Kekuatan Baru Qoumun Akhor

Dunia sedang dan terus bergerak menemukan dirinya. Perubahan mengalir deras. Lahirnya kekuatan baru semakin tidak terbendung. Cara lama mulai ditinggalkan: dunia digital mengubah wajah dunia, menjebol sekat-sekat komunikasi, menghubungkan warga dunia melalui ujung jari.

Selain merobohkan pakem komunikasi lama, percepatan teknologi digital juga memproduksi bertumpuk-tumpuk persoalan. Kita dimanjakan sekaligus dijebak oleh kecepatan informasi. Kejahatan di jalanan yang terjadi satu menit lalu, semenit kemudian tersebar menjadi berita. Mata rantai viralisme sambung menyambung menjadi satu. Tanpa kontrol, tanpa sikap kritis, tanpa akurasi.

Warga dunia tengah menyongsong dunia baru, yang menurut Jeremy Heimans dan Henry Timms, akan menggeser kekuatan struktur pemerintahan formal ke tata kelola informal berbasis jaringan. Peran individu mendapat porsi tertinggi. Kolaborasi dan sinergi antar individu, antar kelompok, antar jamaah atau sekumpulan kekuatan yang melibatkan orang banyak menjadi kekuatan yang mengalir.

Kekuatan masyarakat yang berjejaring dan bersinergi, menurut sosiolog Spanyol Manuel Castells, menghasilkan “kekuatan aliran” yang menandingi “aliran kekuatan.” Lembaga formal, media mainstream, public relation pemerintah, kurikulum pendidikan nasional, ustadz seleb merupakan agen “aliran kekuatan”. Tumbuh semacam ketidakpercayaan atau bahkan kecurigaan tertentu terhadap para agen yang disinyalir berasal dari kran pusat kekuasaan.

Fantasi dan kenyataan berkelebatan mengisi ruang kesadaran, campur aduk, urap jadi satu. Kesadaran hopotesis tumpang tindih. Persoalannya, bagaimana individu-individu itu mengatasi hiperealitas—konsekuensi logis dari jebolnya bendungan arus informasi—sementara pada saat yang sama mereka mengetahui tapi belum sepenuhnya mengerti mengapa “aliran kekuatan” yang tampil di publik berwajah ganda.

Mengapa berita kejahatan, berita peresmian jalan tol, berita arek tawur, berita penangkapan koruptor dikemas secara menarik sekaligus memuakkan? Mengapa di tengah dominasi arus informasi yang dikemas secara estetik namun juga destruktif tumbuh subur media-media alternatif?

Jawabnya terletak pada karakter yang didambakan oleh kekuatan baru: transparansi dan komitmen budaya do it your self. Kita mengalami fase pembusukan dunia lama yang akut.

Merekonstruksi Kembali Cara Berpikir

Kekuatan baru tidak hanya ditandai oleh munculnya konektivitas digital. Aksi kolektif “offline” juga menjadi bagian dari fenomena lahirnya kekuatan baru. Berkumpulnya anak-anak muda dan jamaah pada setiap acara Sinau Bareng merupakan kolaborasi antara konektivitas digital dan aksi kolektif.

Beberapa hari lalu, ketika Sinau Bareng yang digelar di halaman parkir GOR Delta Sidoarjo, anak-anak muda telah memadati area sekitar panggung. Padahal baru pukul 19.00 WIB, dan mereka rela menunggu sekitar dua jam lagi.

Fenomena itu lazim kita jumpai bukan hanya ketika Maiyahan diselenggarakan di perkotaan—kesetiaan itu juga terlihat di desa atau dusun, tanah-tanah lapang atau perbukitan, gedung pertemuan atau pinggir hutan—seraya tetap mensyukuri hujan dan tanah blethok.

Aksi kekuatan baru yang digerakkan oleh kolektivitas digital, yang dimotori oleh kolaborasi dan keterlibatan orang banyak, tidak cukup utuh untuk mampu membentuk dunia yang benar-benar baru. Bahkan jurnalisme kolektif sebagai salah satu bentuk “gerakan wartawan” kadang membius publik dengan pemberitaan berwajah ganda.

Maka, kita wajib bertanya: dunia baru macam apa yang tengah menggelinding saat ini? Dunia baru dengan kemiringan-kemiringan baru? Dunia baru dengan penguasa-penguasa baru? Dunia baru dengan dialektika pola mobilisasi baru, tetapi pusat hulu dan hilirnya tetap dikendalikan dunia lama?

Do It Your Self, Ibda’ Binafsik!

Tidak heran apabila Maiyah memiliki sejumlah formula untuk menegakkan kembali kemiringan-kemiringan itu. Jamaah Maiyah, terutama anak-anak muda kerap disebut sebagai generasi baru, qoumun akhor, yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. Ini paradigma bukan hanya meruntuhkan cara pandang sekuler yang hingga saat ini masih menjadi “rahim” bagi kelahiran dunia baru tersebut.

Qoumun akhor, anak-anak muda, generasi Maiyah telah lahir kembali, akan lahir kembali, dan selalu lahir kembali sebagai hibrida pemikiran baru. Terbuka, transparan, seimbang, waspada, do it your self, ibda’ binafsik, mulailah dari diri sendiri merupakan sejumlah “kenekatan” yang tumbuh setelah mengikuti Maiyah.

Apakah mereka digerakkan oleh mobilisasi politik massa? Pasti tidak, karena mereka bukan objek. Mereka adalah subjek yang menyubjeki diri mereka sendiri. Mereka utuh, padu, seimbang—antitesis dari fenomena khas dunia modern yang berwajah ganda, bermuka stereotip, berpikiran dikotomis, bersikap hitam putih. Merekonstruksi kembali cara berpikir adalah menu makanan mereka sehari-hari.

Dan lihatlah bagaimana Maiyah tidak sekadar penanda bagi fenomena kelahiran dunia baru “kelak”. Saat ini pun manakala beribu-ribu jamaah menemukan momentum “Oh iya ya” lalu terbuka pintu-pintu ilmu dan hidayah, pada saat itu pula dunia baru telah lahir dan bersemayam dalam diri setiap jamaah.

New Power yang ditulis Jeremy Heimans dan Henry Timms semoga tidak menciptakan ketimpangan baru di tengah kenyataan hidup manusia yang menjadi kepingan-kepingan. Mengapa? Manusia masih dijadikan objek dan sasaran political will. Digiring, dimobilisasi, dicacah, dikapling-kapling sedemikian rupa sehingga yang tersisa hanya ambisi untuk berkuasa dan saling menguasai.

Kekuatan baru yang kita dambakan dan terus menggelinding tidak terutama dikendalikan oleh hegemoni ikatan digital yang absurd, melainkan berakar pada pribadi-pribadi yang memiliki keseimbangan dan kewaspadaan. Ketika pribadi-pribadi itu berkumpul, berkolaborasi dan bersinergi alangkah dahsyat energi yang dihasilkan. []

Jagalan, 220718