Saling Memberi Ruang Perjuangan Antar Generasi Desa

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogomulyo, Temanggung, 18 September 2018

KiaiKanjeng menjamu para hadirin dan hadirot di Dusun Tlogo, Desa Tlogomulyo, Temanggung malam itu tanggal 18 september 2018 M. Udara dingin dihangatkan dengan lantunan “Medley Era”. Dari “Maju Tak Gentar” hingga “Sayang”-nya Via Vallen yang reffrainnya mirip “Mirae” itu.

Setiap Medley Era dibawakan, saya perhatikan koor paling kompak selalu pada dua titik. Yakni tentu pada puncak dangdut pesisiran koplo yang memang karib di telinga warga dan trendnya belum lewat itu, dan satu lagi yakni pada “Ruang Rindu”-nya Letto. Jadi pikiran saya, karena secara timeline zaman semestinya popularitas lagu ini sudah berlalu. Mungkin, Mas Sabrang, Mas Patub dan semua personel Letto lainnya saat membikin lagu tersebut memang punya nafas maraton, atau infinite war. Bagaimana itu dalam pembahasan nada, nah saya kurang mengerti teknisnya.

“Islam datang dengan tujuan untuk menggembirakan ummat manusia. Tapi kalau senangnya berlebihan, baru diingatkan. Itulah basyiran wa nadhiran. Maka gembiralah dengan cara-cara yang menggembirakan Gusti Allah,” begitu Mbah Nun sampaikan di hadapan para warga. Mungkin memang selama ini kita terlalu dramatis sama kebenaran dan pengetahuan. Padahal Gusti Allah juga tidak perlu mengetes IQ kita atau menguji kita dengan pemahaman dari kitab-kitab bikinan manusia. Tentu itu juga penting karena kalau tidak kita hanya jadi orang baik hati yang tumpul pikiran dan terseret pada permainan tipu-daya dunia. Kita jadi kadung membela-bela tanpa jangkauan jangka panjang.

Sebelumnya, Mbah Nun meminta beberapa orang pemuda naik ke panggung dan secara spontan membentuk tiga kelompok berdasarkan fokus bahasan masing-masing. Kelompok dibentuk, masing-masing punya nama dan memilih topik bahasan yang akan dielaborasi. Begini mereka menamakan diri mereka: Petotan, Srinthil, dan Cireng (maaf kalau ada yang saya salah tangkap, harap maklumi kuping Sulawesi ini terbatas menyimak nama Jawa).

Semuanya berisi anak-anak muda. Acara ini memang digagas oleh generasi muda Dusun Tlogo sendiri. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk belajar pada para sesepuh, namun mereka juga merasa perlu merdeka dan lebih berdaulat atas zaman kehidupan mereka sendiri. Dalam setiap zaman, persoalan antar generasi memang selalu menjadi bahasan utama.

Ketika tiga kelompok tersebut kembali dihadirkan di atas panggung, masing-masing membawa hasil dari diskusi mereka. Kelompok Petotan yang mengelaborasi budaya meresahkan kesenian tradisi yang selalu tergerus oleh zaman. Srinthil membahas soal ekonomi hanya sayang penyampaian yang presentasi agak sulit saya tangkap selain cara bicaranya yang jenaka tanpa dibuat-buat, selalu memanjang di ekor kata semacam “Harus bisa mandiriiiiiiiiiii….”, lantas dilanjut “Ekonomi yang berdikariiiiiiiiiiiiii….” dan penggalan-penggalan kalimat yang, yah saya gagal memahaminya.

Kemudian Cireng, mengenai spiritualitas. Mereka memperhatikan mengenai hilangnya sosok imam. Mereka merasa sebagai generasi muda tidak punya sosok panutan di wilayah mereka. Kemudian ada persoalan dari pihak yang sering membid’ahkan tradisi lokal.

Dalam Sinau Bareng di mana-mana, kita bisa sedikit mengambil data kasar bahwa sebenarnya kaum muda ini sudah punya titik fokus yang mereka pikirkan. Hanya jalur perbuatan dan perjuangannya akan lewat mana, itu yang sering membingungkan mereka. Ada ormas-ormas, ada NU, ada Muhammadiyah, ada macam-macam. Tapi dengan kesan bahwa menjadi bagian ormas ini berarti menidakkan ormas yang lain cenderung kurang menarik minat kaum muda. Mereka butuh peta, setelahnya biarkan berjalan sendiri mereka akan mencari kreativitasnya sendiri, nemu persoalan dan belajar menyelasikan dengan olahan pikir dan rasa mereka sendiri.

Mungkin itu, kenapa Mas Helmi sempat mendapati tulisan “Biarkan Kami Berkreasi” di atas aspal yang dituangkan sebagai liputan singkat Sinau Bareng kali ini. Beri peta, mereka jalan. Kasih kunci, mereka cari bukaan-bukaan. Bisakah kita bayangkan bila mereka diberikan Islam? Wah sedahsyat apa nanti perjalanan mereka. Sayangnya hingga berabad-abad, Islam masih belum ada yang mewariskan ke mereka. Kenapa? Karena belum ada “warosatul anbiya”

Dalam melihat generasi muda, keliaran perjalanan dan pencariannya. Kadang generasi tua kurang siap. Itu wajar. Maka pembangunan dua sisi, silaturrohim itu penting sekali. Jarang orang yang bisa menahan godaan untuk tidak mapan dengan status quo pasca melewati usia empat puluh. Karena memang sudah saatnya menep, makin tenang, tidak lagi ombak-ombak hantam berreaksi. Tapi jebakannya, kadang sang tua ini inginnya jalan dan bentuk yang dianutnya juga diwariskan sama persis pada generasi muda. Malah sering bentuk-bentuk yang sudah tidak relevan di zamannya dipaksa dianutkan ke generasi muda, ini sumber pertikaian antar generasi di tiap zaman.

Buku Cak Nun