Sindrom 3C (Cethèk, Ciut, Cekak)

Malam ini hujan tak kunjung reda membasai tanah Negeri Saba, hingga pukul 23:24. Sambil menikmati secangkir kopi dan rokok, duduk di samping jendala ruang tamu sambil melihat dan merenungkan hujan di malam yang dingin. Perlahan-lahan sebatang rokok yang berada di antara dua jari tangan kanan, kuhisap perlahan sambil berpikir, “Kenapa hujan yang terasa indah, syahdu dan menimbulkan reaksi kenyamanan dalam  jiwa, sering dijadikan alasan menunda aktivitas?”

‘Hujan ‘Diusir’, agar tidak datang saat diadakan sebuah acara atau saat menjemur pakaian. Sementara, ketika musim kemarau dan terjadi kekeringan, banyak yang meminta hujan turun. Hujan disalahkan ketika banjir bandang datang, padahal banjir merupakan bentuk reaksi alam atas sikap manusia terhadap semesta alam. Atau mungkin karena sebagian orang yang terkena air hujan mudah menjadi sakit? Sementara di lain sisi, saat terbiasa kehujanan tubuh akan dengan cerdasnya menyesuaikan menjadi lebih kuat. Asumsi seperti ini, satu di antara sekian puluh cara bepikir yang sempit, dangkal dan ciut. Mungkin bahasanya zaman sekarang mereka sudah terkena Sindom 3C (Cethèk, Ciut, dan Cekak).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “Sindrom” mempunyai makna himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak dan menandai ketidaknormalan tertentu. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mengalami gejala atau tanda-tanda ketidaknormalan dalam memandang sesuatu persoalan, yang mengakibatkan ketidakseimbangan cara berpikir dan cara  bersikap. Hal tersebut merupakan ciri bahwa bangsa/masyarakat kita sudah terkena penyakit yang dinamakan Sindrom 3C.

Dalam Maiyah selalu diajak dan diajarkan untuk bersikap seimbang atau berposisi seimbang dalam menjalani hidup. Keseimbangan dalam berpikir, keseimbangan dalam mengatasi suatu persoalan dan permasalahan hidup. Tentu tidak mudah kita berposisi dan bersikap demikian, karena perlu keluasan berpikir dan kelonggaran hati untuk bisa meraih posisi tersebut. Dan di dalam Maiyah kita selalu diajak untuk setiap saat berpikir luas dan berjiwa besar agar keseimbangan itu muncul pada diri masing-masing individu.

Dengan cara berpikir luas dan selalu menjernihkan pikiran, penyakit yang dinamakan Sindrom 3C tersebut tidak akan mampu, bahkan tidak sanggup untuk menjalar pada diri seseorang. Berbagai hal yang terjadi akhir-akhir ini, yang menyangkut soal agama, politik, sosial dan masih banyak lagi permasalahan yang kompleks disebabkan oleh cara pandang dan cara berfikir yang terlalu sempit tersebut, telah menjalar hingga pelosok-pelosok negeri ini. Kenapa demikian? Karena sebagian orang tidak mempunyai dasar untuk berpikir luas dan berjiwa besar. Andaikan di Negeri tercinta ini semua orang mempunyai kedaulatan atas dirinya sendiri, tentu sindrom 3C tidak akan menjalar dan akan hilang dengan sendirinya.

Membayangkan bangsa di Nusantara yang melahirkan Negara Indonesia ini mempunyai cara pandang dan berpikir luas, tentu keadaan tidak akan seperti saat ini. Sekarang  zamannya “golek benere dewe”, padahal di Maiyah kita selalu diajari untuk “bukan mencari siapa yang benar, melainkan mencari apa yang benar”. Cara berpikir orang sekarang ini yang  penting “saya benar, maka anda salah”, kalau anda berbuat baik apapun itu, tetap yang ada hanyalah berburuk sangka. Hal tersebut merupakan satu diantara sekian contoh sikap yang barpaham Cethèkisme, Ciutisme, dan Cekakisme. Mari kita mencurigai dan berburuk sangka pada diri kita sendiri, apakah kita sudah terkena Sindrom 3C atau belum?

SabaMaiya edisi ke 24 nanti, kami akan mencoba berdiskusi dan berdialog, apakah kita lebih sering membenarkan pemikiran diri sendiri dan menyalahkan orang lain? Atau kebenaran menurut diri sendiri hanya terbatas untuk diri sendiri dan terbuka dengan berbagai pemikiran yang dibenarkan orang lain. Kita bersama-sama berdiskusi dan memaparkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Sindrom “Cethèk, Ciut, Cekak” dalam berpikir, agar dengan bertambahnya usia hidup, manusia semakin jernih dalam berpikir dan luas dalam memandang berbagai hal. (Dedik Yoga)