Mema’rifati Manusia, Ma’rifat Biasa Saja

Reportase Pentas Dramatisasi Cerpen “Adam Ma’rifat” untuk Mengenang 100 Hari Wafatnya Mas Danarto

Rangkum sekenanya saja, dan pasti kemasukan opini saya sendiri:

Sekali lagi, “Ma’rifat ojo diserem-seremke, biasa saja” dia bisa saja adalah terbukanya lapisan-lapisan pemahaman, yang kita semua menempuhnya mau tidak mau. Mencari atau tidak. Semuanya dibentangkan dulu oleh Mbah Nun soal syari’, sebagai jalan. Sabil sebagai arah. Thoriq sebagai rambu mendetail. Semua orang berhak punya syariat, sabil hingga thoriqotnya dan itu berlangsung wajar-wajar saja sepanjang hidup, ma’rifat adalah terbukanya pemahaman-pemahaman mengenai hidup, mengenai orang di sekeliling, mengenai diri sendiri, alam, asap rokok, cara menanam padi sampai mengolah jadi nasi dan sebagainya. Semua seiring kita menjalani hidup yang wajar. Masa Tuhan tidak hadir dalam kewajaran?

Hanya kita memang sedang mengalami dramatisasi spiritual-spiritualan nyufi sehingga kesannya semua itu jadi agak lebay. Bahkan ndak usah GR juga bahwa NKRI ini harus dan pasti abadi, kalau memang dianggap kurang relevan ya ganti saja monggo to? Konsep nation-state dengan demokrasi seperti yang dianut NKRI ini juga baru saja digodok 1920an dengan United States sebagai kiblat demi membentengi Eropa dari NAZI. Kita ikut trendnya, padahal ndak punya urusan (langung, kalau okum ada tercatat) sama NAZI.

Tugas Nation-State banyak yang menganggap sudah selesai (Banyak? Siapa?), kebijakan-kebijakan politik Inggris dan beberapa negara Eropa pasca Brexit hingga sebulan lalu, kalau diperhatikan detailnya sebenarnya mengarah pada mulai ditanggalkannya bentuk ini. Kita ini koq masih aja NKRI Harga Mati? Sudah dulu ikutan bentuknya ahistoris, mempertahankannya mati-matian pula, apa deh kita ini? Wajar koq memutuskan sebuah bentuk negara sudah tidak relevan, ubah kalau mau, dengan cara baik-baik tentu saja.

Rasanya kalau Pak Danarto hadir dan pengen menampakkan diri malam itu, beliau dengan kemampuan set panggung dan lightingnya yang tersohor, mesti memilih menampakkan diri dengan cara yang tidak mainstream di wacana spiritual yang sudah-sudah. Masa Pak Danarto mainstream muncul dengan penampakan ala ala guru bijak bestari masa lalu? Ndak keren ah. Pak Danarto pasti akan… Wuuzzz… Bbbssszztrr… Nggguuunnngg… Ningnong ningnonggg….

Aduh, sepertinya saya semakin kesulitan membagi mana reportase, mana imajinasi dan mana interpretasi saya yang terpancing oleh pementasan dan kalimat-kalimat Mbah Nun malam itu, maka saya harus lompat pada kesimpulan:

Kemampuan mema’rifati manusia, apa adanya manusia seperti ini, jangan sampai hilang dari kita. Kemampuan menjadi ruang yang menampung, di luar kesetujuan dan ketidaksetujuan. Mbah Nun mencontohkan pada malam itu, bahwa hal itu bisa dilakukan. Kita pun, bisa melatih itu.

Lainnya