Bekal Mbah Nun Untuk Sinau Bareng di Tebuireng

Malam nanti Sinau Bareng berlangsung di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Acara diselenggarakan oleh Universitas Terbuka bekerjasama dengan Pondok Pesantren Tebuireng. Tema Sinau Bareng ini adalah “Belajar Tanpa Batas.”

Untuk keperluan Sinau Bareng ini Mbah Nun telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan buat tiga kelompok jamaah yang akan berpartisipasi. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah bekal bagi para jamaah dan santri untuk belajar meluas dan sekaligus mendalam. Begitulah cara Mbah Nun memberikan bekal untuk anak-cucu. Diantaranya, apa yang dikandung dan dimaksud oleh Khiththah Nahdlatul Ulama? Apa hubungannya langsung maupun tidak langsung dengan Kehidupan Bernegara, di mana posisinya dan seberapa jaraknya dengan wilayah politik praktis, termasuk dengan Pemerintah NKRI? Apa beda peran NU dengan PKB? Apakah perbedaan itu urusan prinsip ataukah teknis saja?

Tahap selanjutnya Mbah Nun memberi pertanyaan dan tugas: Informasikan kepada Jamaah malam ini hal-hal mendasar tentang Kiai Tebuireng, Pesantrennya, Mbah Hasyim, Mbah Wahid hingga Gus Dur dan putri-putrinya, asal-usul berdirinya Nahdlatul Ulama, pesan Syaikhona Kholil, pewarisan Pisang, Kitab dan Cincin, termasuk kisah tentang Resolusi Jihad, berpisahnya NU dari Masyumi dst.

Terakhir, Mbah Nun mengajak berpikir tentang makna NKRI. Apa yang dimaksud dengan “NKRI Harga Mati”? Apakah NU juga harga mati? Apakah ada kemungkinan NKRI dan NU bubar atau mati? Majapahit 234 th, Demak 68 th, Pajang 19 th, Mataram dst, apalagi kalau belajar jauh ke belakang sejarah Kerajaan Kutai, Sribangun, Wijayapura, Bakulapura, Kahuripan, Dipa, Daha, Salakanagara dst. Harga Mati itu apa maksudnya hidup terus? Konstitusinya mutlak tidak boleh diubah? Tanah air dan kekayaannya tidak boleh menjadi milik orang yang bukan warganegara Indonesia? Mandiri pembangunannya? Tidak hutang sama sekali atau kebolehan hutangnya dibatasi oleh UU?

Buku dan Merchandise