niat, kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. 

Setiap apa yang dilakukan oleh manusia, selalu ada ‘campur tangan’ dari tiga daya ini. Entah mana yang lebih dominan. Entah daya mana yang memantik duluan. Daya ciptanya kah, rasa, atau karsa. Tentunya, setiap individu dengan segala tindakannya akan mempunyai porsi yang berbeda-beda atas cipta, rasa, dan karsa tersebut. Yang jelas, akan sangat indah ketika ketiga daya ini mampu berjalan secara optimal dalam keseimbangan.  

Sederhananya, daya cipta membuat seseorang menemukan gambaran untuk melakukan ataupun menciptakan sesuatu. Kemudian, rasa mempertimbangkan benar salah dan juga baik buruk dari sesuatu itu. Dilanjutkan dengan karsa yang mendorong seseorang utuk mewujudkan angan-angan tersebut.

Karenanya, akan sangat kurang pas, jika tridaya ini tidak berjalan beririgan. Hanya daya cipta saja yang diutamakan, tidak diimbangi dengan rasa dan karsa, misalnya. Hasilnya tentu akan sangat berbeda dengan ketika diimbangi oleh rasa dan karsa. Atau, bisa jadi malah angan-angan kreatifnya tersebut hanya tinggal angan-angan saja. Karena tidak didukung oleh daya karsa yang menggerakkannya.

Sekali lagi, kapasitas daya cipta, rasa, dan karsa masing-masing kita tidak lah sama. Ada yang lebih dominan daya ciptanya, ada yang rasa, dan juga ada yang karsa. Kalau saja individu-individu dengan latar belakang kapasitas tridaya yang tak semua sama ini berpadu, tentu ini akan sangat membantu. Si A yang lebih dominan daya ciptanya bisa membagikan pandangan-pandangan kreatifnya, si B mencoba memfilter dengan daya rasanya yang lebih tajam, dan ada si C dengan semangat karsanya menjadi sosok yang mampu menjaga bara semangat dalam lingkarannya.

Caraka juga dapat diartikan sebagai utusan. Caraka sinoman, sekelompok pemuda yang menjadi utusan untuk membantu menunaikan hajat. Mulai dari hajat dalam lingkaran terkecil, sampai hajat dari lingkaran-lingkaran yang lebih besar lagi.   

Kepada siapa harapan itu menuju, kalau bukan ke mereka pemegang masa nanti. Di tangan anak-anak itu tersimpan magma kreasi, siap meledak di gelagak lava cipta, rasa, dan karsa. Kepada siapa kita titipkan timbunan mutiara ini, bila tidak ke bocah yang dibesarkan oleh kebajikan layar. Mereka yang tak lagi diajar oleh sentuhan lembar. Muda usianya itu pasti. Nyala semangat dan kesetiaan mereka adalah niscaya.” Demikian seorang kawan menggambarkannya. 

Di usia tiga tahunnya ini, Majelis Maiyah Balitar mencoba mengajak para sinoman untuk belajar mempersiapkan diri menjadi sosok yang dipercaya semesta menjadi caraka. Belajar mencoba memaksimalkan tiga daya yang menjadi kekuatan setiap diri manusia. Cipta, rasa, dan karsa. Setidaknya, ini menjadi bekal untuk belajar memancarkan secercah cahaya di tengah-tengah zaman yang mungkin sudah lama terlupa akan apa dan bagaimana itu cahaya.

Buku Cak Nun