Semesta Belahan

Mukadimah Sulthon Penanggungan Agustus 2018

Terhitung 73 tahun sudah, bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Namun sudahkah kita benar-benar merdeka?

Banyak hal yang dapat digunakan sebagai tolok ukur suatu negara dapat dikatakan sebagai negara maju. Salah satunya dapat dilihat dari pola tingkah laku masyarakatnya yang dapat bertindak secara dewasa atas dirinya sendiri maupun orang lain. Bahkan definisi ‘maju’ pun juga bisa dipertanyakan. Maju menurut siapa? Maju versi bagaimana? Apakah tidak mungkin kita memiliki pemahaman sendiri bagaimana yang disebut maju itu?

Masa depan suatu bangsa sesungguhnya dipegang oleh para pemudanya. Maka dari itu, penting sekali bangsa ini untuk meningkatkan kualitas para pemudanya untuk Indonesia yang lebih baik.

Moral generasi muda dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan kualitas atau degradasi. Dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian dan lainnya. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.

Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral generasi muda ialah perkembangan globalisasi yang tidak seimbang. Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini. Salah satu produk globalisasi yang santer dinikmati saat ini adalah keterbukaan informasi yang dengan mudah diakses.

Bangsa Indonesia mulai kehilangan jati diri, cenderung tidak memiliki roh dan kehilangan karakternya. Karakter Bangsa Indonesia yang terkenal religius, sopan-santun, suka menolong, gotong-royong, empati, toleransi, dan pekerja keras untuk menghasilkan rezeki halal, mengedepankan pendidikan seakan-akan makin lama makin terkikis habis.

Bangsa yang baik adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Banyak orang yang setuju akan hal ini, tetapi di Indonesia hal ini sangat jauh dari harapan. Terlihat dari banyaknya pemimpin di negeri ini juga tidak sadar sejarah. Terbukti dalam pengambilan kebijakan yang tidak bercermin pada masa lalu, baik dalam kehidupan berbangsa maupun di dalam kehidupan pendidikan yang dihuni oleh kaum-kaum intelektual.

Bangsa yang lupa sejarahnya sama dengan anak ayam yang kehilangan induknya. Hidup tak tentu arah dan tercerai berai sehingga pemangsa dengan mudah menguasainya. Demikianlah yang terjadi di negeri ini, para penjajah berwajah baru kembali menguras segala sumber-sumber kekayaan alam kita.

Salah satu sejarah yang dapat dipelajari adalah tentang kejayaan Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Prabu Airlangga. Diceritakan dari beberapa sumber, sejak Medang Kamulan diganti dengan nama Kahuripan, dan kerajaan dipimpin Dharmawangsa (cucu Sri Isyana) tahun 1016 mengalami kehancuran. Kerajaan diserang pasukan Wura-Wuri dari Palembang sehingga Dharmawangsa dan para punggawanya mati.

Namun Airlangga (menantu Dharmawangsa) berhasil melarikan diri bersama Rakyan Narotama ke Gunung Penanggungan. Di daerah ini menyusun kekuatan untuk melakukan balas dendam. Upaya itu berhasil dengan baik. Raja Wura-Wari bersama pasukannya diusir keluar dari Kerajaan Kahuripan. Atas keberhasilan itu, pada tahun 1019 Airlangga dilantik menjadi raja.

Kerajaan berjalan damai. Setelah mendekati usia tua menjadi seorang pertapa, wilayah kerajaan dibagi menjadi dua. Yaitu Kerajaan Jenggala dengan ibukota Daha dan Kerajaan Panjalu ibukotanya Kediri. Pembagian itu dilakukan Mpu Barada tahun 1041 M.

Dari penuturan sejarah di atas, dapat diketahui bahwa gunung Penanggungan memiliki peran penting dalam perjalanan hidup Prabu Airlangga. Dimulai dari penempaan diri sampai masa kejayaan, hingga akhir kekuasaannya yang ditandai dengan peristiwa Pembelahan kerajaan.

Salah satu peninggalannya adalah situs candi yang terdapat di dusun Belahan, yang bernama Candi Belahan. Berupa petirtaan yang lebih dikenal dengan nama Sumber Tetek.

Maiyahan kali ini bertemakan “Semesta Belahan”, di mana kita mencoba menggali lebih dalam semesta atau segala hal yang berkaitan dengan Candi Belahan. Dengan berlatar belakang situs Candi Belahan, kita mencoba mempelajari kejayaan masa silam untuk dijadikan bekal menata peradaban masa mendatang.

Dalam atmosfer semesta Belahan, dengan disaksikan dan menyaksikan arca Dewi Dewi, bersama sama kita mencoba membuka cakrawala nalar dan spiritual untuk menjadi bangsa yang besar. Oleh karena itu, mari kita melingkar bersama pada Hari Sabtu Tanggal 25 Agustus 2018 Jam 20.00 WIB di Komplek Candi Belahan Desa Wonosunyo Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan.

Buku Cak Nun