Sinau Bareng yang Menggejala Menjadi Peradaban

Catatan Sinau Bareng CNKK di Universitas Tidar, Magelang, 14 Desember 2018

“Subjek utama dalam Sinau Bareng adalah Anda sendiri. Kami yang di panggung ini hanya fasilitator,” begitu Mbah Nun sampaikan pada Sinau Bareng di UNTIDAR semalam, Jumat tanggal 1 Desember 2018 M, Magelang. Istri saya yang sehari-hari karib dengan soal fasilitasi dan konseling antusias mendengar hal ini, barusan tadi sempat tertidur cukup lama. Dielus udara dingin kaki gunung Tidar ini sepertinya.

Pihak penyeleggara acara yang berasal dari adik-adik mahasiswa UNTIDAR ini tampaknya memang sangat bersemangat untuk menggali lebih jauh mengenai apa bagaimana sejarah lokal tempat mereka menuntut dan menimba ilmu. Berbagai kisah mengenai Gunung Tidar sebagai pusat bumi, sebagai Kawah Candradimuka serta tempat pertemuan Syekh Subakir dengan Kiai Semar ingin mereka lahap sebanyak mungkin. Mungkin ada sedikit-sedikit harap dari mereka, bahwa Mbah Nun akan memberikan materi mengenai hal tersebut bulat-bulat, membuka kasyaf misteri masa lalu.

Ada terasa sedikit rasa keinginan untuk punya legitimasi historis sebagai wilayah yang juga sama istimewanya dengan wilayah lain yang kaya akan data sejarah. Mungkin ini terasa oleh Mbah Nun, atau mungkin entah, tapi saya rasa ucapan Mbah Nun pada penghujung acara malam itu bisa sangat mengobati. Itu ketika Mbah Nun mengajak seluruh hadirin untuk selalu berdaya dalam pencarian, bahwa semua versi sah untuk kita angkat, tidak perlu minder jadi Magelang hanya karena dia bukan Yogyakarta atau Semarang, atau Solo. “Di Magelang ini saya melihat potensi-potensi sedang lahir,” kira-kira begitu ucap Mbah Nun.

Sayangnya memang hingga saat ini kita dididik untuk selalu merasa sebagai bangsa besar kalau punya legitimasi sejarah yang besar dan ingar-bingar pula. Bagaimana kalau sejarah kita ternyata hening-hening saja? Bagaimana bila sejarah kita ada di jalan sunyi? Apakah itu akan mengurangi martabat kita? Atau bagaimana kalau datanya memang belum ketemu saja? Seperti catatan Death Sea Scroll misalnya? Yang perlu kita pahami, bahwa sejarah hanya soal data.

Beberapa wilayah punya banyak data sejarah, itu bisa beberapa kemungkinan, mungkin dia memang banyak meninggalkan data sejarah atau bisa saja karena penelitinya lebih tertarik menggali yang itu. Kita tidak benar-benar tahu juga. Kita hanya perlu terus mencari. Kalau dengan istilah Kiai Muzammil malam ini, “Kewajiban kaum muslim itu adalah menuntut ilmu, bukan menemukan ilmu.” Tampaknya Kiai Muzammil sedang on fire malam ini.

Mbah Nun juga punya sendiri beberapa versi sejarah, pemetaan nama-nama penguasa kerajaan gaib di beberapa tempat dibabarkan sedikit-sedikit malam itu. Apakah ini fakta sejarah? Entah juga. Mbah Nun bilang, “Saya tidak bisa memastikan ini betul tapi kan orang lain juga tidak bisa memastikan pasti salah.” Kita hidup wang-sinawang memang. Semua ini versi, akademis-ilmiah juga versi. Tasawuf dan kebatinan juga versi. Yang membedakan hanya totalitas dalam pencarian, dan yang saya rasakan malam itu adalah Sinau Bareng memancing kita untuk jauh lebih total saat ingin mempelajari sesuatu tapi juga jembar jiwa saat memang belum jodohnya untuk ketemu.

Dunia pendidikan modern membuat kita yakin bahwa proses belajar adalah dari tidak tahu ke tahu. Itu tidak salah tapi dalam Sinau Bareng yang utama dalam menuntut ilmu adalah menjadi bijaksana. “Agar Anda akan sampai pada kebijaksanaan pengetahuan,” ujar Mbah Nun. Soal bijaksana, tahu atau tidak tahu itu belakangan. Tahu atau tidak tahu itu hanya soal informasi, dan informasi soal data dan akses menuju data. Selebihnya apa sih pengetahuan? Kalau tidak membuat kita makin bijaksana? Dan bukankah memang, kalimat bijaksana ini juga salah satu default utama yang diangkat oleh para mahasiswa yang menggelar Sinau Bareng di kampus mereka malam ini. Ada tiga sebenarnya yakni “Ngrumat sejarah Tidar, Ngrakit Kawicaksanan, Mbangun Peradaban.”

Tiga hal ini juga kemudian dijadikan bahan untuk materi workshop. Tiga kelompok segera dibentuk, dari kalangan pemuda sebagian mahasiswa kampus UNTIDAR sendiri sebagian lain belum jadi mahasiswa UNTIDAR, kapan-kapan mungkin. Agak lucu juga ketika proses pembentukan kelompok ada sedikit sikap keras yang ditunjukkan oleh Mbah Nun, tentu ini bukan kekerasan verbal atau apa. Rasanya justru kita bisa melihat kemesraan orang tua-anak kalau ada marah-marahnya sedikit, itu pun bukan Mbah Nun marah yang bagaimana juga.

Buku Cak Nun