Agar Nahdliyin Turut Memerdekakan Manusia dari Kecemasan

Malam ini sebelum menemui anak cucuk Maiyah di majlis  kemesraaan yang berdaulat, Mocopat Syafaat, Mbah Nun masih menyempatkan untuk juga menemui rekan-rekan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Tamantirto yang baru-baru ini dilantik. Ranting Tamantirto baru dalam keorganisasian Nahdlatul Ulama cabang Bantul dan memang mereka mengagendakan sebagai program awalnya adalah bersilaturaahim pada para sesepuh. Sebuah tradisi yang sangat luhur dan patut diapresiasi.

Bagi sedulur-sedulur yang tergabung dalam organisasi NU ini, Mbah Nun dipandang sebagai orang tua yang perlu dimintai restu dan pertimbangan. Dalam pertemuan yang berlangsung mesra dengan kepulan asap rokok bertebaran dan lantunan Shohibu Baity memantul-mantul di dinding kesadaran, berbagai hikmah terpetik. Di pekarangan, majelis Mocopat Syafaat sedang berlanjut dengan sholawat dan puji-pujian yang sastrawi.

Salah satu pesan yang ditekankan oleh Mbah Nun kepada sedulur Nahdliyin ranting Tamantirto ini adalah mengenai skala prioritas perjuangan. Perlu kita semua untuk menyadari, yang paling utama adalah mempertahankan bebrayan dan kebersamaan dikalangan masyarakat terutama masyarakat pedesaan. “Mending kita memastikan di desa kita masing-masing bebrayannya tetap apik,” ujar Mbah Nun.

Para sedulur Nahdliyin kali ini juga berkesempatan menimba hikmah mengenai klasifikasi kebenaran, kebaikan dan kebijaksanaan. Dalam keruwetan persoalan sosial kita belakangan ini, sangat penting untuk lebih mengedepankan kebijaksanaan dalam rangka menjaga kebersamaan.

Sedulur Nahdliyin juga bisa mencontoh Mbah Nun dan KiaiKanjeng, seperti dalam berbagai majelis di Maiyah, bagaimana perjuangan untuk selalu menguatkan hati manusia terutama masyarakat di akar rumput agar tidak gamang oleh arus politik kekuasaan. Perjuangan Maiyah di manapun, adalah selalu memerdekakan hati manusia dari kecemasan, dan ini bisa juga ditiru dan dikontinuasi oleh siapapun terutama pada malam hari ini, kawan-kawan dan sedulur Nahdliyin ranting Tamantirto.

Buku Cak Nun