Semuanya Bergembira Menyambut Cak Nun dan KiaiKanjeng

Liputan Sinau Bareng CNKK di Weleri, Kendal, 29 Agustus 2018

Rombongan KiaiKanjeng telah tiba di Weleri pada pukul 16.43. Sinau Bareng malam ini diselenggarakan di Lapangan Gelora Manunggal Sambongsari kota Kecamatan Weleri. Lapangan ini terletak di pinggir jalan yang menghubungkan kota Weleri dengan Kabupaten Batang. Hanya butuh berjalan sedikit menuruni jalan untuk sampai ke Lapangan, karena tempatnya berada di balik deretan ruko sederhana.

Ramai suasana menyambut kedatangan KiaiKanjeng. Berbagai macam persiapan masih terus berlangsung. Sejumlah stand pendukung acara telah berdiri rapi dan harmonis di pinggir jalan lapangan. Ada stand Kospin Sekartama, posko Bencana Alam Muhammadiyah Kendal, Stand Bagi Nasi Gratis, KSP Surya Artha, dan lain-lain. Beragam umbul-umbul tak ketinggalan berdiri sisi kanan-kiri lapangan. Semuanya menandakan berbagai pihak turut nyengkuyung berlangsung Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang digelar oleh Paguyuban Kepala Desa dan Masyarakat Weleri. Dalam rangka apa? Dalam rangka memeringati HUT Kemerdekaan RI ke-73 dan Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-413.

Mata saya terus mengedarkan pandangan ke sekeliling dan di tengah lapangan. Saat barusan turun dari bis, sudah terpajang sebuah spanduk ucapan selamat datang kepada Cak Nun dan KiaiKanjeng dari komunitas Lindu Aji. Sementara itu di dalam lapangan juga terpampang ucapan yang sama kepada Cak Nun dari Anshor NU Weleri Kendal. Semua elemen masyarakat yang beragam turut senang dan bergembira dengan Sinau Bareng ini. Ruang transit KiaiKanjeng bahkan di kantor Koramil yang berada di seberang lapangan.

Saat tiba di panggung tadi, seperti biasa KiaiKanjeng langsung melaksanakan tahapan cek sound. Di tengah lapangan, warga masyarakat menyaksikan proses ini. Ada yang turut ambil foto. Salah seorang remaja berdiri di dekat saya, tak jauh dari panggung. Ia datang dari Batang, dan sehari-hari bekerja di PLTU Batang. Ia sudah datang sejak sore. Ia bersyukur dengan adanya Sinau Bareng. Baginya, apa-apa yang disampaikan Cak Nun mudah diterima dan dipahami. “Gampil nyerèpe, Mas.” Selain malam ini, dia berencana akan menuntaskan hadir Sinau Bareng di Jepara dan Grobogan, dua hari berturut-turut besok dan lusa.

Melihat berbagai keterlibatan macam-macam elemen pada Sinau Bareng seperti sore ini, terlintas dalam benak saya, bahwa sebenarnya kita tak lagi bisa bersandar sepenuhnya pada tipologi dan kategorisasi baku yang selama ini dipakai dalam memahami umat Islam atau masyarakat Indonesia. Terjadi perkembangan ragam aspirasi dan variasai-variasi menyangkut gagasan keislaman dan kemasyarakatan yang perlu dibaca dalam cara-cara baru.

Mega merah di langit Weleri makin tampak, dan akan mengantarkan peralihan waktu. Senja datang menghampiri. Alat-alat musik KiaiKanjeng sesaat kemudian berhenti. Bapak-Bapak KiaiKanjeng, berdiri, membawa tas masing-masing, dan bersegera melangkahkan kaki menuju ruang transit di kantor Koramil. Suara Adzan Maghrib terdengar mengalun, dan orang-orang yang tadi berdiri di lapangan, satu per satu bergegas meninggalkan lapangan untuk menunaikan shalat Maghrib. Nanti mereka akan datang kembali ke sini, bersama jamaah dan masyarakat lebih banyak lagi, untuk Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise