Menjalankan Syarat Konvergensi Sosial

Liputan Sinau Bareng CNKK di Weleri, Kendal, 29 Agustus 2018

Apa yang berlangsung semalam di Lapangan Sambungsari Weleri, dan juga Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di berbagai tempat, dapat dibaca sebagai proses konvergensi sosial dan sejarah. Proses di mana orang dari berbagai identitas dan kelompok bergerak menuju satu titik bersama. Dari padatan-padatan kelompok, mereka mencairkan diri agar bisa menyatu dalam kebersamaan. Jadi, adalah al bullshit bila kita berteriak persatuan atau ukhuwah, sementara yang kita kerjakan justru adalah membesar-besarkan dan mengkekeh-kekehkan (diri pada) identitas kita sendiri.

Ada satu analogi sederhana yang disebutkan Cak Nun tadi malam. Ialah: air. Bisakah air dipecah? Bisa. Caranya? Masukkan ke dalam kulkas, sampai membeku, dan setelah itu silakan dipecah. Demikianlah jikalau hati-hati kita membeku, saat itulah kita mudah dipecah belah. Maka supaya kita tidak gampang dihancurkan, ada satu syarat yaitu cairkanlah diri kita satu sama lain. Dalam artikulasi yang lain: perbanyaklah oleh kita saling penerimaan.

Bu Bupati Mirna sangat senang dan tak menyangka akan kenyataan tadi malam bahwa orang-orang dari NU, Muhammadiyah, non muslim, pemuka masyarakat, dan gondes-gondes (pinjam istilahnya Pak Kiai Fahrurruksidi saat menyebut hamparan jamaah generasi muda yang duduk bersama lesehan itu) bisa berbagi kebersamaan dan kegembiraan, dalam tingkat yang Bu Mirna mampu rasakan sendiri buat kali pertamanya. Momentum seperti ini penting banget bagi seluruh komponen pemerintahan dan kepemimpinan di Weleri, termasuk para kepala desa, sebab mereka benar-benar berharap Weleri bisa hidup dalam adem, ayem, dan tentrem. Sinau Bareng tadi malam diharapkan jadi pengingat dan pelecut yang nyata bahwa hidup rukun dan baik-baik bisa diwujudkan di tengah-tengah masyarakat.

Mentalitas memang perlu di-upgrade dikit buat mampu menciptakan kebersamaan di dalam kehidupan bersama, apalagi kerak-kerak sejarah pertentangan barangkali lumayan tebal menempel di badan kita, ditambah lagi belum matangnya kepemimpinan di lingkup-lingkup kita selama ini, menjadikan mental kita mengerdil dan kurang suka pada keluasan. Kita belum berani melampaui batas pengalaman dan identitas kita.

Langkah lain yang perlu dilakukan menuju konvergensi sosial itu adalah membenahi atau memperbaharui pemahaman kita atas sejumlah konsep dan perjalanan sejarah. Cak Nun sudah coba berikan hal itu tadi malam ketika awal-awal memberi pengantar, sesudah turut melantunkan Shalawat Badar. Misalnya? Selama ini kita memahami ukhuwah Islamiyah sebagai persaudaraan sesama orang Islam. Bagaimana kalau kita perbaharui dengan mengartikannya sebagai persaudaraan yang disifati oleh nilai-nilai Islam, dan itu bisa berlangsung oleh umat Islam dengan siapapun saja. Kalau yang terjadi adalah persaudaraan antar umat Islam, lebih pas terminologinya adalah ukhuwah bainal muslimin. Makanya mengapresiasi suasana Sinau Bareng tadi malam, Cak Nun menyebutnya sebagai srawung Islam.

Kemudian, kita tentu mengenal fenomena hijrah Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini melahirkan dua kelompok orang di Madinah, yaitu kaum Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan Kaum Anshor (para penolong). Orang-orang muhajirin adalah orang-orang yang telah memeluk Islam bersama Rasulullah. Namun orang-orang Anshor yang turut gembira menyambut kedatangan kaum Muhajirin dan membantu banyak keperluan mereka untuk memulai hidup baru di Madinah, menurut Cak Nun, tak seluruhnya orang Islam, juga background mereka bermacam-macam. Perbauran antar Muhajirin dan Anshor adalah perbauran yang benar-benar perbauran. Itu dimungkinkan terjadi karena Rasulullah sendiri tidak pernah memaksakan orang lain memeluk agama Islam. Dalam perbauran itu yang sama-sama dipegang adalah komitmen dan perjanjian untuk sama-sama saling menolong.

Satu lagi yang Cak Nun ajak kita semua membuka satu ayat dari al-Qur’an, dan ayat ini sangat populer, tapi mungkin masih ada satu dua hal yang tertinggal dalam kita memaksimalkan memahaminya, dan itu justru hal yang penting bagi Cak Nun. Ayat yang dimaksud adalah surat al-Hujurat ayat ke-10. Innamal mukminuna ikhwatun fa-ashlihu baina akhowaikum wattaqullaha la’allakum turhamun. Silakan buka sendiri terjemahannya ya, dan sebenarnya saja ayat ini begitu gamblang pesannya. Semalam yang ditekankan Cak Nun adalah ujung ayat tersebut, yaitu la’llakum turhamun. Maksudnya, kalau kita mau bersaudara, mau mengakhiri perselisihan dengan kedewasaan dan kebijaksanaan, itu tidak sekadar persaudaraan itu sendiri terwujud, tapi lebih dari itu yakni dengan persaudaraan itu Allah akan menurunkan rahmat-Nya buat kita semua. Barangkali ini yang kita belum sepenuhnya pahami.

Tiga poin itu (ukhuwah Islamiyah, membaca persitiwa persaudaraan Muhajirin-Anshor, dan memahami surat al-Hujurat ayat ke-10) dielaborasi dengan cara dan perspektif baru oleh Cak Nun pada saat-saat awal Sinau Bareng. Itulah modal ajaran dari agama Islam, pengalama sejarah Hijrah Nabi Muhammad, dan interpretasi baru atas ayat al-Quran terkait yang diberikan Cak Nun kepada segenap tokoh dan lapisan masyarakat Weleri, untuk membangun kehidupan bersama yang penuh persaudaraan.

Jika diteruskan sedikit lagi, kita bisa.mendapatkan wawasan dan keyakinan baru bahwa bersaudara itu selain enak adalah juga memancing turunnya rahmat dan anugerah Allah. Kalau kita mengembangkan diri saling ikhlas, rela, dan memperlebar penerimaan, pencapaian langkah sosial kita bisa jadi tak terduga, unik, tapi indah. Dari saling menerima berkembang menuju ingin memberikan atau melayani. Satu contohnya sudah langsung ada di Sinau Bareng tadi malam. Sebuah stand kopi bertuliskan: “Kopi Gratis Ngaji Bareng Cak Nun. Tidak Melayani Jual-Beli.” Jiah nggaya tenan konco-konco ini, tidak melayani jual-beli hahaha. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise