Sinau Bareng yang Menggejala Menjadi Peradaban

Catatan Sinau Bareng CNKK di Universitas Tidar, Magelang, 14 Desember 2018

Rasanya memang mahasiswa kita punya kelemahan kalau untuk bersikap cakcek, bergerak cepat tanggap. Selalu ada persoalan kalau dibutuhkan kelincahan, apa memang sistem pendidikan dan organisasi mahasiswa kita terlalu banyak menjinakkan, mencekokkan teori atau isian dogma ideologi? Ini bisa kita riset-riset juga kalau mau. Terutama mahasiswa di Jawa bagian tengah ini mungkin, kebanyakan diskusi namun kurang olahraga apa ya kita ini? Lho, kok kita? Saya kan DO.

Tiga kelompok workshop terbentuk. Selain diberikan tugas untuk membabarkan tiga materi utama tadi, mereka juga dilengkapi beberapa pertanyaan lain. Misal pertanyaan yang sempat diberikan juga pada workshop Sinau Bareng di UNAIR Surabaya mengenai kalimat “perpindahan kekuasaan” dalam teks proklamasi. Tapi juga ada beberapa tambahan pertanyaan yang baru saya dengar, misal siapa nama ayah Soekarno, Soeharto, dan Jokowi? Berapa jumlah anak mereka? Kemudian, apa isi empat sumpah Soeharto. Juga ada pertanyaan mengenai apakah dalam Reformasi 98 Soeharto itu mengundurkan diri atau dipaksa mundur?

Walau workshopnya sudah lewat, tapi saya rasa kita bisa juga ikut menabung-nabung pencarian sendiri, dengan kurikulum sendiri dengan temuan-temuan sendiri. Mari kita, Sinau Bareng sendiri-sendiri, lho? Atau sinau sendiri-sendiri tapi bareng? Apapun itu, Sinau Bareng adalah capaian sendiri-sendiri namun dengan tekad kebersamaan, membijaksanai pengetahuan. Begitulah pola jamaah kan? Karena jamaah bukanlah massa, tingkat capaian spiritual dalam sholat berjamaah tetap juga sendiri-sendiri. Tapi yang sunyi sendiri itu, menjadi unsur pembangun dalam kolektivitas dan komunalitas. Itu sebagaimana juga, pemahaman kita mengenai lokalitas, jangan sampai lokalitas jadi pengungkungan, sedikit lincahlah melihat zoom in-zoom out, hubungan lokal-global maupun global-lokal. Semua saling berkelindan.

Beberapa bahasan menarik dibahas malam ini. Mbah Nun banyak membabarkan versi-versi sejarah lokal Jawa. Juga tentu digali dari masyarakat sendiri, bahkan bapak-bapak yang hadir juga diajak bercerita apa yang pernah terdengar-terdengar mengenai sejarah Tidar. Nama Syekh Subakir kerap muncul dalam bahasan. Dan saat tiga kelompok workshop itu kembali hadir di atas panggung, kembali nama Syekh Subakir muncul terus. Soal siapa Syekh Subakir ini saya rasa pembaca yang budiman bisa cari-cari sendiri, banyak versinya. Walau versi yang dibabarkan Mbah Nun menurut saya cukup unik, sedikit berbeda dari yang pernah saya baca di beberapa buku. Mana yang benar? Nah ini poin dalam Sinau Bareng.

Bahwa bukan urusan mana versi sejarah yang benar, tapi mana yang lebih bermanfaat bagi hidup kita. Bolehlah kita namakan (entah sudah ada istilahnya atau belum) dengan istilah “sejarah fungsional”. Mau lewat jalur akademis boleh, lewat tanya-tanya, lewat pertapaan demi pertapaan ya monggo. Dan santai saja, tren akademis ilmiah juga mulai membuka mata pada hal-hal yang dulunya diangggap tidak ilmiah.

Intinya Sinau Bareng memerdekakan kita dari apa yang disebut beban kebenaran. Ini adalah gejala yang selalu meresahkan para sejarahwan. Karena ketika satu versi akademis sejarah dibuka selalu saja ada orang yang lantas jadi blaming society, seolah masyarakat itu bodoh, dungu, awam yang tidak tahu apa-apa dan harus dikandan-kandani mana yang benar. Istilah-istilah “meluruskan sejarah” itu salah satu fenomena yang disebut efek dari beban kebenaran. Pertanyaannya, kenapa harus diluruskan? Atau, kenapa kita yang mesti meluruskan? Kita toh bukan Nabi atau Rasul. Kalau akademisi Eropa, beban kebenaran ini jelas terasa karena mereka merasa memiliki tanggung jawab sosial sebagai akademisi yang hidupnya dan riset-risetnya dibiayai oleh pajak rakyat. Tapi pada kondisi kita, urgensinya apa? Sekolah toh bayar sendiri. Riset cari sendiri, baca sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Itu akademisi apa jomblo kok sendiri terus?

“Metode ini (Sinau Bareng) kita pakai juga untuk menunjukkan pada kaum tua bahwa anak-anak muda ini bisa dipercaya. Kita tidak bisa meneruskan metode tausiyah, ceramah, mauidhoh hasanah dan lainnya itu. Sebab kalau ceramah selalu dianggap orang yang diceramahi itu bodoh-bodoh,” Mbah Nun sampaikan demikian pada bapak-bapak yang berada di panggung. Saya sebagai generasi muda merasa sangat terwakili. Bagaimana dengan pembaca yang budiman?

Dalam satu pembahasan malam ini, Mbah Nun sempat menguji beberapa mahasiswa dengan menanyakan soal kata peradaban. Padanannya bagaimana. Kebanyakan menelusurinya pada kata “madinah”. Madinah al-Munawaroh. “Lho kalau begitu kenapa tidak pakai kata adab?,” kejar Mbah Nun. Tampaknya beberapa adik mahasiswa kita agak kewalahan dengan serangan bertubi-tubi pertanyaan. Sinau Bareng lebih banyak bertanya, kenapa? Karena kualitas manusia sebenarnya diukur dari pertanyaan yang dia munculkan.

Lainnya