Mema’rifati Manusia, Ma’rifat Biasa Saja

Reportase Pentas Dramatisasi Cerpen “Adam Ma’rifat” untuk Mengenang 100 Hari Wafatnya Mas Danarto

“Sekarang ini orang selalu diajarkan bahwa untuk ketemu Gusti Allah kudu lewat ustadz, kiai, mursyid, pastur, pendeta.” Iya, orang menjadi tidak mesra dengan Gusti Allah-nya masing-masing, Gusti Allah harus versi divisi pemasaran akhirat e ma’rifat eeh, akhirat ah whatever, maksudnya itulah. Itu pun divisi yang berdiri sewenang-wenang tanpa ada proses dialog dengan para awam.

Bagaimana Adam Ma’rifat? Apakah ma’rifat di sini sekadar terminologi semacam tercerahkan seperti yang sudah-sudah dalam berbagai aliran agama sebelum Islam? Jadi kok rasanya ndak ada istimewanya Islam kalau sekadar itu.

Tapi…

17 manusia dengan kostum dominan putih itu, “Jangan-jangan kostum juga cari sendiri ini?,” tanya Mbah Nun pada mereka, mereka berseru kompak “Iyaaa”. Pengorbanan? Itu hanya kata bagi yang merasa sedang berkorban. Tapi, tujuh belas sosok ini sebelum diajak duduk bersama oleh Mbah Nun beberapa saat yang lalu sedang mema’rifati gerak demi gerak, kata demi kalimat, demi dengung, demi gesek, deru jalan raya brrrrrrmmmm…. Pesawat lewat, aroma berwarna, merah jadi hentakan ungu, gembul berpatah-patah (keren Mas Ben!), gemulai aduhay (Hay Ghea, selalu bintang panggung!) bunyinya hijau, jadi pohon mangga yang tumbuh di tengah jalan, penumpang bis yang berseru:

“Apakah kau Nabi?”

“Bukan”

“Apakah kau dewa?”

“Bukan! Aku hanya Allah yang mengejawantah”

Adam Ma’rifat, di… Pentaskan? Di… Bacakan? Di… Komposisi gerak-kan? Di… Tembangkan? Di… Diam-renungkan? Di… Tidurkan? Entah, konsepnya bagimana Adam Ma’rifat malam ini. Pak Danarto tersenyum.

Siapa berkata apa? Siapa berkata pada siapa? Siapa menuntut siapa? Siapa menjajah siapa? Siapa menyetubuhi siapa? Tak ada aksi-reaksi atau sebab-akibat rasional yang bisa ditangkap. Gerak patah kawin seenaknya dengan suara-suara, ada suara anak menangis yang tidak terdengar. Koq tau ada anak sedang menangis? Ya masa di satu dunia tidak ada anak sedang nangis? Cari saja sendiri untuk verifikasi, kalau belum nemu, coba cek galaxy sebelah.

Ada Mbak Nunung Rita dan Ray putranya (sudah om follback IG-nya Ray) jadi penerima tamu di bawah, ada kakek di pojok membaca koran di depan lukisan yang tak pernah dipertunjukkan, seseorang tidur tanpa pernah bangun di sisi lain panggung, dunia?

Saya akan bohong kalau bilang paham apa isi pentas ini. Saya akan gegayaan kalau bilang menontonnya tanpa menguap, mata berat, otak tersendat. Jelek? Buruk? Jauh juga dari itu, karena keterbatasan bahasa saya hanya bisa bilang: indah, di luar konsep keindahan yang saya tahu. Saya sedang bangga dengan peci ala jihadis Talliban yang baru saya beli, eh koq kembaran sama yang dipakai Pak Nevi dan Pak Jemek, kok bisa?

Tapi…

“Ada hal-hal dalam hidup yang tidak perlu paham, tapi dilakoni wae. Mas Danar itu kayak gitu,” ungkap Mbah Nun.

Kita juga tidak benar-benar tau apa bukti historis keberadaan Wali Songo, tapi secara sosial agaknya mustahil sosok-sosok itu tidak pernah ada. Secara historis, kebanyakan bukti sejarahnya belum pernah diuji. Tapi ya, lakoni wae. Pentas ini pun begitu, pun alm. Danarto.

Mbah Nun memang punya impresi sendiri terhadap orang-orang yang bersentuhan. Mbah Nun dengan ringkas menceritakan dari alm Danarto, kemudian (mantan) istri almarhum yang aslinya lahir di mana, dari orangtua seperti apa dan pada kemudian hari menjadi apa. Kemampuan melihat sisi manusia dari seseorang, itu juga tampak ketika malam itu Mbah Nun membersamai sesepuh-sesepuh seniman di Sanggar Bambu. Dari Pak Untung Basuki, Pak Merit, Pak Jemek, Pak Toto Buchori, Lik Suyanto dan banyak lagi.