Kebersamaan Melampaui Beban Sejarah

Liputan Sinau Bareng CNKK di Weleri, Kendal, 29 Agustus 2018

Sekitar dua puluh tahun silam, Sami Zubaida bertanya melalui judul tulisan ringkasnya, “Muslim Societies: Unity or Diversity?”. Ketika itu, Sami adalah doktor di Birkbeck College University of London. Lewat tulisan yang dipublikasi dalam ISIM (International Institute for the Study of Islam in the Modern World) Newsletter pada Oktober 1998, menyodorkan pertanyaan: masyarakat muslim itu sebuah kesatuan atau keragaman? Di satu sisi Sami menyadari terdapat ungkapan lazim bahwa Islam adalah satu sistem peradaban, dan ini memunculkan impresi dan citra akan kesatuan itu. Sementara di sisi lain jika dihadapkan pada konteks politik, muncul wajah yang beragam pada diri umat Islam.

Kegelisahan atau pertanyaan Sami Zubaida tentu bukan satu-satunya. Rasa yang mengarah ke pertanyaan yang sama juga muncul tatkala kita menoleh ke kanan kiri. Ke sejarah, juga. Mengapa kita mudah terpecah-belah. Mengapa kita gampang terseret pada polarisasi yang tak dewasa. Belum lagi kalau diingat bahwa produksi pengetahuan (lewat proyek studi sosial dan riset terhadap masyarakat muslim) yang masuk dalam diskursus intelektual kita telah menghasilkan tipologisasi dan kategorisasi-kategorisasi yang dalam banyak segi justru agak merugikan diri kita. Ada Islam A ada Islam B, C, dan D, dll. Kadang kita dibuat bingung karenanya. Berapakah jumlah Islam jadinya?

Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa dorongan di dalam hati kita, sebagai umat Islam dan manusia, untuk bersatu, menciptakan kebersamaan, kerukunan, dan kebekerjasamaan satu sama lain, itu ada dan terus menyala. Desakan ini pada waktunya akan mengubah gambaran sosial umat Islam, yang tak lagi sepenuhnya bisa dipahami dengan pengetahuan lama. Desakan itu akan mengantarkan pada suatu profil baru, bahwa umat mungkin beragam latar belakang dan identitasnya, namun mampu membangun kebersatuan. Identitas-identitas tak selamanya membawa pada pertentangan.

Pertanyaan Sami Zubaida dua puluh tahun silam itu nongol dalam bayangan pikiran saya tatkala berada di sini, di Lapangan Sambungsari Weleri Kendal. Juga karena mengingat masih mencuatnya kemungkinan konflik dan ketegangan di antara berbagai kelompok sampai saat ini, entah disebabkan oleh politik kekuasaan atau sebab lain, misalnya gontok-gontokan aliran. Pada konteks ini, jelas terlihat bahwa sejarah telah membebani kita berdekade-dekade, berabad-abad, dengan mewariskan ego kelompok yang sangatlah mudah memercikkan kebencian dan konflik.

Di Lapangan Sambungsari ini, sejak sore, kita sudah terpapar hal yang sama sekali berbeda. Elemen-elemen masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, Forkompinda, para kepala desa, juga masyarakat lintas agama dan etnis, bakal duduk bersama dalam kerukunan dan kedekatan hati satu sama lain. Sejak dijamu makan malam di aula Koramil, Cak Nun sudah dikerubungi tokoh-tokoh masyarakat yang beragam itu. Semuanya mengekspresikan bahwa identitas bukanlah penghalang untuk srawung. Semuanya menunjukkan ada concern yang lebih besar daripada identitas.

Puncaknya, tatkala Cak Nun beserta Bu Bupati Mirna Annisa, Kapolres, Kapolsek, Dandim, dan seluruh tokoh masyarakat tadi naik ke panggung, dimulailah fenomenologi kebersamaan itu. Bergulir rasa persaudaraan itu. Tatkala Cak Nun mempersilakan tokoh Muhammadiyah bawakan lagu Sang Surya, tokoh yang NU ikut serta. Pun sebaliknya saat Yahlal Wathon, yang Muhammadiyah ikut bernyanyi. Dan ketika Cak Nun ajak semua jamaah bareng-bareng melantunkan Sluku-sluku Bathok yang dipadukan dengan Qasidah Burdah Imam al-Bushiri yang populer di masyarakat, semuanya aktif turut melantunkannya. Wajah-wajah itu khusyuk dan penuh semangat. “Jangan gara-gara NU dan Muhammadiyah mau besanan malah nggak jadi,” kata Kiai kita dari NU, KH Fahrurruksidi. Sedangkan tokoh kita dari Muhammadiyah, KH Muslim, berkata dengan lantang, “Ya bani Adam…itulah salah satu cara Allah memanggil. Semua manusia sesama Anak Adam. Bukan identitasnya. Bukan Muslim saja, atau Kristen saja. Pokoknya anak Adam, dan malam ini indah sekali.”

Situasi persaudaraan yang kental di Weleri malam ini harus dicipta sebanyak-banyaknya. Di mana-mana. Tentu kita sama-sama tahu, itulah yang telah dilakukan Cak Nun dan KiaiKanjeng di setiap kehadirannya di mana-mana tempat. Mengatmosferkan dan mengajak masyarakat bahwa kebersamaan dan persaudaraan itu bisa diujudkan. Cak Nun memberikan contoh akan hal itu, dari konsep, metode, hingga aplikasi-aplikasinya. Kebersamaan itu bahkan tidak hanya antar umat Islam, bahkan terhadap nonmuslim. Komunitas Tionghoa tadi sudah dipersilakan naik dan menyanyikan salah satu lagu, dikawal KiaiKanjeng, dan mendapatkan apresiasi sambutan kegembiraan dari semua jamaah. Persaudaraan itu terus bergulir.

Sami Zubaida bertanya, dan di sini, ribuan kilometer dari tempat dia berada, berbagai lapisan masyarakat di wilayah Kabupaten Kendal ini dengan dipandu Cak Nun membangun kebersamaan, yang sebenarnya adalah jawaban bagi tantangan zaman menyangkut harmoni, perdamaian, kerukunan antar anak manusia, juga tentang bagaimana umat Islam bisa membangun kehidupan baru dalam sejarah peradabannya. Satu lanskap yang membawa semua yang hadir ini belajar melampui beban sejarah dari masa silam, untuk kehidupan yang lebih baik. Itulah big picture yang kita selayaknya mengarah. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise