Saling Memberi Ruang Perjuangan Antar Generasi Desa

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogomulyo, Temanggung, 18 September 2018

Bahkan pada 1945, tidak ada organisasi yang berdiri atas barokah kolonial Hindia-Belanda yang rela membubarkan diri. Semua ngotot ingin tetap ada, tetap eksis dan bahkan kalau bisa dapat jatah kekuasaan. Bisa kita bayangkan, organisasi-organisasi yang berdirinya sejak 1900-1940, yang berarti pernah jadi bagian manis dari kolonial, saat NKRI berdiri justru menciptakan kisah-kisah bahwa merekalah yang paling berjuang? Masuk akal? Bagaimana bisa begitu itu disebut revolusi? Sayangnya generasi Soekarno juga mengalami keterputusan sejarah dan tampaknya tidak ambil pusing dengan hal ini.

Maka, Sinau Bareng memang ajang mempertemukan, menikahkan yang tercerai dan melipat waktu agar para generasi saling asah-asuh, tidak lagi hilang jejak. Demikian itu, diperlukan ruang.

Dialog dengan kawan-kawan generasi muda tiga kelompok ini dibersamai oleh Mas Doni dan Pak Jijit. Sesekali bercanda, tawa-tawa terdengar. Dari jamaah sendiri, celetukan-celetukan khas manusia desa sering bersahutan. Manusia desa Jawa-Nusantara, terutama yang masih murni belum di-ningrat-kan memang selalu khas dalam celetukan, bandel. Secara psikologi sosial bisa dipahami, iklim, cuaca dan ragam jenis tumbuhan mendukung untuk itu, agak panjang penjelasan soal ini. Tapi itulah, kalau tradisi pendidikannya menuntut untuk khidmat, duduk diam, jadi mustami’, jelas ada yang salah di situ. Mesti itu bukan lahir dari kesadaran pendidikan mereka sendiri. Artinya itu pasti ada pengaruh penjinakan dari luar.

“Kalau berkumpul seperti ini, jangan nunggu yang di panggung ngomong apa. Tapi aktiflah memaknai,” demikian Mbah Nun memberi antaran singkat. Sudah berabad-abad kita ini jadi konsumen makna. Kita datang pada pengajian-pengajian, kumpulan-kumpulan dengan menanti apa dawuh, apa makna, apa pesan dari pembabar bahasan. Dan selama itu pula, peradaban kita mandek. Terjinakkan menjadi pendengar kemudian sekedar jumlah massa yang mengamini. Sehingga kita cemas kalau melihat ceramah yang mengancam eksistensi kumpulan kita, karena kita kira setiap orang yang datang pada ceramah seperti itu pasti mengamini sang pembicara. Saling membubarkan pengajian, saling memberangus perkumpulan, karena kita tidak percaya bahwa manusia masing-masing berpikir dan merdeka memberi pemaknaan pada apa saja. Apa kabar afala ta’qilun?

Bahasan-bahasan dibabarkan dan dielaborasi bersama. Melihat bentuk kontur tanah serta iklim yang dingin di wilayah ini, masuk akal bahwa manusianya puya jarak sosial yang rapat. Bisa ditebak, mereka mudah memberi sentuhan fisik, gampang menyapa, cepat percaya. Psikologi sosial begini, di wilayah Asia yang ketat secara moral akan muncul persoalan dalam pergaulan bebas dan benturan dengan anti-tesisnya yang biasanya dari jalur tafsir agama keras, ini dugaan saya. Tapi ketika ada pertanyaan di penghujung acara dari seorang pemuda kepada Mbah Nun yang mengadukan soal potensi konflik antar Karang Taruna dan Remaja Masjid, saya makin pede dengan dugaan saya.

Saat berjalan melewati jalan desa menuju lokasi acara, saya perhatikan jarang rumah yang usianya lama yang berpagar. Pagar-pagar yang dibangun baru pada generasi belakangan, terlihat dari gaya arsitekturnya. Peningkatan ekonomi pada dua dekade belakangan ini mudah terbaca. Namun tampaknya mengalami kemandekan ekonomi pada beberapa tahun terakhir. Apakah ada hubungannya dengan pertembakauan, saya belum nelisik-nelisik lagi.

Pak Tanto saat dipersilahkan oleh Mbah Nun banyak menjelaskan mengenai seni desa, karakter khas pedesaan dan terutama bagaimana Komunitas Lima Gunung yang beliau asuh selalu mempertahankan ciri khas desa. Bukan ciri khas dalam bentuk karena bentuk tradisi. Itu pasti sudah ada relasi kuasa. Yang kita sebut tradisi selalu adalah tradisi dalam sudut pandang modernitas. Tapi budaya yang ada di dalam kepala, nah itu tidak bisa direbut selain melalui penjajahan alam pikir.

Bandelnya manusia desa itu karena kreativitasnya tidak terbendung. Maka bekunya pakem-pakem kesenian, itu pastinya adalah efek ningratisasi. Kaum ningrat kita tahu, adalah yang pertama kali menyerap gaya hidup Eropa. Pada jelata, hollandanisasi baru terjadi awal 1900. Tapi pada ningrat dan agamawan sudah sejak berabad-abad lamanya.

Kemerdekaan dan kedaulatan manusia desa itu sangat terlihat ketika Gugur Gunung dibawakan oleh KiaiKanjeng. Seorang bapak berkepala plontos, yang mewakili perangkat Kecamatan, di panggung tak dapat menahan diri untuk tidak bergerak. Awalnya ragu, mungkin takut baju koko putihnya kotor. Tapi kemudian lepas sudah! Jadi tarian, susunan gerak yang menyesuaikan dengan bunyi, bentuk dan ruang yang diserapnya. Bentuk seni paling murni, reaksi dari suasana.

Mbah Nun mengapresiasi tarian murni ini. Dan menagih bahwa nanti harus satu kali lagi. Pak Tanto juga menyampaikan, bahwa tarian asli ya seperti bapak ini. Bukan soal rumusan keindahan gerak, lentur-kaku atau pakem-pakem seni modern maupun tradisi. Gerak saja dulu, dan inilah yang beliau aplikasikan dalam Lima Gunung, sebisa-bisanya.

Buku Cak Nun