Nyambung Salah

Mukadimah SabaMaiya November 2018

Ada dua ungkapan yang sering kita dengar dari penceramah-penceramah :

Pertama, “Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”

Kedua, “Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Saat ini, banyak muncul kelompok orang yang mendedikasikan hidupnya untuk berbuat kebatilan. Dengan kata lain, hidupnya untuk kejahatan dan kejahatannya untuk (bisa bertahan) hidup. Kenyataan ini sepatutnya bukan hanya diwaspadai, tetapi juga diantisipasi. Pasalnya, pada waktu yang tak disangka-sangka, orang-orang yang terorganisir berani melakukan apa saja, tak terkecuali menyerang orang-orang yang sedang berusaha menegakkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Banyak orang yang tidak peka terhadap sesuatu yang tidak benar, sekarang sudah kebal terhadap kebatilan, seolah-olah tempat berdiri kita adalah kebatilan. Kita menjadi tak punya jarak dengan kebatilan, dan kita tidak mampu lagi melihat dan menilai kebatilan. Karena tidak mampu melihat dan menilai kebatilan, kita juga tak mampu berbuat apa-apa terhadap kebatilan.

Apakah kebal itu buruk? Tentu ada baiknya dan ada buruknya. Kebal terhadap kesedihan dan frustasi itu perlu. Tapi kebal terhadap ketidakbenaran dalam arti tak peka bahwa ada ketidakbenaran, itu negatif.

Tapi sekarang lain, orang malah kebal terhadap kebenaran, kebal hukum, kebal peraturan, dllsb. Kesalahan disambung dengan kesalahan, kebobrokan dilanjutkan dengan kebrobokan, dan ketidakbenaran-ketidakbenaran yang lain yang diwariskan dan diterus-teruskan.

Padahal Nabi SAW menyarankan agar orang-orang beriman bersatu agar terorganisir, sehingga mampu mengantisipasi kebatilan orang-orang terorganisir.

Pada edisi bulan November ini, Majelis rutinan SabaMaiya berusaha untuk nyicil, bersama-sama sinau antisipasi, serta mendalami tema ”Nyambung Salah”.