PUASALE

Mukadimah SabaMaiya Juni 2018

Bulan Ramadlan merupakan bulan yang dinanti oleh umat muslim. Entah dengan niat ​mengalap​ keberkahannya dan menikmati nuansanya. Atau bahkan tergoda dengan ​iming-iming​ indah tentang berlipat gandanya pahala dari segala aktivitas yang berbau kebaikan.

Pada bulan ini, masjid-masjid menjadi incaran multi dimensi. Baik tua, muda, atau anak-anak yang sekadar ikut orangtuanya. Pengeras suara menjadi lebih aktif diperdengarkan dengan kajian-kajian Islam. Serta lantunan ayat-ayat suci Al-Qur`an. 

Tidak hanya masjid yang dipadati. Tempat lain seperti pasar, area perbelanjaan, trotoar-trotoar jalan yang mendadak berubah fungsi menjadi tempat kuliner juga semakin ramai dikunjungi. Lebih lanjut ke meja makan rumah yang penuh dengan beragam makanan pada saat berbuka puasa dan waktu sahur. Lebih penuh dari bulan-bulan selain bulan puasa. Bahkan banyak data yang menerangkan bahwa pengeluaran/pembelanjaan rumah tangga pada hari-hari puasa jauh lebih besar dibanding hari-hari biasa. Sehinggan tak jarang muncul pertanyaan; itu menahan diri? ataukah justru melampiaskan?

Puasa yang pada hakikatnya adalah mengerem (menahan) hawa nafsu, saat ini hanya dimaknai dengan menahan lapar dan dahaga. Sehingga ketika adzan maghrib berkumandang, hal itu sudah diapresiasi sebagai bentuk terpenuhinya kewajiban puasa dengan standar sudah menahan lapar dan dahaga. Kalau begitu adanya, lalu di manakah letak spesialnya Ramadlan?

Merambah ke dunia sosial media. Beranda penuh dengan dalil-dalil hasil copy paste. Banyak tulisan beraroma khas menggurui ​wira-wiri​ mampir.  Yang sebenarnya itu rawan ter-skip oleh orang-orang yang bosan dengan sajian tema yang seperti itu saja. Belum lagi iklan musiman yang ditayangkan di berbagai media elektronik. Dan masih banyak tema-tema yang hanya diambil dari sudut pandang yang itu-itu saja. 

Mungkin sekali waktu, kita perlu menarik jauh sudut pandang. Hingga terlihatlah lautan keadaan yang jarang atau bahkan tak pernah tersentuh pandangan mata kita. Setiap tahun kita mengalami bulan puasa Ramadlan dari suasana hingga fatwa-fatwanya. Kita mengatahui dalil-dalilnya. Dan dengan segala kerendahan hati kita harus mengakui kalau kita masih sebatas pengetahuan belaka. Belum menuju ke kedalaman substansi puasa.

Jadi, entah bagaimana puasa kita hari ini. Apakah hanya sebatas sandiwara Ramadlan? Atau, memang kita benar-benar tergoda dengan ​iming-iming​ berlipatgandanya pahala? Seperti kita yang tergoda oleh kalimat yang tertulis di tempat-tempat perbelanjaan: SALE 70%, SALE 50%, SALE 40%, SALE 30% dan SALE-SALE yang lain. (YA)

Bulan Ramadlan merupakan bulan yang dinanti oleh umat muslim. Entah dengan niat ​mengalap​ keberkahannya dan menikmati nuansanya. Atau bahkan tergoda dengan ​iming-iming​ indah tentang berlipat gandanya pahala dari segala aktivitas yang berbau kebaikan. Pada bulan ini, masjid-masjid menjadi incaran…