Yang Bertahan Yang Bertuhan

Mukadimah SabaMaiya September 2018

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad”

Seperti ada yang meledak, tapi di bagian tubuh yang mana? Tidak ada yang tahu, bahkan bekasnya saja tidak terlihat. Hanya getarannya terasa meruntuhkan segala macam ke-aku-an yang sengaja dibuat.

Adalah mulut seorang perempuan tua penjaja telur asin yang terlihat umik-umik melantunkan shalawat atas dagangannya. Apresiasi rasa syukur kepada Tuhan yang begitu mendalam, yang mampu membuat lingkungan sekitarnya terhenyak. Tercundangi oleh kenyataan bahwa pada era modern, masa di mana penuh dengan topeng kepura-puraan masih ada yang bertahan dengan cara yang sangat sederhana.

Setiap orang pernah berada di titik nadirnya. Titik terendah yang menjadikannya stres, galau, depresi, bimbang dan sebagainya. Berbagai godaan muncul, sampai terkadang terucap kalimat “Tuhan tidak adil, memberi ujian kok begini amat.”

Untuk bisa tetap bertahan dan terus percaya itu bukan hal yang mudah. Bisa saja kita memegang berbagai konsep dan teori tentang ujian hidup. Tetapi setelah kita menghadapinya; apa yang sudah kita baca, kita tahu, dan kita hapal menjadi goyah. Sehingga tidak ada cara lain selain kita menghadirkan dan melibatkan Tuhan. 

Di Majelis Masyarakat Maiyah SabaMaiya edisi September 2018 ini, kita berusaha untuk melingkar duduk bersama dan saling mencari, mencoba mengenali dan meneliti lebih dalam tentang bagaimana seharusnya kita bertuhan dan bagaimana sebaiknya kita beragama. Sehingga kita bisa terus tetap bertahan dalam menghadapi berbagai persoalan dan ujian.

Buku Cak Nun