Ketika ‘Setan’ Keliling Dunia dengan Musik

Tembang Setan. Sebuah komposisi lagu yang sangat berani. Mungkin ada yang mengira ini merupakan salah satu judul lagu dari kelompok musik underground yang sering mengusung tema soal setan, kesesatan, kematian yang brutal, kehancuran, dan kegelapan. Pokoknya serba serbi soal satanisme.

Bukan. Tembang Setan yang ini adalah salah satu dari komposisi milik KiaiKanjeng. Tertuntun rasa penasaran, se-setan apa sih tembang ini. Selancar ke dunia maya dan menemukan satu dua rekaman live ketika event Maiyahan. Jangan-jangan musiknya memang seram dan suram? Seperti musik-musik scoring untuk film-film horor?

Tombol play saya klik. Dan….. ha? Ini bukan sih bukan horor. Ini bukan musik yang menakutkan. Bukan musik yang menggugah rasa depresi semakin menjadi-jadi. Didengarkan tengah malam sendirian juga nggak bakalan takut. Bukan musik yang menyeramkan. Aduh.

Ini musik yang bisa mengajak kita yang mendengarkan ini serasa keliling dunia. Kok bisa?

Dengarkan dengan saksama lagu temukan struktur lagunya. Salah satu bagian terpenting dalam struktur sebuah lagu adalah bagian yang disebut dengan tema. Ini adalah melodi atau susunan nada-nada pokok yang nantinya menjadi penanda sebuah lagu itu akan dengan mudah diingat. Terkadang digunakan untuk nada di dalam refferain (reff) lagu.

Dalam setiap lagu pasti ada bagian yang nadanya mudah diingat dan menjadi ciri. Misalnya lagu Ibu Kita Kartini. Orang Indonesia yang mau belajar alat musik (piano/pianika), dengan reflek sebagian besar akan memainkan nada-nada lagu Ibu Kita Kartini. Kenapa, karena pemiilihan tema menggunakan nada-nada yang mudah diingat, dan urut yang ada di awal lagu.

1 2 3 4 5 3 1 dengan lirik ya, ibu kita kartini….

Begitu juga dengan Tembang Setan. Tema dalam Tembang Setan diambil dari lagu Man Paman dimainkan dengan tangga nada Minor. Di sini ada tiga nada yang cukup menonjol, apalagi kalau bukan nada pokok dalam tangga nada Minor yaitu, nada 6 7 1 (la si do). Ketiga nada inilah yang menguasai jalannya lagu.

61 7. 77 71 | 61 7. 0 .1 | 11 17 77 76 | 17 6. 0 0 |

Lebih kurang seperti di atas susunan nada utamanya. Angka 0 (nol) dibaca kosong.

Alih-alih menemukan setan, justru saya menemukan tingkah polah lagu yang cukup unik. Bukan perkara syairnya tetapi ini menyangkut penyikapan terhadap hal yang awalnya sederhana menjadi sajian musik yang beragam bentuk lagunya.

Betapa tidak, ketiga nada pokok tangga nada minor itu mendapat respons musikal yang beragam. Sependek pendengaran dan pengetahuan saya terhadap musik, setidaknya saya dapati tujuh pola arransemen yang berbeda.

Pada bentuk lagu pertama Tembang Setan, irama gendhing Jawa begitu terasa sekali. Mungkin menggunakan pendekatan pola langgam Jawa. Di mana meski tempo yang dibangun terkesan lambat, tetapi melodi yang mengisi tidak lantas ikut melambat. Itulah salah satu ciri musikal orang Jawa. Syair lagu yang dipakai adalah lagu Man Paman. Di sini juga terjadi proses tanya – jawab lagu. Dalam gendhing Jawa disebut padhang – ulihan.

Memasuki bentuk lagu yang kedua, lompatan musikal terjadi. Blues. Itulah bentuk lagu kedua. Dijembatani (bridge) melodi gitar. Selanjutnya isian melodi gitar mendominasi. Sebagaimana karakter yang ada di dalam musik blues itu sendiri. Istilahnya gitarnya ikut bernyanyi. Kentara juga di pola pukulan drumnya.

Dari blues pola beralih ke bentuk gendhing Cokekan. Atau ada yang menyebutnya dengan konsep Gadhon. Yaitu memainkan gendhing hanya dengan menggunakan beberapa instrumen gamelan saja. Tidak menggunakan perangkat gamelan dengan lengkap. Mungkin cukup kendhang dan vokal atau ditambah sedikit isian melodis dari bonang atau saron.

Boleh diingat, tembang-tembang yang dimainkan oleh KiaiKanjeng bukan sekadar untuk memanjakan telinga. Tetapi ada hal-hal yang menarik untuk dipelajari lebih lebih dalam. Karena tidak banyak manusia yang mau memikirkan, menyiapkan detail komposisi untuk lagu seperti Tembang Setan ini. Yang saya pikir tembang ini akan cocok dibawakan di belahan manapun di planet Bumi.

Sebentar kemudian langsung beralih ke pola Jazz tanpa jembatan sama sekali. Dari sini setannya mulai terasa secara musikal. Halus sekali peralihannya. Sehalus bisikan setan kali. Kenapa bisa Jazz, bisa diidentifikasi dari pola permainan drum dan bass-nya. Walking bass. Bass-nya jalan-jalan kesana kemari. Melodi gitar dan piano melakukan improvisasi. Membuka celah-celah supaya bisa dimasuki.

Berhenti sesaat, kemudian menjelma menjadi bentuk lagu keroncong. Sangat terasa isian melodi gitar dan kocokan bass dan biolanya.

Keroncong selesai kemudian berubah nuansa seperti pagelaran wayang. Bentuk lagu berubah menjadi semacam suluk.

Suluk selesai dengan sedikit jembatan lagu rock, Tembang Setan seakan mencapai klimaksnya.

“Ojo nesu ngrungoke tembang setan, wong sing nembang iki yo ugo setan…,” dinyanyikan tanpa iringan apapun.

Ditutup dengan musik bernuansa Arabian. Kentara pada salah satu alat musik perkusi khas Timur Tengah yang digunakan. Kemungkinan Darbuka. Serta isian melodis biolanya.

Susunan nada pokok yang sederhana di dalam Tembang Setan disikapi dengan berbagai macam kemungkinan bentuk musik yang bisa dibilang tidak sederhana. Tentu butuh persiapan. Butuh referensi. Butuh kelengkapan pengetahuan. Apa itu gendhing. Apa itu komposisi gendhing. Bagaimana saja pola gendhing. Untuk apa saja gendhing itu dimainkan.

Apa itu musik Blues. Bagaimana musik yang awalnya dinyanyikan oleh para budak kulit hitam dan disinyalir dipengaruhi oleh gaya ‘adzan’ itu akhirnya bisa mencuri perhatian dunia. Mempengaruhi cara bermain musik para musisi ‘pop’ lintas dunia.

Apa itu jazz. Apa itu improvisasi. Kapan ruang dan waktunya untuk kita berimprovisasi. Apakah asal improvisasi saja tanpa bekal apapun?

Siapa itu Keroncong. Dari mana ia datang. Apa saja yang telah dilakukan oleh si keroncong ini? Bagaimana sumbangsihnya terhadap negara?

Dan beberapa ranah kemungkinan yang bisa dipelajari. Juga semakin membuktikan bahwa apapun yang ditanam di tanah ini bisa tumbuh subur. Termasuk bentuk-bentuk permainan musik di dunia.

Boleh diingat, tembang-tembang yang dimainkan oleh KiaiKanjeng bukan sekadar untuk memanjakan telinga. Tetapi ada hal-hal yang menarik untuk dipelajari lebih lebih dalam. Karena tidak banyak manusia yang mau memikirkan, menyiapkan detail komposisi untuk lagu seperti Tembang Setan ini. Yang saya pikir tembang ini akan cocok dibawakan di belahan manapun di planet Bumi.

Demikian jabaran yang singkat dan sederhana dari saya. Ada kurangnya, jelas sangat kurang sekali. Ada lebihnya, kayaknya nggak ada.

Sudah ketemu sama Setan-nya?

Buku Cak Nun